
30 menit setelah itu anak-anak pun sudah terlelap dalam tidurnya. Rena dengan lembut menarik selimut Alea dan Ian. Beberapa saat ini mereka memang menjadi tidur dalam satu kamar dengan dua kasur yang berbeda. Ini karena Alea yang masih ingin di temani saat tidur dan belum berani untuk tidur sendiri lagi. Ini juga sudah menjadi keputusan Rena, dia cukup tahu jika seorang anak sudah mulai kehilangan keberaniannya, yang harus dilakukan orang dewasa hanyalah membangun keberanian dia dari awal lagi. agar. Salah satunya dengan menyetujui untuk Alea dan Ian bisa tidur dalam satu kamar. Ini juga untuk mempermudah dalam mengawasi mereka saat tidur.
Setelah itu Rena pun keluar kamar dan bertemu dengan sus Rini di depan kamar. Sus Rini tersenyum pada Rena, namun gerak gerik sus Rini membuat Rena cukup penasaran. Seperti ada sesuatu yang ingin di sampaikan tapi juga masih ada keraguan dalam hatinya. Rena pun bisa membaca situasi ini, dia mulai berinisiatif mulai mengajak sus Rini berbicara dahulu.
"Ada yang mau sus Rini bicarakan pada saya?" tanya Rena dengan lembut.
"Saya hanya ingin melaporkan, jika tadi saya sudah mencoba untuk menghubungi tuan Allan. Namun oleh tuan Allan pesan saya tidak di balas dan satu telepon saya tidak di angkat tuan. Jadi saya hanya bisa mencoba untuk menenangkan anak-anak dengan dalih bahwa nona akan segera datang. Maaf kan saya ya nona," ucap sus Rini dengan menundukkan kepalanya.
"Nggak apa-apa kok sus, untung saja hari ini anak-anak tidak tantrum terlalu parah. Kalau begitu sekarang sus bisa masuk untuk menemani anak-anak tidur ya." ucap Rena yang di jawab anggukan sus Rini.
Sus Rini pun segera masuk ke dalam kamar anak-anak seperti yang sudah diperintahkan Rena. Dia merasa beruntung karena bisa mendapatkan majikan sebaik Rena. Dengan di terima di keluar Pratama ini, dia juga mulai bisa menghidupi seluruh anggota keluarganya. Walaupun sesekali dengan mood Allan yang naik turun bisa membuat hati sus Rini sedikit terluka. Namun berkat adanya Rena dia bisa meminimalisir hal itu.
Setelah kepergian sus Rini, dia pun segera berjalan ke kulkas untuk mengambil dua varian kue. Lalu kemudian dia masukan kedalam microwave. Sambil menunggu microwave dia pun kembali memikirkan apa yang sudah sus Rini katakan padanya.
'Apa kak Allan sudah sadar dan menjadi kak Allan yang dingin seperti biasanya ya? Kalau gue bawain kue, dia mau makan nggak ya? Yaudah deh nggak apa-apa, usaha dulu aja. Percaya diri aja dulu, perihal di terima atau di tolak urusan lain. Lagian aku belum makan, habisin dua kotak kue ini juga nggak rugi.' batik Rena.
Setelah memanaskan kue di microwave, dia pun meminta pak Didit untuk mengantarkan dia ke rumah sakit. Dengan sigap pak Didit pun mengiyakan perintah Rena. Mereka pun kini tengah berada di perjalanan menuju ke rumah sakit.
......................
Beberapa Jam Sebelum Itu
Di Rumah Sakit
Sudah pukul 19.00 namun Rena juga belum ada kabar sama sekali. Padahal dia sudah meninggal Allan sedari pagi hingga kini. Hal ini membuat Allan cukup kesal dan ingin meluapkan amarahnya. Fathur juga masih setia menemani Allan sampai saat ini, yang dia bisa langsung selain menemani tuannya adalah fokus pada pekerjaannya.
Tidak lama setelah itu Allan pun mendapat pesan dari Rena. Namun bukannya senang dia malah cukup kesal. Dia pun memilih untuk tidak membalas pesan Rena. Lalu kemudian ada suster yang mengantar menu makan malam untuk Allan. Allan pun hanya melihat suster itu tanpa berbicara sepatah kata pun. Karena merasa situasi cukup tegang Fathur pun meminta suster untuk meletakkan makan malam itu di meja.
"Apa tuan Allan mau saya membantu tuan untuk menyiapkan setiap hidangan di atas kasur?" tanya Fathur pada Allan sambil berjalan mendekat.
"Nggak perlu, untuk makan siang tadi saya masih berbaik hati tetap memakan makan siang rumah sakit. Tapi malam ini kesabaran saya sudah habis. Bisa-bisanya dia tidak mengirim satupun pesan pada saya.. Kamu kembalilah bekerja di sana," ucap Allan pada Fathur. Fathur pun mendengarkan apa yang di perintahkan. Setidaknya tuan besarnya tidak melakukan hal-hal yang akan merugikan dia seperti sebelumnya.
Tidak lama setelah itu Rena pun datang. Rena yang belum mengetahui situasi pun bersikap biasa saja. Dia berjalan mendekati kasur Allan, setelah itu dia melihat beberapa menu makan malam yang belum di sentuh sama sekali. Rena pun akhirnya mencoba untuk bertanya pada Allan.
Jika kalian sering melihat anak kecil yang sedang merajuk, ini adalah ekspresi yang sama yang tampak terukir jelas di wajah Allan. Respon Allan hanyalah diam saja sambil melihat dinding sisi lainnya. Allan merasa cukup kesal pada Rena hingga dia tidak ingin memandang wajah Rena sama sekali.
Setelah mendapatkan respon demikian dari Allan, dia pun melihat meja tempat Fathur sedang mengerjakan pekerjaannya. Tidak ada makanan ataupun cemilan yang berada di atas meja itu. Hanya ada beberapa file dan laptop untuk Fathur bekerja. Rena pun mendekat pada Fathur, dia memberikan satu kotak kue yang dia bawa untuk dimakan Fathur. Lalu kemudian dia bertanya pada Fathur,
"Fathur, sudah makan malam belum?" tanya Rena pada Fathur.
"Belum nyonya, tapi saya juga masih belum cukup lapar. Nyonya tenang saja. Jika saya sudah lapar pasti akan segera pergi ke luar untuk mencari makan."
"Sudahlah mau tunggu apa lagi kamu, perkara makan malam jangan di tunda. Ini buat beli makanan favorit pak Allan, kamu pesan 3 porsi sekalian ya. Saya tunggu disini, saya juga belum makan malam.." ucap Rena pada Fathur. Fathur pun segera pamit pada kedua bosnya dan langsung menuju ke restauran favorit Allan.
Sambil menunggu Fathur, Rena pun di ruang kamar Allan mencoba untuk mencari tahu mengapa suaminya bisa mendiamkan dia.
"Rena masih bisa panggil kak nggak? Atau mau di panggil pak lagi?" tanya Rena mencoba untuk memancing Allan bersuara.
"Awas aja kalau kamu panggil pak, aku ini suami kamu bukan orang asing.." jawab Allan dengan nada dinginnya pada Rena.
Rena pun mencoba untuk kembali berbicara.
"Kak Allan kok diemin Rena? Rena salah apa? Kasih tau Rena dulu, biar Rena bisa perbaiki," tanya Rena pada Allan.
"Kamu nggak sadar kalau seharian ini itu kamu nggak kasih kabar atau hubungi aku sama sekali? Aku ini suami kamu, terlebih aku lagi terbaring sakit di rumah sakit. Tega banget sih kamu.." ucap Allan dengan nada yang manja dan ekspresi kesalnya.
Setelah mengetahui apa yang terjadi, Rena pun cukup merasa gemash pada suaminya ini. Usianya memang jauh lebih tua darinya, namun sikapnya saat bermanja sudah melebihi jurus yang biasanya Rena lakukan pada sahabatnya. Tanpa sadar dia pun tersenyum dan hanya menjawab dengan ucapan yang membuat Allan semakin kesal.
"(tersenyum) Jadi karena itu kak Allan diemin Rena bahkan nggak balas chat Rena?"
"Menurut kamu? Kamu kok makin bikin kesel sih.. Ih, terserah.. Nggak usah disini, mending kamu ke tempat temen-temen kamu aja. Ngerjain tugas kok sampai lupa waktu, bahkan sampai lupa kalau udah punya suami yang perlu di urus.." gerutu Allan pada Rena.
...***...