Cold CEO & Cute Girl

Cold CEO & Cute Girl
Awal Yang Tidak Terlalu Buruk



Ternyata seseorang itu adalah orang yang sudah lama berkerja di rumah besar ini.


"Selamat datang di rumah ini Nona, Saya Bi Endang yang akan membantu jika Nona membutuhkan bantuan saya. Apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya bi Endang.


"Untuk barang-barang saya, saya bisa merapikan sendiri bi. Apakah sekarang saya bisa diantarkan untuk berkeliling rumah ini? Saya ingin lebih mengenal rumah ini agar bisa ikut membantu bibi," ucap Rena dengan sopan pada wanita paruh baya yang ada di depannya.


"Nona tidak perlu membantu bibi, sudah tugas saya untuk membersihkan rumah. Baik saya akan antarkan nona berkeliling." ucap bi Endang dengan tersenyum.


Kemudian Rena pun diajak mengelilingi rumah yang cukup besar itu. Dari sudut hingga sudut, dari tempat bermain anak-anak hingga ruang kerja Allan. Semua nya bi Endah tunjukkan pada Rena. Di rumah besar ini juga ada taman yang cukup indah. Kata bi Endang taman ini merupakan spot favorit nyonya besarnya.


Lalu mereka berpindah tempat ke dapur. Spot yang cukup membuat Rena penasaran, apalagi Rena cukup senang dalam membuat berbagai hidangan. Selain dapur kotor, di sini juga ada dapur kotornya. Penampakan dapur di rumah ini seperti dapur idaman yang Rena harapkan suatu hari nanti. Karena hampir semua bahan dapur ada di sini, dari bahan untuk makanan berat dan sekaligus bahan untuk membuat makanan manis juga ada.


Kata bi Endang, nyonya mereka suka sekali membuat camilan untuk anak-anak. Maka dari itu semua bahan ada di dapur ini. Ini juga cukup menguntungkan Rena, karena Rena juga memiliki hobi yang sama dengan Fara.


Setelah berkeliling, tidak lama setelah itu Alea dan Ian sampai di rumah. Mereka di temani Fathur dan sus Rini tengah bermain di ruang bermain. Langit sudah hampir gelap, Rena pun membantu sus Rini untuk memandikan anak-anak. Setelah itu, Rena meminta sus Rini untuk menemani anak-anak bermain lagi. Sedangkan Rena akan membantu bi Endang untuk menyiapkan makan malam. Awalnya bi Endang tidak mengizinkan Rena untuk membantu di dapur. Namun karena Rena memaksa, apa boleh buat akhirnya dia memperbolehkan Rena untuk ikut memasak.


Hidangan satu persatu sudah tersaji di meja makan, lalu kemudian Rena pun memanggil anak-anak untuk makan. Sus Rini yang menyuapi Ian makan, sedangkan Alea sudah terbiasa makan sendiri. Fathur pun di minta Rena untuk mencoba masakan buatannya. Bi Endang juga ikut di undang untuk makan bersama.


Selagi semuanya mencoba setiap masakan, Rena masih sibuk di dapur untuk mengupas buah-buahan untuk hidangan penutup. Bi Endang yang melihat nyonya mudanya sibuk di dapur pun langsung menyusulnya. Namun dengan sigap Rena meminta bi Endang untuk kembali makan lagi. Bi Endang hanya bisa menuruti nyonya mudanya ini.


Setelah semuanya siap, Rena kembali ke meja makan dan meletakkan buah yang sudah dia potong ke atas meja. Fathur yang sudah memperhatikan Rena yang terlalu sibuk sendiri dari tadi, meminta Rena untuk memulai makan malamnya.


"Nona, silahkan makan terlebih dahulu. Untuk urusan yang lain masih ada bi Endang dan yang lainnya," ucap Fathur.


"Baiklah, saya tidak akan melakukan sesuatu lagi. Mari makan semuanya," ucap Rena.


"Masakan Nona enak sekali," puji Sus Rini.


"Masih dibantu bi Endang kok sus, makan yang banyak ya," ucap Rena sambil tersenyum karena semua orang puas dengan masakan buatanya.


"Ian suka masakan kakak," ucap Ian.


"Iya, Alea juga suka. Besok Alea mau dibuatkan bekal sama kakak boleh?" tanya Alea.


"Boleh dong, okey Alea ya yang minta. Besok kakak buatkan bekal dan harus di habiskan," ucap Rena.


"Siap kakak," jawab Alea.


Untungnya situasi di meja makan tidak terlalu canggung seperti yang sudah di bayangkan Rena. Setelah semua selesai makan, bi Endang segera merapikan meja di bantu Rena. Namun saat Rena ingin membantu mencuci piring, bi Endang melarangnya. Sebenarnya Rena ingin memaksa, tetapi karena Fathur sudah lebih dulu mengajaknya untuk berbicara, dia pun tidak bisa memaksa lagi.


"Nona, ini adalah kamar utama tempat Nyonya Fara dan Tuan Allan beristirahat. Letaknya persis di depan kamar nona, untuk kamar anak-anak masing-masing berada di ujung kanan dan kiri. Berada satu area dengan kamar nona dan tuan juga nyonya," ucap Fathur.


"Oke. Ada yang perlu saya tahu lagi?" tanya Rena memastikan.


"Nyonya Fara meminta untuk disiapkan beberapa pakaian. Nona sudah diizinkan nyonya untuk masuk ke dalam kamar utama ini,"


"Untuk Tuan Allan mu, apa malam ini dia menginap di rumah sakit?" Tanya Rena.


"Sepertinya iya nona. Sedari nyonya di rawat hingga saat ini, tuan selalu tidur di rumah sakit. Kalau begitu saya permisi, jika sudah siap nona bisa mencari saya di ruang tamu,"


Setelah itu Fathur pun langsung berjalan pergi ke ruang tamu. Sedangkan Rena mulai berjalan masuk ke kamar utama. Besar kamar utama dengan kamar yang ditempati Rena ternyata memang hampir sama. Ada satu perbedaan yang tampak jelas, jika dikamar ini terpasang foto pernikahan Allan dan Fara, maka di kamar Rena tidak ada foto seperti itu.


Setelah melihat foto yang sedikit mengaburkan tujuannya, dia pun segera mengambil tas besar dan mengisinya dengan beberapa pakaian Fara. Rena juga berinisiatif menyiapkan satu set pakaian tidur untuk Allan dan satu set pakaian kantor untuk Alan kenakan besok pagi. Setelah semua siap, dia segera keluar dari kamar itu lalu berjalan ke ruang tamu untuk menemui Fathur.


"Semua sudah ada di dalam, titipkan salam gue untuk kak Fara. Besok sebelum ke kampus, gue akan mampir rumah sakit."


"Baik nona, besok nona bisa minta tolong pak Didit untuk mengantarkan nona ke rumah sakit dan juga kampus. Itu sudah menjadi fasilitas di rumah ini untuk nona," ucap Fathur.


"Oke, boleh kalau emang seperti itu. Gue jadi bisa hemat ongkos ke kampus juga,"


"Kalau begitu saya pamit nona," ucap Fathur.


Rena pun hanya menjawab dengan anggukan kepalanya. Setelah itu Rena pun berjalan kembali ke kamarnya. Saat dia memegang gagang pintu, ada Alea yang memanggilnya.


"Kakak," ucap Alea.


"Hi, kok belum tidur kamu?" tanya Rena.


"Alea dari tadi tungguin kakak buat bacain cerita sebelum tidur," ucap Alea.


"Oh iya, kakak sampai lupa. Okey ayo kita baca buku cerita dan tidur,"


Rena hampir lupa jika kebiasaan Alea sebelum tidur adalah dibacakan buku cerita. Kemudian dia pun membacakan cerita pada Alea, setelah itu dia keluar kamar Alea. Lalu dia masuk kamar Ian, melihat Ian dan sus Rini sudah tidur dia pun segera menutup pintu kamar kembali. Dia tidak ingin mengganggu tidur mereka. Lalu Rena berjalan ke kamarnya.


Ini kali pertama Rena tidur di rumah besar keluarga Pratama. Dia pun merasakan susah untuk tidur, jadi dia mengambil inisiatif untuk membuka handphonenya. Ternyata ada beberapa pesan dari Ajeng yang bertanya kenapa tidak menunggu dia sebelum pindah? Rena masih memikirkan kejadian yang dia lihat tadi siang, jadi dia masih cukup malas membalas pesan Ajeng. Namun ada pesan lain yang membuat Rena tertarik, ada pesan dari Gilang. Segera dia buka pesan itu,


...***...