
Keesokan harinya
Sinar matahari sudah menembus kaca ruang kamar rumah sakit. Sudah pukul 06.30 dan Rena sudah terbangun dari tidurnya. Dia bangun lebih awal dari biasanya karena harus membeli bubur ayam untuk dirinya dan suaminya. Setelah membeli sarapan, dia pun meletakkan sarapan yang dia beli ke atas meja dekat sofa. Lalu dia berjalan ke arah seseorang yang sekarang sudah bisa dia panggil suami.
Sebelumnya Rena belum berani menyebut Allan suaminya. Selain karena awalnya dia tidak memiliki perasaan pada Allan, juga karena meskipun sudah menyukai Allan tapi Rena tidak tahu apakah Allan juga memiliki rasa yang sama. Namun kini dia bisa dengan leluasa memanggil Allan suami, walaupun hal itu hanya dia lakukan di beberapa orang saja. Rena bingung harus menjelaskan bagaimana pada Sahabatnya. Jika mereka tahu pasti akan ada banyak pertanyaan yang perlu di jawab Rena.
Sebenarnya menjelaskan situasi ini sejak awal tidaklah sulit, hanya saja Rena belum tahu apakah mereka akan mendukung atau menentang. Banyak hal yang sebenarnya bisa membuat mereka menentang keputusan Rena. Dari Rena yang sebelumnya menjadi istri kedua. Lalu di usia Rena yang masih muda, namun kini sudah harus menjadi ibu sambung. Dan juga apakah dia sanggup menjalani semua masalah rumah tangga yang akan datang nantinya. Meskipun ini hanya sebagian kecil dari pemikiran Rena. Namun sebelum memutuskan, dia harus mencari dan melihat situasi yang tepat untuk memberitahu kabar baik ini pada mereka.
Kini Rena sudah duduk di kursi dekat ranjang Allan. Dia menatap laki-laki yang berada di dekatnya lekat-lekat. Wajahnya yang tampan menyamarkan usia dia sebenarnya. Rena tidak menyangka jika dia bisa menjalin hubungan dengan sosok sempurna di depan dia. Bahkan sosok sempurna ini sudah menjadi suaminya. Senyum Rena merekah menatap sosok yang berada di depannya. Tidak lama setelah itu Allan pun terbangun dari tidurnya. Mereka saling bertatapan dan tersenyum satu sama lain.
"Good Morning.." ucap Allan pada Rena.
"Morning kak.. Mau Rena siapin sarapan sekarang nggak?" tanya Rena pada Allan.
"Boleh. Hari ini kamu libur kan? Berarti bisa nemenin aku disini terus. Iya kan?"
Sembari Rena menyiapkan sarapan untuk Allan, dia pun menjawab pertanyaan Allan padanya.
"Pagi ini setelah menyiapkan sarapan kakak, Rena pulang ke rumah untuk antar anak-anak ke sekolah. Karena kemarin Rena juga udah janji sama mereka. Terus siang sampai malem, seharusnya sih bisa nemenin kakak disini." jawab Rena.
Setelah sarapan untuk Allan siap, Rena pun berjalan dan memberikan sarapan yang dia beli pada Allan. Namun Allan tidak menerima bubur yang di berikan Rena, dia menggeleng lalu berkata.
"Aku mau disuapin kamu..." pinta Allan pada Rena.
Rena pun tersenyum tidak percaya bahwa sosok yang kini berada di depannya bisa cukup manja ini.
"Okey, tapi harus dihabiskan ya.."
Allan pun menganggukkan kepalanya. Rena menyuapi Allan perlahan, setelah suapan ketiga dia mendapat notifikasi pesan masuk. Rena pun memberikan bubur yang dia bawa pada Allan,
"Kak Allan makan sendiri dulu ya. Rena mau coba lihat chat siapa, siapa tahu penting. Boleh kan?" tanya Rena pada Allan.
"Okey, tapi balas chat nya disini aja. Nggak perlu harus keluar ruangan ini kan?"
"Iya.. Lagian pesan dari siapa aja kak Allan juga bisa lihat handphone Rena kok. Makan sendiri dulu ya,"
Rena pun mengambil handphone-nya yang berada di meja dekat kasur Allan. Dia mendapatkan pesan dari Zanna untuknya.
Zanna :
'Rena, pagi ini main ke rumah Rangga ya. Kita semua masih disini, mau bahas tugas kelompok yang harus di kumpulkan selama libur ini. Lu harus dateng, apalagi semalem lu nggak bisa nyempetin waktu buat ke birthday party gue! See you.' pesan Zanna pada Rena.
Setelah membaca pesan Zanna, dia pun melihat ke arah Allan dahulu. Bisakah dia meninggalkan Allan sendiri di rumah sakit? Apalagi karena beberapa hari yang lalu dan juga kemarin emosi Allan masih naik turun, Rena takut saat dia tidak ada emosinya akan naik lagi. Allan menyadari jika ada sesuatu yang perlu dikatakan Rena. Allan pun bertanya,
"Pesan dari siapa? Kok langsung diem sambil lihat aku gitu?"
"Dari Zanna kak, sahabat Rena." jawab Rena.
"Zanna minta Rena buat ikut kumpul buat bahas tugas yang harus dikumpulkan selama liburan ini. Apalagi setelah liburan ini kita semua harus magang, jadi ya emang harus di buat segera.." ucap Rena pada Allan.
"Oh, yaudah habis antar anak-anak langsung aja bahas tugas kamu.."
"Kak gimana? Nggak apa-apa sendirian di rumah sakit?" tanya Rena khawatir.
"Nggak apa-apa, nanti kan Fathur juga disini buat bantuin handle kerjaan di kantor. Jadi nggak bisa di bilang sendiri juga kan?" ucap Allan menyakinkan Rena.
"Okey, kalau gitu Rena bantu kakak selesaikan sarapan. Setelah itu baru Rena pulang buat anter anak-anak.." ucap Rena pada Allan.
Setelah Rena berbicara, ada seseorang yang mengetuk pintu dan kemudian masuk ruang kamar Allan. Orang itu adalah Fathur. Fathur yang baru saja datang pun terkejut dengan pemandangan yang ada didepannya. Dia tidak menyangka jika bosnya dan nyonya muda bisa berbaikan secepat ini. Fathur pun tersenyum pada mereka dan mulai menyapa.
"Pagi tuan Allan dan nona Rena.."
"Jangan panggil dia nona lagi, dia ini istri saya bukan anak saya.." ucap Allan kesal pada Fathur.
"Hei, kamu ini pagi-pagi kok udah mau marah-marah aja sih. Lagian yang suruh Fathur buat panggil gitu itu aku.." tegur Rena.
"Tapi kan itu kemarin, sekarang udah nggak boleh lagi panggil gitu.." jawab Allan sambil mengekspresikan kekesalannya pada Rena.
"Hm okey, gini aja. Fathur kalau hanya ada kita bertiga panggil seperti apa yang diminta kak Allan aja. Tapi kalau di depan anak-anak untuk sementara panggil seperti biasanya saja.."
"Baik nyonya.."
"Kok gitu, setelah pulang dari rumah sakit. Kita harus jelaskan ke anak-anak, kalau kamu itu mama mereka. Bukan kakak mereka.."
"Rena juga udah pikirkan hal ini, tapi kita harus ajak ngobrol anak-anak itu perlahan. Apalagi sekarang ini banyak buku cerita yang menceritakan kalau sosok ibu sambung itu jahat. Rena nggak mau anak-anak menerima Rena jadi ibu sambungnya karena takut atau terpaksa. Pelan-pelan aja ya, boleh kan?" ucap Rena memohon pada Allan dengan sedikit manja pada Allan.
Karena Allan sudah bersikap manja padanya selama beberapa kali pagi ini, Rena hanya menebak dan berharap jika apa yang dia lakukan bisa meluluhkan Allan.
"Okey, tapi jangan lama-lama.. Aku nggak mau orang lain ngira aku ini punya tiga anak, padahal satunya itu ya istri aku sendiri.."
"iya.. Kalau gitu karena Fathur sudah disini, Rena bisa langsung pulang sekarang kan?"
"Pulang naik apa kamu? Biar diantar Fathur aja ya?"
"Fathur kan kesini mau membahas pekerjaan sama kamu, aku naik taksi aja. Lagian kan jarak rumah sakit ini sama rumah juga deket.."
...***...
Tunggu Next Episode YaβΊοΈ
Kritik, Saran dan Komen Kalian Sangat di Butuhkan Demi Memberikan Semangat Author..
Happy Reading πππ