
Setelah semua matkul selesai, sesuai dengan janji kemarin. Rena pun mengajak semua sahabatnya makan bersama. Mereka makan di salah satu restoran dekat kampus. Meskipun Rena sedikit khawatir dengan bill yang akan dia terima, tapi karena sudah berjanji, dia pun perlu menepatinya.
Selain makan bersama, sesekali mereka membahas tentang hal lucu dosen di kelas, ataupun materi yang belum di kuasai saat di kelas. Dan beruntungnya selalu ada salah satu yang faham materi yang di bingungkan teman lainnya. Hingga tidak terasa waktu pun bergulir cukup cepat.
Namun tidak ada satupun dari mereka yang bangkit dari meja, karena pembahasan yang di bahas selalu berganti dan tidak ada habisnya. Hingga kemudian untuk pertama kalinya Rena mendapatkan pesan singkat dari Allan.
Pak Allan :
'Sudah pulang kampus? Sekarang lagi di rumah apa di luar?' tulis Allan.
Rena :
'Masih di luar, ini sedang makan dan membahas matkul hari ini pak.' tulis Rena.
Usai membalas secukupnya dia kemudian kembali melanjutkan obrolan.
10 menit sebelumnya
Allan pun telah sampai di rumah sakit, karena cukup rindu pada Fara dia pun segera berjalan menuju ruangan VIP. Saat masuk ruangan sudah ada suster Liana yang menjaga Fara. Setelah melihat keberadaan Allan, suster Liana pun berjalan untuk keluar ruangan memberikan ruang untuk sepasang suami istri ini. Allan pun mendekat pada Fara, setelahnya dia bertanya tentang kesehatan Fara.
"Gimana keadaan hari ini? More better?" tanya Allan.
"Yeah sure. Rena udah pulang kampus?" tanya Fara.
"Mana aku tahu, kok tanya di aku. Yang di depan kamu itu aku loh, kok nyari yang nggak disini sih," proses Allan.
"Ya kan kamu suaminya, bukannya dulu kamu juga sering tanya kayak gitu aku ya? Setiap dimana pun selalu minta aku kabarin kamu, kenapa waktu sama Rena nggak?" tanya Fara.
"Selalu Rena terus yang dipikirin.. Terus sekarang mau kamu apa?" tanya Allan.
"Tanyain dia, dia ada dimana? Di kampus atau di rumah? Kalau udah di jawab terus jawabannya diluar, kamu harus jemput dia," jelas Fara.
"Okey,"
Allan pun kemudian mengirimkan pesan pada Rena. Setelah itu Rena membalas pesan Allan. Sesuai dengan perintah Fara, Allan pun meminta sharelock Rena, dan memberitahu nya untuk segera siap-siap. Karena Allan akan segera menjemputnya pulang.
Beberapa hari ini sikap Fara selalu membuat Rena dan Allan bersama. Dari antar menuju kampus, lalu jemput kuliah dan juga jemput di luar, hingga antar Rena pulang setelah berkunjung ke rumah sakit. Perlahan tapi pasti Allan pun mulai terbiasa dengan ritme ini. Meskipun Allan masih sering protes dan seperti ogah-ogahan, namun sebenarnya saat melakukan tugas ini dia juga tidak keberatan. Apalagi Allan adalah tipe orang yang cukup bertanggung jawab dengan apa yang sudah dia lakukan.
Setelah mendapatkan sharelock Rena, Allan pun pamit pada Fara untuk menjemput Rena dan mengantarkan dia pulang ke rumah. Setelah kepergian Allan, suster Liana pun masuk kembali ke ruangan. Sesaat setelah itu perut Fara sedikit terasa sakit. Suster Liana yang ingin memanggil Allan pun di tahan Fara. Fara berkata,
"Jangan di panggil sus... cukup... Panggil..kan dokter saja... Saya ingin diberikan obat pereda nyeri.. Jika nanti ada apa-apa... saya minta berikan apa... yang sudah saya titipkan.. ke suster Liana untuk Rena.." ucap Fara sambil merasa kesakitan.
......................
Sebelum Allan sampai Rena pun berencana untuk membayar bill. Namun saat sudah sampai di kasir, ternyata semua pesanan sudah di bayar. Saat Rena bertanya siapa yang membayarnya, kasir pun menunjuk seseorang dan orang itu tidak lain adalah Rangga. Rena yang sudah menduga hal itu pun kemudian mendekati Rangga. Rena pun mengajak Rangga mengobrol menjauhi teman-teman. Lalu dia berbicara,
"Katanya gue yang harus bayar, kok jadi lu?" tanya Rena.
"Udah nggak apa-apa, anggap aja sebagai traktiran tanda lu mau jadi temen gue," ucap Rangga.
"Anak fakultas mana sih yang nggak mau temenan sama lu. Karena lu sendiri yang mau bayar, gue nggak akan sungkan ya. Gue juga udah tawarin buat bayarin loh ya.." ucap Rena.
Setelah itu Rena pun mendapatkan notifikasi bahwa mobil yang dikendarai Fathur pun sampai. Rena pun pamit pada teman-teman. Dan saat Rangga ingin mengantarkan dia, Rena pun menolaknya. Rena pun meminta Rangga untuk kembali ke dalam lagi karena sopir taksi dia sudah menunggu. Akhirnya Rangga pun menuruti perintah Rena.
Allan pun melihat adegan di depan Resto dengan menggunakan kaca tengah di mobil. Setelah itu Rena pun masuk, Fathur pun menjalankan mobil dengan kecepatan standar. Allan yang sedari tadi diam memulai pembicaraan,
"Yang baru lagi? Udah selesai patah hatinya? Gampang banget pindah lain hatinya?" tanya Allan.
"Pak Allan jangan sok tahu, dia itu temen satu jurusan gue. Nggak lebih," jawab Rena.
"Lebih juga nggak apa-apa, tapi awas aja kalau patah hati lagi." jawab Allan.
"Terserah pak Allan,"
Setelah pembicaraan itu, telfon Allan pun berdering. Ternyata itu adalah telfon dari dokter Sutomo. Allan pun menyalakan speaker handphone lalu mengangkatnya.
"Saya minta tuan Allan segera ke rumah sakit, nyonya sedang dalam keadaan kritis," Allan pun tidak berdaya menjawab telepon dari dokter. Handphone yang di genggam dia pun terjatuh.
Fathur yang mengetahui situasi saat ini pun langsung menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi. Dia takut jika tuannya tidak bisa bertemu dengan nyonyanya untuk yang terakhir kalinya. Sedangkan Rena, dengan sigap mengambil handphone yang terjatuh tadi. Lalu dia menjawab telepon dokter.
"Baik dokter, kami sedang berada di perjalanan menuju rumah sakit. Mohon lakukan apa yang diperlukan, demi keselamatan kakak," ucap Rena pada dokter lalu telepon pun di matikan Rena.
Saat Rena ingin menenangkan Allan dengan memegang tangannya, dia menepis tangan Rena. Dia cukup terpukul, kenapa bisa dia mengiyakan perintah Fara untuk menjemput Rena? Meskipun hari-hari sebelumnya juga sama, dia selalu diminta Fara, tetapi biasanya dia bisa berdebat cukup lama lagi. Sedangkan hari ini selain merindukan Fara, dia juga sudah merindukan Rena. Dia menyesali kenapa bisa dengan cepat memiliki rasa suka pada Rena, di saat seharusnya dia bisa lebih fokus pada kesembuhan Fara.
Sesampainya di rumah sakit, mereka pun segera berlari ke lorong ruangan VIP. Di depan ruangan sudah ada suster Liana. Kata suster Liana, dokter sudah sejak tadi ada di dalam. Karena mendengar hal itu, Allan pun langsung masuk ke dalam ruangan tanpa menunggu konfirmasi dokter.
Pintu ruangan akhirnya terbuka cukup lebar karena Allan. Rena dan Fathur pun bisa melihat situasi dari depan pintu. Pikiran Allan pun kosong, dia mendekat ke arah Fara. Dia sudah tidak bisa berpikir jernih, ditambah dengan banyak alat yang menancap pada tubuh Fara membuat dia semakin terpukul.
...***...