Cold CEO & Cute Girl

Cold CEO & Cute Girl
Dampak Pesan Anonymous



Setelah lebih dari 2 jam mengikuti materi yang diberikan dosen, akhirnya mereka pun bisa beristirahat di jam makan siang. Rena dan sahabatnya kini tengah duduk di salah satu meja kantin, sambil menunggu pesanan mereka datang. Meskipun Rena sudah menjelaskan pada teman satu kelasnya, tetap saja isu yang menyebar terus berkembang. Rena cukup malas jika harus menjelaskan pada setiap fakultas tentang apa yang terjadi sebenarnya.


Dia tidak ingin dikira terlalu menginginkan kebenaran yang dibuat-buat. Padahal pada kenyataannya memang benar dia hanya membuat cerita. Dia cukup tahu jika apa yang dia kenakan saat ini adalah barang brand asli. Bahkan baju yang baru saja di beli, bukan dari barang thrift yang dia bilang. Dia pun memilih diam sambil menunggu makanan sampai.


Namun berbeda dengan Zanna dan Abel yang cukup merasa geram.


"Sumpah, mereka ini kenapa sih suka banget ngomongin orang. Mana ngomongin nya di belakang lagi, kalau berani kan langsung di depan orangnya sini.." gerutu Abel.


"Anjir, gue juga ikut kesel tau. Gue harus kasih mereka peringatan sih.." ucap Zanna lalu kemudian dia pun berdiri.


Saat kaki Zanna akan melangkah, Rena pun mencegahnya. Lalu tanpa berbicara sedikit pun, Rena mengarahkan Zanna untuk duduk kembali. Setelah itu Rena pun berbicara,


"Udah, nanti lu sendiri yang capek karena mencoba buat menghadapi mereka.." ucap Rena pada Zanna.


"Iya, mana si anonymous itu nge buka pemikiran di forum kampus. Bukan cuman fakultas, tapi kampus.. Tau sendiri kan UNPAD ini tuh nggak sekecil itu.." tambah Rama.


"Forum kampus? Anonymous? Kok gue nggak tau? Maksudnya?" tanya Rena bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya.


"Jelasin Rang," perintah Galieh pada Rangga.


Rangga pun menatap Galieh dengan kesal, pasalnya dia juga sudah tahu apa yang terjadi. Namun dia malah melemparkan semua ini padanya. Namun karena ini ada kaitannya dengan Rena, dia pun mulai menjelaskan apa yang dia tahu pada Rena.


"Jadi si anonymous itu bikin postingan yang ngebuat semua orang bertanya-tanya sama lu. Dia foto in lu dari belakang, terus post foto lu di forum kampus. Gitu Ren," ucap Rangga memberitahu.


"Caption nya apa Rang.. Kasih tau coba.." ucap Rama pada Rangga.


"Kalian ini kalau mau kasih tau Rena, minimal jangan setengah-setengah. Kasih tau langsung ajalah, kenapa suruh gue sih njir.." gerutu Rangga pada Rama dan Galieh.


"Udah kasih tau aja, kita ini lagi membuka pintu buat lu biar bisa makin ke buka pintunya.. Ayo Rangga, gas.." tambah Abel pada Rangga. Kali ini tidak ada yang membela Rangga. Rangga pun hanya merespon dengan menatap Abel dengan ujung matanya. Lalu kemudian dia mulai membuka handphone dia dan menunjukkan pada Rena.


Anonymous :


'Tumben banget Rena pake baju branded, ada apa nih?'


Setelah Rena melihat dan membaca postingan itu, dia pun memberikan lagi handphone Rangga pada pemiliknya.


"Nah, sampe sekarang dari awal gue liat postingan itu, gue bingung siapa yang mau cari gara-gara sama Rena. Secara nggak langsung tujuan dia emang mau menggiring opini semua orang. Dia mau semua orang benci dan nggak sama Rena. Kalian ada kepikiran siapa kandidatnya nggak?" tanya Rangga pada yang lainnya.


"Eh, akhirnya makanan kita sampai juga. Mending kita makan siang terus langsung lanjut ke kelas. Nanti selesai kelas jadi kan bahas bentar buat persiapan Minggu depan?" ucap Rena mengalihkan perhatian semua orang.


Benar saja, setelah Rena berkata demikian semuanya kembali fokus pada makanan masing-masing. Mereka juga membahas sedikit hal yang perlu di bahas lagi nanti setelah selesai kampus. Rena yang melihat respon teman-temannya, mereka mulai tidak terlalu memikirkan apa yang sekarang terjadi pun cukup lega. Karena dia sudah curiga pada satu nama.


'Tega banget lu giring opini orang-orang buat benci sama gue.. Meskipun gue berharap anonymous itu bukan lu.' batin Rena dalam hati.


Sebenarnya tidak semuanya benar-benar teralihkan fokus dari pengalihan Rena. Ada Rangga dan juga Zanna yang diam-diam tanpa sepengetahuan Rena, saling bertatapan mengisyaratkan hal lain. Setelah selesai makan, mereka pun kembali ke kelas.


"Lu nyadar nggak sih, Rena kayak nya udah tau siapa anonymous itu. Cuman dia nggak kita terlalu pusing dan mungkin ikut emosi juga.." ucap Rangga.


"Bener, gue rasa juga kayak gitu. Tapi kenapa? Bukannya seharusnya kita cari orang itu, terus kita minta dia buat hapus postingan?" pikir Zanna bertanya-tanya.


"Iya, seharusnya gitu. Hapus postingan plus dia juga harus klarifikasi minta maaf ke Rena secara online.." tambah Rangga.


"Bener, biar nama baik Rena jadi baik lagi. Gue harus obrolin ini sama Rena sih.." ucap Zanna memutuskan apa yang akan dia lakukan setelah ini.


"Lu ada kandidat siapa yang berpotensi bisa setega ini sama Rena?" tanya Rangga.


"Ada, siapa lagi kalau bukan dia yang ngajak berantem Rena setelah selesai kelas dulu. Lu paham siapa yang gue maksud kan?" tanya Zanna pada Rangga.


"Jadi dia, gue harus kasih pelajaran sih ke dia. Lu tau dia sekarang dimana?" Rangga pun cukup kesal dan ingin segera mendatang seseorang itu.


"Wait, Rena aja masih tahan emosinya. Eh ini lu malah mau cari gara-gara. Udah diem aja dulu, kita gerak kalau Rena gerak.."


"Nggak bisa gitu dong, kalau Rena diem terus gimana?" tanya Rangga pada Zanna.


"Dia juga bisa emosi, dia juga manusia yang bisa bernafas dan kesel terus marah.." jawab Zanna dengan nada penuh penekanan.


"Kita bertindak kalau dia udah mulai merugikan Rena. Deal?" ucap Rangga membuat kesepakatan.


"Deal.."


Zanna dan Rangga pun melanjutkan langkah menuju ke kelas. Mereka berlari sedikit lebih cepat agar tidak tertinggal. Rena juga sedari tadi sudah berada di belakang mereka bertiga yang sedang bermain game. Hanya saja Rena menatap handphone bukan untuk bermain game, melainkan sedang membalas pesan dari suaminya. Dia sudah mengirimkan banyak sekali pesan spam untuk Rena.


Pak Allan :


'Gimana kampus? Kok belum kabarin?πŸ™ƒ'


'Materi dosen membosankan apa cukup menarik menurut kamu?🧐'


'Siang ini kamu makan siang pakai apa?πŸ€”'


'Beneran nggak balas satu pesan pun dari aku. Sesibuk itu ya kamu?😀'


'Jangan bilang nanti minta buat jam 6 aku nggak perlu jemput kamu pulang?πŸ₯Ί'


'Kamu nggak balas aku marah ya sama kamu..πŸ₯Ί'


'πŸ‘ΏπŸ‘ΏπŸ‘Ώ'


...***...