
Setelah berbicara dengan foto pernikahan Fara dan Allan, Rena pun menatap sosok laki-laki di sampingnya. Sebelum air matanya menetes terlalu deras, dia pun memilih untuk berbalik dan kembali ke kamar dahulu. Saat Rena akan melangkahkan kaki, Allan pun memegang tangan kanan Rena.
Sedari di antar ke kamar sampai sudah terbaring di ranjang, Allan memang belum benar-benar tidur. Dia hanya pura-pura tidur, efek alkohol yang cukup melekat padanya tadi perlahan menghilang. Dia tidak menyadari jika dengan berpura-pura tertidur bisa mendengar hal yang tidak di duga. Allan sama sekali tidak tahu menahu tentang wasiat dan janji Rena untuk Fara.
Fakta yang baru Allan tahu adalah bahwa Fara juga ingin dia dan Rena tetap bersama. Bukan seperti yang selama ini dia pikirkan. Selain itu dengan Rena berkata demikian, itu artinya Rena juga memiliki perasaan yang sama seperti yang Allan punya. Saat mendengar ucapan terakhir Rena jika dia ingin menyerah dan menghilang dari hidupnya, membuat Allan tidak lagi bisa pura-pura tertidur. Dia segera memegang tangan sebelah kanan Rena hendak menghentikan langkah Rena.
Rena pun cukup terkejut dengan apa yang terjadi. Dia melihat tangan kanannya yang di genggam Allan, lalu sesaat setelah itu Rena melihat ke arah Allan. Saat tahu jika Allan sudah terjaga dengan lembut Rena berusaha melepaskan genggaman Allan. Namun karena terlalu kuat, Rena pun tidak mampu melepaskan genggaman itu. Rena pun mulai mengajak berbicara Allan.
"Pak Allan sudah sadar? Maaf pak, tolong lepaskan genggaman tangan bapak.." ucap Rena dengan senyum yang terukir meski tampak di paksakan.
Perlahan Allan pun mencoba untuk mengubah posisinya dari terbaring tidur menjadi duduk. Dia menatap wajah Rena lekat-lekat, dia tidak bisa berkata-kata lagi. Dia cukup bahagia dengan apa yang dia dengar jika Rena juga menyukai dia. Namun dia tidak hanya mendengar kata itu saja, dia juga mendengar jika Rena ingin menyerah. Allan pun bingung harus memulai pembicaraan dari mana. Sampai kemudian Rena pun kembali memulai pembicaraan.
"Jika pak Allan sudah sadar, kemungkinan besar pak Allan sudah mendengar apa yang saya katakan. Jangan pasang wajah terkejut seperti itu pak. Bukankah seharusnya pak Allan cukup bahagia? Karena ini yang bapak tunggu selama beberapa hari ini." ucap Rena dengan tersenyum getir pada Allan.
Dia berbicara seolah tidak ada rasa suka yang dalam pada Allan. Padahal sebenarnya hati Rena sudah menjerit berkata jangan padanya. Senyum yang dipaksakan Rena masih terukir sampai sekarang.
Berbeda hal dengan yang dirasa Allan. Allan cukup bingung dengan situasi sekarang, otaknya masih belum bisa berpikir dengan baik. Apa yang dia lihat sekarang berbanding terbalik dengan apa yang dia dengarkan tadi. Allan bingung harus mempercayai yang mana, Rena yang berkata menyukai dia atau Rena yang ingin bercerai dengan dia? Sampai kata-kata Rena selanjutnya yang kemudian berhasil membuat Allan kembali tersadar.
"Saya permisi pak Allan. Saya akan segera merapikan barang-barang saya dan pergi dari rumah ini." ucap Rena pada Allan.
Rena pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar Allan, lalu langkahnya terus berjalan sampai ke dalam kamarnya. Harapan dia Allan bisa menghentikan dia dan melarang dia untuk pergi. Namun sampai dia sudah masuk kamar dan mencoba untuk mengemas barang, Allan pun tak kunjung datang. Dia pun menyemangati dirinya sendiri agar tetap kuat untuk melangkahkan kaki dari rumah besar ini.
"Rena.. Apaan sih yang lu harap? Hahaha.. Hiks.. Dia nggak akan nahan lu, stop mikir hal drama. Ini yang terbaik buat lu, lu pasti bisa.. Hiks... Semangat Ren... Mulai dari awal lagi ya..."
Setelah beberapa pakaian dan buku sudah dia masukan, dia pun membuka pintu kamarnya. Namun dia tidak bisa melanjutkan langkah, karena di depan pintu sudah ada Allan yang menghadang. Rena pun mengusap air matanya dan mencoba berbicara lembut pada Allan.
"Pak Allan permisi, terimakasih untuk semua hal yang terjadi.. Saya.. Saya akan sering datang berkunjung untuk menemui anak-anak jika di perbolehkan.." ucap Rena dengan senyum yang dipaksakan.
"Kata siapa kamu boleh pergi? Kamu nggak boleh pergi gitu aja!" ucap Allan pada Rena.
"Ini yang selalu ingin pak Allan katakan pada saya kan? Hanya kemarin-kemarin pak Allan tidak ingin mengatakan langsung, tapi dengan apa yang terjadi. Semuanya menunjukkan hal ini, pak Allan ingin saya meminta cerai pada bapak. Saya hanya melakukan apa yang bapak isyaratkan,"
"Pak Allan melarang saya karena apa yang saya katakan tadi?" tanya Rena dengan menatap yakin Allan.
Allan tidak bisa menjawab pertanyaan Rena, karena ada dua hal yang bisa jadi jawaban. Allan tidak tahu yang mana yang Rena pikir.
"Jika pak Allan diam, saya anggap iya.. Hiks.. Saya nggak bisa pak, saya permisi..." ucap Rena pada Allan, lalu dia pun memaksa untuk melewati Allan.
Saat Rena memaksa untuk melewati dia, Allan pun langsung memeluk Rena. Hanya ini yang Allan bisa lakukan untuk menahan Rena. Allan pun meluapkan apa yang dia pikirkan.
"Kamu tega tinggalin aku sendiri? Semua orang satu persatu udah tinggalin aku sendirian. Bahkan aku nggak punya teman yang setia selain Fathur. Fara juga mau kamu ada disini, please jangan tinggalin aku.. Hiks.. Hiks.."
Mereka pun menangis di dalam pelukan yang hangat sejenak. Namun apa yang dikatakan Allan membuat Rena semakin sedih. Dia ingin segera meninggalkan rumah ini demi kesehatan hatinya.
Karena Rena masih mencium aroma alkohol yang pekat di tubuh Allan, perlahan Rena pun melepaskan diri dari pelukan. Dia melihat ekspresi wajah Allan yang persis seperti Ian jika merajuk. Rena pun mencoba untuk berbicara pada Allan pelan.
"Pak Allan harus istirahat, Rena antar ke kamar pak Allan ya.." tawar Rena.
"Aku mau tidur di kamar kamu aja. Tidur sama kamu.." ucap Allan pada Rena.
"Okey, tidur di kamar Rena. Rena bantu ke kasur dan langsung tidur ya," ucap Rena dengan lembut. Dia bersikap seolah tidak ada yang terjadi.
Saat Allan sudah terbaring di ranjang, dia pun bergeser dan meminta Rena untuk tidur di sebelahnya. Awalnya cukup berat untuk Rena, namun akhirnya Rena pun mau berbaring di sebelah Allan. Agar Rena tidak kemana-mana Allan pun menggenggam tangan Rena. Tentu saja Rena tidak benar tidur. Setelah 30 menit kemudian Allan sudah tertidur dengan lelap, Rena pun mencoba untuk melepas genggaman Allan. Perlahan dia keluar kamar dan saat akan menutup pintu, Rena pun menatap Allan sejenak sambil berkata dalam hati.
'Rena minta maaf karena tidak pamit dengan baik. Tapi hanya ini yang Rena bisa lakukan, hiks... Apalagi pak Allan menghentikan Rena karena pak Allan tidak ingin mengecewakan kak Fara. Tapi dengan kenyataan ini membuat Rena semakin bulat untuk segera pergi dari rumah ini. Karena sampai kapanpun Rena nggak akan pernah mendapatkan cinta pak Allan. Cinta pak Allan sudah habis untuk kak Fara. Ini bertolak belakang sekali dengan apa yang Rena mimpikan sejak dulu. Rena ingin bisa dicintai dengan penuh cinta, karena cinta yang Rena harapkan selama ini belum Rena dapatkan dari keluarga Rena. Selamat tinggal pak Allan...' batin Rena dalam hati.
Dia pun kemudian menutup pintu kamar dengan cukup pelan dan segera berjalan keluar.
...***...