Cold CEO & Cute Girl

Cold CEO & Cute Girl
Sabar Rena



Namun hal yang di lakukan Allan di luar dugaan. Allan melepaskan genggaman tangan Rena. Karena Rena berdiri dengan tidak seimbang akhirnya dia terjatuh ke tanah. Fathur sebagai orang yang melihat kejadian itu pun langsung segera membantu Rena.


Dengan bantuan Fathur, dia pun kembali bisa berdiri lagi. Sejak jatuh di tanah hingga berdiri pandangan Rena tertuju pada Allan. Pandangan kesal bercampur amarah tergambar jelas di mata Rena. Setelah berdiri dia berbicara pada Fathur.


"Fathur antar pak Allan ke rumah pakai mobil. Saya akan jalan sendiri dari sini," ucap Rena.


"Nona tidak ikut juga untuk naik mobil yang saya bawa?" tanya Fathur.


"Nggak, saya mau jalan saja. Biar emosi saya nggak meledak di rumah,"


Setelah mengatakan hal itu, Rena pun mencoba untuk memandang arah lain agar tidak melihat Allan. Saat ini suasana hati Rena yang awalnya masih cukup tenang berubah seketika. Sikap Allan yang cukup kasar dengan pandangan dinginnya, memicu luka lama Rena kembali terbuka lagi.


Allan menyadari jika apa yang dia lakukan sudah cukup keterlaluan. Dia pun pamit pada Fara dengan berbicara dalam hati,


'Mas pulang dulu ya sayang. Mas janji, nggak akan suka sama dia. Mas tau kamu hanya ingin mas menyayangi kamu saja, maaf kan mas karena kemarin hampir melupakan jika masih ada kamu di sisi mas. Mas akan membuat dia menceraikan mas. Mas hanya perlu membuat dia berkata ingin bercerai dengan mas saja.'


Setelah berkata dalam hati, Allan pun menyentuh lembut nisan Fara. Setelah itu dia berjalan melewati Rena menuju parkiran. Ekor matanya sempat melihat Rena, dia bisa melihat jika Rena cukup marah padanya saat ini. Hal ini bisa Allan konfirmasi karena Rena sama sekali tidak melihat kepergian dia melainkan tengah membelakanginya. Setelah itu Allan pun memasuki mobil yang di supir oleh Fathur. Setelah Fathur menjalankan mobil beberapa meter dari makam, Allan meminta Fathur untuk berhenti. Dia ingin melihat Rena keluar meninggalkan makam.


Tersisa Rena saja yang ada di dekat makam Fara. Tanpa sadar air mata Rena mengalir, dia pun segera mengusap air matanya. Lalu dia berpindah posisi dari berdiri menjadi duduk. Setelah berdoa lagi, kemudian dia mengajak Fara untuk berbicara.


"Kak Fara, maafin Rena ya... Hiks.. Rena nggak bermaksud marah ke Pak Allan. Hanya saja... Hiks.. Apa yang di lakukan pak Allan membuat Rena teringat dengan orang itu. Rena janji, akan kabulkan permintaan kak Fara, mempertahankan keluarga kecil kita tetap utuh. Rena pamit ya kak.. Hiks.. Rena akan sering berkunjung kesini," ucap Rena monolog di depan makam Fara.


Selesai mengobrol, Rena pun berjalan keluar dari makam. Setelah keluar dari area makam, Rena mengusap air matanya. Dia memberi semangat untuk dirinya sendiri, agar tetap bisa fokus menjalankan wasiat terakhir Fara. Meskipun cukup berat tapi dia harus coba.


Sesampainya Rena di rumah dia segera membantu bi Endang di dapur. Setelah membantu bi Endang, Rena pun mencoba untuk naik. Dia bertemu dengan Alea dan Ian yang sedang bermain. Mereka pun mengajak bermain Rena, di tengah bermain Rena bertanya pada mereka.


"Stop.. Stop.. Stop.. Kakak mau bertanya dulu, papa ada di kamarnya nggak?"


"Alea belum lihat papa pulang kak,"


"Oke, kalau gitu setelah ini Alea sama Ian waktunya tidur siang ya. Jadi mandi dulu di bantu sus Rini, habis itu istirahat. Setuju?" tanya Rena.


Rena pun kembali bisa tersenyum lagi setelah melihat senyum anak-anak. Semua orang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sedangkan Allan sedari makam hingga sebelum acara doa bersama Dia selalu berada di kamar. Hingga tiba acara, semua nya berdoa dengan khusyuk. Seusai acara selesai Rena menunggu para tamu untuk pulang. Setelah itu dia mencoba mengajak bicara Allan.


"Pak Allan, nanti jika ada yang di perlukan pak Allan bisa mencari saya ya. Untuk beberapa hari ke depan saya akan izin tidak masuk ke kelas dulu. Setelah 7 hari itu, baru saya akan masuk kuliah lagi," jelas Rena.


"Saya minta kamu untuk melakukan itu? Kuliah ya kuliah aja, nggak usah sok-sok an jadi yang paling di butuhkan disini!" ucap Allan.


"Tapi kan..."


"Nggak ada tapi-tapian. Semua sudah diurus Fathur. Ada atau nggak kamu itu nggak ada pengaruhnya sama sekali!" ucap Allan lalu berjalan meninggalkan ruang tamu.


Ini pertama kalinya Allan berteriak pada Rena, bahkan di depan banyak pekerja rumah. Rena tidak malu meski di marahi Allan seperti itu, karena Rena merasa bahwa dia tidak salah. Dia hanya ingin membantu saja, namun tidak di terima sebelum mencoba. Yang Rena rasakan adalah perasaan sedih.


Sekertaris Allan sekaligus orang kepercayaan Allan, yaitu Fathur pun mendekati Rena.


"Emosi Tuan sedang tidak stabil nona. Saya harap nona tidak memasukkan ucapan tuan dalam hati." jelas Fathur.


" Iya Fathur, Terimakasih sudah diingatkan." jawab Rena dengan pandangan lelahnya.


"Oh ya, berarti untuk acara doanya sudah kamu atur semua ya?" tanya Rena.


"Iya nona sudah. Silahkan nona beristirahat dahulu untuk mengembalikan stamina tubuh. Apalagi nona sedari kemarin malam belum beristirahat dengan baik," pinta Fathur.


"Oke kamu juga, semua orang juga ya.."


Setelah Rena berbicara seperti itu, semua orang pun melanjutkan pekerjaan terakhir mereka. Sedangkan Rena berjalan ke atas untuk memeriksa anak-anak. Rena melihat anak-anak juga sudah tertidur. Kemudian Rena pun berjalan ke kamarnya untuk beristirahat.


...***...