Cold CEO & Cute Girl

Cold CEO & Cute Girl
Rumah Sakit(1)



"Argh.. Sakit..." teriak Zanna dan Abel bersamaan. Lalu kemudian Di susul dengan Rama dan Galieh yang juga sama-sama merintih kesakitan. Rena yang belum terlalu jauh dari mereka pun sampai berbalik dan kembali. Rena menghampiri mereka dan bertanya,


"Kok bisa semuanya jadi kesakitan gini? Why? Rangga, lu juga sakit perut?" tanya Rena memastikan apakah Rangga juga merasakan yang sama tapi di tahan dia.


"Gue aman, nggak lagi sakit perut kayak mereka."


"Sakitnya tuh nggak kayak biasa, sakit banget woy.. Argh..." ucap Zanna.


"Rangga, kita anterin mereka ke rumah sakit terdekat.." ajak Rena pada Rangga yang langsung di iyakan Rangga.


Mereka pun berangkat ke rumah sakit terdekat. Di sepanjang jalan pun mereka seperti berlomba siapa yang paling kencang teriaknya. Rena dan Rangga yang panik pun hanya bisa menenangkan mereka sebisanya. Sesampainya di rumah sakit mereka langsung dilarikan ke IGD. Rena dan Rangga hanya bisa menunggu mereka dari luar saja.


Setelah beberapa menit, dokter pun keluar. Dokter mengatakan bahwa mereka sakit perut di karenakan keracunan suatu makanan. Saat dokter mengatakan keracunan makanan, secara otomatis Rena dan Rangga saling pandang. Mereka tahu kemungkinan besar keracunan nya itu karena makanan yang sore tadi di makan di dalam kelas.


Setelah dokter mengatakan hal itu, beliau juga menganjurkan agar mereka bisa menginap satu hari satu malam di rumah sakit. Rena dan Rangga pun secara bersamaan menyetujui itu. Sebelum dokter pergi, beliau memberikan resep obat yang harus di tebus di apotik rumah sakit.


Rena pun menawarkan diri agar dia saja yang membeli obatnya, sekalian dia ingin menelepon Allan, dia mau izin bahwa hari ini dia tidak bisa pulang tepat waktu.


Rangga pun menyetujui dan dia memilih untuk masuk ke dalam ruangan IGD. Setelah dia masuk, semua teman-teman dia sekaligus Zanna dan Abel pun hanya bisa diam. Mereka tahu bahwa raut wajah Rangga saat ini cukup dingin. Dari tatapan wajah Rangga pun, mereka tahu pasti bahwa dia akan segera marah besar.


"Bagus ya, lanjutin aja makan-makanan yang nggak sehat! Besok beli yang lebih banyak, gue yang bayarin. Udah beli aja."


"Ya sorry, kita kan... Itu... Lagi... Itu..." jawab Rama yang bingung harus menjawab Rangga. Sementara dia ingin melindungi Abel agar tidak terkena marah Rangga. Apalagi yang beli camilan itu adalah Abel.


"Ngomong tuh yang jelas.. Ngomong apaan sih lu Ram?" tanya Rangga.


"Jangan salahkan mereka, gue kok yang salah. Gue cuman bisa say sorry karena udah ngerepotin lu." ucap Abel.


Respon rangga hanya mengangguk saja. Karena mau bagaimana pun Abel juga tidak mengira bahwa makanan yang dia beli bisa membuat keracunan. Sambil menunggu Rena, Rangga pun bertanya apakah ada yang mau di belikan dia di kantin. Namun mereka tidak menjawab, dengan Rangga dan Rena yang mau menemani dan mengantar saja sudah cukup.


Akhirnya masing-masing pun sibuk dengan ponselnya, sedangkan Rangga berjalan keluar untuk mencari kantin.


10 menit sebelumnya


Setelah mendapatkan resep dari dokter, Rena pun berjalan ke apoteker untuk menebus obat. Niatnya dia akan menelpon Allan nanti saat dia sedang mengantri obat. Setelah menyerahkan resep, Rena pun duduk di bangku depan apoteker.


Dia pun mengeluarkan handphone dan segera mencoba untuk menghubungi Allan. Namun saat Rena sedang mengetik ada suster yang sedang bergosip. Mereka bergosip dengan suara yang cukup jelas hingga membuat fokus Rena teralihkan.


"Sus Fina tahu nggak, di taman dekat lorong depan. Ada dokter co *** sama perawat magang yang lagi berantem. Dari yang terdengar, kemungkinan mereka itu sepasang kekasih gitu..." ucap satu suster.


"Wah? Suster yakin? Jangan-jangan berantem karena orang ketiga lagi." ucap suster lainnya.


"Mungkin.. Eh.. Eh.. Sus, dokter co *** nya mau lewat sini.. Ssstt diem-diem."


Meskipun Rena tidak memperhatikan ekspresi suster yang sedang bergosip, tapi kurang lebih dia tahu pokok pembicaraan mereka. Tidak lama setelah mereka berkata bahwa dokter co *** berjalan ke arah mereka, penjaga apoteker pun memanggil nama Rena.


"Rena Salma wali dari pasien IGD." panggil penjaga apoteker.


Kemudian Rena pun berjalan untuk mengambil obat sahabat-sahabatnya. Sedangkan dokter yang tadi dibicarakan pun menghentikan jalannya. Dia berbalik dan berjalan ke arah Rena.


Dokter co *** tadi seakan berjalan ke arah suster yang sudah membicarakan dia. Suster yang tadi pun semakin ketakutan karena mereka sudah bergosip tentang dokter co ***. Sampai di mana dokter co *** itu mulai berbicara,


Setelah mengambil obat, Rena yang merasa di panggil pun membalikkan badannya. Dia terkejut karena ternyata dokter co *** yang suster bicarakan adalah Gilang. Spontan setelah Rena tahu bahwa dokter co *** itu adalah Gilang, dia berbalik arah melihat suster yang tadi sudah membicarakan Gilang.


Rena merasa suasana saat ini cukup lucu, sampai dia spontan tersenyum geli melihat para suster tadi. Namun suara Gilang membuyarkan suasana.


"Rena, lu sakit?" tanya Gilang khawatir, lalu dengan nalurinya dia langsung mengecek kondisi tubuh Rena dengan menyentuh dahinya.


"Nggak kok kak," jawab Rena.


"Terus ngapain di rumah sakit? Ambil obat lagi.." tanya Gilang.


Rena yang sedikit canggung karena ada suster yang sedang memperhatikan mereka, dia pun mengajak Gilang untuk berjalan sambil mengobrol.


"Sambil jalan aja gimana ngobrolnya?" tanya Rena.


Gilang pun menyetujuinya, dia mengajak Rena untuk berjalan ke ruang kerjanya. Karena kebetulan juga saat ini adalah jam istirahat dia. Kini Rena sudah sampai di ruang kerja Gilang, belum selesai Rena melihat sekeliling, dia sudah ditanyai Gilang lagi.


"Gimana?"


"Sorry kak, tadi ada suster jadi gue nggak enak kalau ngomong lu gue sama lu." ucap Rena menjelaskan.


"Ah elah, hal yang kayak gitu nggak usah di pikirin." ucap Gilang.


'Pantesan ada suster yang liat lu berantem sama Ajeng. Orang lu bertindak selalu nggak liat kondisi, katanya mau pemanasan jadi dokter. Dasar kak Gilang,' batin Rena dalam hatinya.


"Zanna sama sahabat gue lainnya. Mereka keracunan makanan dan berakhir harus nginep satu malam disini." ucap Rena.


"Lu sendiri nggak papa kan?" tanya Gilang khawatir.


"Aman, gue nggak ikutan makan. Jadi gue baik-baik aja sekarang."


"Bagus deh kalau gitu," Gilang pun berjalan ke kursi kerjanya lalu duduk.


"Wait, ada yang perlu gue tanyain sama lu kak," ucap Rena.


"Apa? Tanya aja,"


"Lu habis berantem sama Ajeng?" tanya Rena.


"Tahu darimana? Sebelum gue ketemu lu, dia udah ketemu lu duluan?"


"Nggak,"


"Bagus deh, kalau pun nanti ketemu dia. Udah nggak usah di dengerin dia. Lama-lama gue kesel sama, anaknya itu loh, kok cemburuan parah.." gerutu Gilang.


"Wait, sabar. Ceritain pelan-pelan ke gue.."


...***...