
Sikap Allan hanya membeku mendengar suara Rena yang cukup tinggi dan penuh penekanan. Karena tidak cukup sanggup menatap mata Rena, dia pun kembali menundukkan kepalanya.
Hati Rena pun benar-benar dibuat luluh oleh sikap Allan. Seseorang yang berada didepan dia sekarang berbeda 180° dari biasanya. Dia menjadi seorang yang pendiem, penakut, dan penuh dengan keraguan. Berbeda dengan Allan yang Rena kenal, dimana dia bisa dengan percaya diri mengangkat kepalanya. Menjawab semua yang dia rasa benar dan tidak suka diintimidasi, apalagi karena biasanya dialah yang mengintimidasi.
Rena perlahan mendekat pada Allan, lalu bertanya sekali lagi dengan nada yang lebih lembut.
"Pak Allan jawab pertanyaan Rena. Kenapa pak Allan mau nyusul mereka? Mereka itu siapa? Orang tua pak Allan sama kak Fara? Kenapa?"
"Buat apa aku ada disini lagi? Mereka udah pergi, kamu juga akan pergi lagi kan? Kamu disini cuman untuk jenguk, lalu besok dan seterusnya gimana? Menghilang dari kehidupan aku kan?" ucap Allan pada Rena.
"Kok bisa kamu punya pikiran itu sih pak? Dangkal sekali pikiran pak Allan. Pak Allan lupa? Di rumah ada anak-anak yang sedang menunggu pak Allan pulang..."
"Dengan warisan yang saya punya, mereka bisa hidup sendiri dengan itu semua sampai dewasa.." ucap Allan dengan pikirannya yang masih cukup kacau.
"Kamu tega biarin mereka tumbuh sendiri tanpa adanya sosok ayah? Kamu tau? Di luar sana ada banyak anak yang mau punya ayah. Emang mudah tumbuh dewasa tanpa adanya sosok ayah? Apalagi untuk Alea, nggak akan mudah pak.." ucap Rena sambil tidak sengaja meneteskan airmata.
Rena berani mengatakan hal demikian karena dirinya sendiri juga sudah mengalami hal itu. Dia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika dia dan Fathur terlambat datang. Agar air matanya tidak menetes lagi, dia pun mengalihkan pandanganya ke langit-langit ruangan. Dia harus bersikap cukup tenang agar bisa membantu Allan.
"Hei.. Jangan gini, maaf ya. Aku tahu aku salah.." Ucap Allan sambil menatap mata Rena.
Rena pun menarik nafas dalam-dalam lalu kemudian berjalan semakin dekat ke arah Allan. Saat jarak mereka sudah sangat dekat, Rena pun membuka lebar kedua tangannya. Dia menatap mata Allan mengisyaratkan bahwa dia mengizinkan Allan untuk memeluk dia. Dengan posisi ini Rena memiliki pikiran lain yang dia ucapkan dalam hatinya.
'Aku akan berhitung sampai sepuluh detik. Jika pak Allan tidak menerima pelukanku, aku akan benar-benar mulai merelakannya.. Satu.. Dua.. Tiga.. Empat.. Lima........'
Benar saja, di detik kelima sebelum detik sepuluh di hitung Allan memeluk Rena. Ada senyum yang merekah lebar saat mendapat pelukan dari Allan. Rena masih tidak menyangka jika dia bisa mendapat apa yang selama ini selalu tidak dia dapat. Selain itu dia juga bisa sekaligus menepati janjinya pada kak Fara.
Di dalam pelukan Allan, Rena mengizinkan Allan untuk menangis jika dia memang ingin melakukan itu.
"Pak Allan harus tahu, menangis itu boleh dalam kondisi apapun. Bahkan di haruskan jika kita benar-benar cukup bersedih. Tidak ada yang lemah hanya karena kita menangis. Terkadang karena menangis lah kita semakin kuat. Rena tahu jika pak Allan mempunyai ketakutan akan beberapa hal. Yang harus pak Allan ingat, Rena ada disini untuk pak Allan.." ucap Rena dalam pelukan Allan.
Setelah mendengar ucapan Rena, perlahan Allan pun mulai menangis. Dia meluapkan segala kesedihannya selama ini. Dia semakin memperkuat pelukannya pada Rena, sama seperti seorang anak yang takut kehilangan yang dia hargai lagi. Allan pun melakukan hal yang sama pada Rena. Di tengah tangis nya, dia melepas pelukannya pada Rena. Dia menatap wajah Rena, sedangkan Rena menyeka air mata yang mengalir di wajah Allan. Allan pun juga melakukan hal yang sama pada Rena dan setelahnya dia menggenggam kedua tangan Rena erat-erat.
"Aku mau bilang sama kamu, meskipun kamu belum mulai menyukai aku, tapi aku sudah menyukai kamu sejak awal. I Love You Rena." ucap Allan sambil menatap dalam mata Rena.
Rena pun tersenyum karena mendapatkan respon yang tidak terduga. Rena mengangguk - anggukan kepalanya lalu berkata,
"I Love You too pak Allan.. Rena juga sudah memiliki perasaan yang sama pada pak Allan.." ucap Rena sambil tersenyum.
"Kita mulai semuanya dari awal ya? Aku akan menjaga kamu sebaik mungkin..." pinta Allan pada Rena.
"Iya pak Allan, kita mulai dari awal.." jawab Rena sambil tersenyum bahagia.
Pernikahan yang awalnya tidak dilandasi dengan perasaan pun sudah berbuah manis. Apalagi dengan sikap Allan yang cukup manja pada Rena. Allan tidak perduli lagi akan ada apa di depan sana. Dia akan melakukan yang sudah seharusnya dia lakukan. Tidak menahan untuk terus memperlihatkan rasa cintanya pada orang terkasih.
Seperti sekarang, setelah mereka berbaikan Rena meminta Allan untuk beristirahat. Namun Allan belum mengantuk, dia pun berbaring di ranjang rumah sakit sambil melihat Rena yang sedang membereskan kekacauan akibat perbuatannya. Allan sudah meminta Rena untuk dibiarkan saja, karena besok pagi pasti ada cleaning service yang akan membersihkan itu. Namun Rena tidak bisa tinggal diam melihat ruangan yang cukup kacau. Setelah bersih-bersih Rena pun kembali duduk di sebelah Allan.
"Awas ya kalau pak Allan ulangi lagi hal tadi. Rena nggak akan bersihin hasil kekacauan perbuatan pak Allan.." ucap Rena.
"Kok masih panggil pak sih, panggilnya pakai panggilan lain aja.." pinta Allan.
"Panggilan lain? Apa contoh pak?" tanya Rena belum mengerti yang di maksud Allan.
"Terserah, asalkan jangan pak.." jawab Allan sambil tersenyum.
"Hmm kalau kakak boleh nggak? Cuman ini yang terpikirkan sama Rena,"
"Boleh, panggil itu setiap hari ya.."
"Jangan gitu, bukannya Rena nggak mau. Tapi kalau di depan anak-anak, aku harus panggil pak Allan seperti biasa aja. Atau mungkin akan panggil papa?"
"Kok gitu sih kamu? Bahkan aku ini suami kamu bukan papa kamu,"
"Rena tahu, tapi kan untuk membiasakan anak-anak agar terbiasa juga. Jadi aku ya harus panggil seperti yang seharusnya. Pak Allan Faham maksud Rena?"
"Okey, tapi karena kita sekarang cuman berdua. Jangan panggil pak lagi ya, barusan aku denger kamu panggil aku pak." ucap Allan sambil menunjuk ekspresi kecewanya.
"Okey maaf belum penyesuaian, nah kita kan udah bahas panggilan. Saatnya buat pak, eh maksudnya kak Allan istirahat.."
"Good Night, setelah aku tidur kamu juga harus susul tidur ya.."
"Iya.. Good Night.." ucap Rena sambil merapihkan selimut yang ada di atas Allan.
...***...