Cold CEO & Cute Girl

Cold CEO & Cute Girl
Rasa Sup Yang Berbeda



Setelah perbincangan singkat tadi, Gilang pun membawa Rena ke suatu tempat yang cukup familiar untuk Rena. Mereka pun turun lalu Gilang membantu membawakan koper yang dibawa Rena. Karena Rena belum faham dengan apa yang sedang dipikirkan Gilang, dia pun bertanya.


"Ngapain kita kesini kak?" tanya Rena bingung.


"Menurut lu? Gue udah nggak bisa biarin lu ngekos di luaran sana. Apalagi lengah dari pengawasan gue sebentar, lu udah nikah bahkan sama orang yang nggak cinta sama lu.." ungkap Gilang khawatir dengan Rena.


"Kenapa harus lu perjelas sih kak! Tapi beneran jangan bilang ke temen-temen gue dulu ya. Gue masih bingung harus ngomong kayak gimana,"


"Iya gue janji, udah ayo masuk. Kita ke yang punya kos dulu. Kebetulan kosan gue tinggal ini cewek cowok bisa, jadi gue juga bisa lebih gampang pantau lu." ajak Gilang.


Segera langsung mereka berjalan ke rumah besar yang ada di belakang kosan. Setelah menerima kunci kamar, Gilang pun langsung mengantarkan Rena ke kamarnya. Setelah itu Gilang juga membantu Rena untuk merapikan beberapa barang.


"Lu ke kampus jam berapa dek? Gue anter,"


"1 jam lagi ada kelas pagi sih kak. Tapi gue bisa kok ke kampus sendiri, lu kan habis shift malem. Pasti udah capek dan perlu istirahat."


"Udah santai aja, masih aman kok gue. Capek gue udah ilang dari tadi karena liat lu nangis di pinggir jalan,"


Ih gitu banget sih kak.. Tapi kelopak mata gue gimana? Keliatan bengkak gitu nggak?" tanya Rena lalu segera mendekatkan Wajahnya pada Gilang.


Sontak apa yang dilakukan Rena membuat Gilang terkejut. Meskipun dia sudah menganggap Rena sebagai adik, namun tetap saja mereka adalah dua orang asing yang akhirnya menjadi dekat karena terbiasa. Gilang pun langsung menjauhkan wajahnya dari Rena, lalu menatap Rena dengan tajam.


"Kenapa kak? Beneran bengkak ya?" tanya Rena takut jika nanti semua sahabatnya bertanya-tanya tentang penyebab maa bengkak dia.


"Nggak terlalu, tutup aja pakai make up. Kayak biasanya yang sering lu lakuin."


"Wah ide bagus kak, okey thanks. Wait ya gue dandan dulu terus lu udah bilang mau anterin gue,"


"Iya oke... Tapi lain kali itu kalau ngelakuin sesuatu hati-hati. Apalagi kalau lu lagi sama temen cowok lu, bisa ngebuat mereka ge-er ntar. Apalagi dengan status hubungan lu yang belum jelas," saran Allan pada Rena.


"Iya kak iya.. Tapi entah kenapa gue berharap pak Allan bisa punya sedikit perasaan ke gue. Meskipun cuman sedikit tapi itu udah cukup berarti buat gue," ucap Rena sambil melihat kalung berliontin cincinnya.


"Kalung dari mana itu?" tanya Gilang yang baru melihat kalung yang dikenakan Rena.


"Pemberian kak Fara, dia berharap suatu hari nanti gue dan pak Allan bisa pakai cincin ini.."


"Kok jadi melow lagi, udah buruan make up gue anter ke kampus. Buruan, gue tunggu di mobil.." ucap Allan lalu meninggalkan Rena sendiri di dalam kamarnya.


'Kak Fara nggak marah kan sama Rena? Rena tahu nggak seharusnya punya perasaan lebih ini ke pak Allan. Tapi perasaan ini muncul tanpa permisi, yang akhirnya membuat Rena tidak bisa hanya bertahan di rumah besar itu tanpa mendapatkan cinta pak Allan..' batin Rena sembari memegang kalung yang di pakainya.


Rena menghirup lalu menghela nafas panjang untuk menenangkan hatinya. Setelah dia telah merapikan make up, segera dia rapikan materi kuliahnya dan segera berangkat ke kampus. Di sepanjang jalan Rena hanya bisa diam saja, setelah teringat akan Allan dia tidak lagi bisa di ajak bercanda. Gilang pun tidak ingin semakin memperburuk mood Rena.


Sinar matahari yang masuk dari celah-celah gorden membuat Allan terbangun dari tidur nyenyak nya. Dia tidak membuka matanya, tapi tangannya fokus mencari sesuatu di samping tempat tidur luasnya. Saat dia tidak menemukan apa yang dia cari, segera dia buka kedua matanya. Dia memperhatikan sekitar namun tidak ada orang lain selain dia di kamar ini.


Allan mengusap kedua matanya, lalu dia pun berjalan ke dalam kamar mandi. Setelah mandi dia pun melangkahkan kaki ke meja makan. Seperti biasanya, sudah ada sarapan yang tersaji. Juga ada dua buah hatinya yang sedang menyantap sarapan.


Allan pun kembali mengedarkan pandangan sambil mengambil sup yang tersaji di meja. Setelah itu dia mulai mencoba sup yang dia sudah ambil, namun rasa sup yang dia makan sangat berbeda dengan sup yang beberapa hari ini dia makan. Tidak lama setelah itu bi Endang datang membawakan kotak bekal Alea dan Ian. Sebelum kembali ke dapur bi Endang pun dipanggil Allan.


"Bi Endang sebentar,"


"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya bi Endang pada bosnya dengan senyum ramahnya.


"Bukan Rena ya yang masak sup hari ini?"


"Bukan tuan, saya rasa karena nona pulang terlalu larut, jadi sekarang nona masih tertidur di kamarnya."


Allan pun bingung dengan apa yang dikatakan bi Endang. Jelas-jelas saat Allan bangun dia sudah tidak melihat Rena. Otak cerdas Allan pun berpikir cukup keras, apa yang sebenarnya terjadi. Lalu kemudian Allan baru mengingat jika sebelum tidur, dia sudah berkata ingin menyerah dari pernikahan ini.


Dia pun langsung berlari kembali ke kamar Rena, di mulai membuka almari pakaian Rena. Tidak ada sehelai baju yang tergantung dan tertata di sana. Allan kembali mengedarkan pandangan ke rak belajar Rena, tidak ada buku kuliah Rena. Dia mencoba untuk mengedarkan pandangan sekali lagi, barangkali Rena sudah meninggal sepucuk surat untuknya. Namun tidak ada juga. Usaha terakhir Allan, dia membuka handphone berharap Rena mengirimkan suatu pesan padanya. Namun lagi-lagi tidak ada pesan yang Rena tinggalkan.


"Dia benar-benar sudah pergi.." ucap Allan lemah.


Satu detik kemudian dia mulai melempar barang apapun yang berada di depannya. Bahkan vas bunga, pigura foto, kaca berdiri dan selalu macam barang dia hancurkan. Semua orang yang ada di meja makan yang mendengar amukan Allan pun mulai takut. Di tambah dengan anak-anak yang mulai merengek dan menangis. Bi Endang dan sus Rini pun langsung membawa anak-anak ke teras. Lalu mereka bertemu dengan Fathur di depan.


"Kenapa bi Endang dan yang lainnya keluar rumah dengan tergesa-gesa?" tanya Fathur masing bingung karena belum mengetahui situasi yang sebenarnya terjadi.


"Anak-anak tadi mulai takut dan menangis mas Fathur setelah mendengar papa mereka mengamuk. Jadi saya bawa ke depan sembari langsung diantarkan ke sekolah." ucap bi Endang.


"Pak Allan mengamuk? Kenapa?" tanya Fathur bingung. Lalu detik berikutnya Allan mulai faham jika dia tidak boleh membicarakan hal ini didepan anak-anak.


Akhirnya dia memanggil pak Allan dan meminta sus Rini untuk segera membawa anak-anak ke sekolah. Fathur pun juga mencoba untuk menghibur anak-anak agar tidak takut dengan papa mereka. Setelah anak-anak sudah pergi, Fathur pun kembali bertanya.


"Jelaskan pada saya hal apa yang membuat pak Allan bisa mengamuk?"


"Saya juga kurang tahu pasti. Tuan hanya bertanya apakah sup pagi ini bukan nona Rena yang membuat, lalu saya jawab iya karena saya rasa nona masih beristirahat di kamar. Namun detik berikutnya tuan berjalan tergesa ke kamar nona, lalu mulai mengamuk dan membuat anak-anak takut." jelas bi Endang.


"Pasti ada hal yang memicu, tidak mungkin tuan Allan marah apalagi mengamuk tanpa sebab pasti.." ucap Gilang bingung dan mulai bertanya-tanya.


...***...