Cold CEO & Cute Girl

Cold CEO & Cute Girl
Coklat Gratis



"Yang membuat sandwich itu nona Rena tuan, saya rasa nona hari ini membuat banyak juga di khususkan untuk tuan." ucap bi Endang pada Allan.


"Oke makasih bi, bi Endang bisa melanjutkan pekerjaan lagi." ucap Allan pada bi Endang.


Cukup lama Allan memandang sandwich yang ada tepat di hadapannya. Sebelum bi Endang memberitahu bahwa sandwich itu buatan Rena, Allan sudah membawa satu dan akan segera memakannya. Namun setelah tahu itu buatan Rena, dia letakkan lagi sandwich yang dia bawa ke piring.


Bukan karena enggan, tapi karena dia tidak bisa. Allan mau menjaga hati Fara, dia takut jika semakin dekat dengan Rena akan semakin membuat sedih perasaan Fara di sana.


Setelah menatap sandwich yang tidak jadi dia makan, Allan pun melihat foto Fara yang masih tergantung di dinding dekat meja makan. Foto yang cukup besar dan saat dia menatap foto itu, seolah seseorang yang ada dalam foto juga menatapnya.


"Kamu tenang aja, sebentar lagi aku dan dia akan segera berpisah. Aku akan menjaga anak-anak sebaik kamu menjaga mereka dulu," batin Allan pada foto yang terpajang.


Karena Allan masih cukup sulit untuk bekerja di kantor, dia pun memutuskan untuk bekerja dari rumah saja. Allan meminta Fathur untuk segera membawakan dia beberapa file yang di butuhkan dan sekalian memesankan dia makan. Saat ini ruang kerjanya bertambah fungsi, selain untuk bekerja dia juga gunakan untuk beristirahat dan melakukan beberapa aktivitas lainnya.


................


Setelah mengantar anak-anak ke sekolah, pak Didit pun berlanjut untuk mengantarkan Rena ke kampus. Setelah menurunkan Rena di tempat biasa, pak Didit pamit pada Rena untuk berangkat ke sekolah anak-anak lagi.


Di depan kampus Rena, ada toko coklat favorit dia. Untuk menenangkan pikiran dan hatinya, Rena memutuskan untuk mampir membeli beberapa coklat.


Saat sudah masuk toko, dia melihat Gilang yang juga kebetulan sedang membeli coklat. Lalu kemudian Rena berjalan mendekat pada Gilang. Setelah Gilang selesai memilih beberapa coklat, Rena pun segera menyusul untuk memilih beberapa coklat favorit dia.


Gilang yang baru sadar bahwa ada Rena juga di dalam toko coklat pun menyapa,


"Kebetulan banget kita bisa ketemu di toko ini," ucap Gilang.


"Ya kan kalau dulu, gue yang selalu lu titipin coklat. Tapi karena sekarang kita udah masing-masing sibuk, see?.." ucap Rena.


"Ini bill nya kak." ucap kasir.


"Pakai card saya saja sekalian sama total bill dia," ucap Gilang pada kasir itu.


"Kok repot-repot sih kak, kalau gini kan harusnya tadi gue pilih lebih banyak coklat," ucap Rena sambil menatap dengan tatapan bercanda pada Gilang.


"Mau pesen lagi? Boleh kok, udah lama juga kan gue nggak beliin lu coklat. Udah pilih aja, gue bayarin.." ucap Gilang dengan santai.


"Baik banget lu kak. Wait.. Wait.. Wait.. Kok lu ngomong sama gue tetep lu gue, padahal waktu lu sama si kakak kasir pake saya deh," tanya Rena.


"Ya kan kalo lu beda. Sekalian buat pemanasan, kan gue calon..." ucap Gilang namun sengaja dia tidak lanjutkan sambil melirik ke arah Rena.


"Iya-iya tahu kok. Nggak kok, gue becanda. Itu aja udah cukup. Thanks kak.." jawab Rena.


"Lagi nggak mood kak," ucap Rena.


Setelah itu penjaga kasir pun memberikan pesanan coklat yang sudah di bungkus rapi.


"Ini kak pesanannya. Terimakasih selamat berbelanja kembali,"


"Makasih kak," ucap Rena lalu segera mengambil coklatnya dan berjalan ke keluar menuju kampus.


Gilang pun menyusul Rena. Gilang sudah tahu pasti jika Rena sedang dalam suasana hati yang tidak baik. Karena hanya ada dua pilihan yang bisa membuat Rena mau mengeluarkan uangnya lebih. Pertama karena cukup senang dan ingin menghabiskan uang. Yang kedua karena dia sedang dalam suasana hati yang tidak baik.


Kini Gilang pun berjalan sejajar dengan Rena, dia mengikuti langkah Rena. Lalu kemudian dia mencari waktu yang tepat untuk bertanya pada Rena. Saat mereka berjalan sejajar, ada beberapa mahasiswa yang memandang tidak suka ke arah mereka berdua. Karena salah satu dari mereka sengaja berbicara lantang, Rena pun memilih untuk menghentikan jalannya. Dia ingin mendengarkan lebih jelas sindiran mereka.


"Bener banget, ya itu dia. Gatel banget kan. Pacar mantan temen aja di ambil," ucap salah satunya sambil berjalan berlawanan arah dari Rena.


Rena tahu pasti, jika yang mereka bicarakan itu dia. Namun dia tidak terlalu ambil pusing. Karena yang menggangu pikiran dia saat ini adalah bagaimana dia akan bersikap nanti saat di rumah. Hal seperti yang dibicarakan mahasiswa tadi bagi Rena hanyalah hal remeh.


Berbeda dengan tanggapan Gilang. Dia cukup marah karena jelas-jelas dia tidak berbuat hal yang membuat mereka bisa berbicara seperti itu pada Rena. Namun yang Gilang tidak habis pikir, kenapa Rena hanya diam saja. Respon dia hanya berhenti untuk mendengarkan mereka lebih jelas, lalu melanjutkan lagi jalan dia.


"Lu nggak marah dengan apa yang mereka udah lakuin? Mereka ngomongin lu tepat di depan lu sendiri loh," protes Gilang.


"Toh gue juga nggak seperti yang mereka bilang. Masalah gue udah banyak kak, males ngurusin hal kecil kayak gitu.." jawab Rena.


"Widih, bagus banget. Udah lama nggak ngobrol kayak gini sama gue, lu makin bijak juga. Keren, pertahankan.. Okey?" ucap Gilang.


"Jangan menyanjung gue kayak gitu, yaudah sana. Mau ke fakultas lu kan kak? Kita di pisah disini ya.. Bye,"


"Next time, makan malem bareng yuk. Atau nanti malem aja gimana?" tanya Gilang.


"Nanti malem gue udah ada janji, Next time kali ya? Saling kabar-kabar an aja.." ucap Rena.


"Okey, inget. Bales chat gue ya.." ucap Gilang.


Rena hanya membalas dengan anggukan kepala tanpa dia setuju. Lalu kemudian mereka pun berpisah karena fakultas mereka memang tidak sama. Setelah Rena masuk kelas, tidak lama setelah itu kelas pun di mulai.


Rena melihat Abel yang sedang diam-diam memakan camilan yang dia bawa dari luar. Rena pun hanya memperhatikan dia saja sambil tersenyum. Rena tahu pasti jika Abel sudah mencoba jajanan baru, dia akan membeli banyak sekaligus.Namun karena ini masih jam kelas, hanya Abel yang berani memulai. Dia pun mengajak Zanna, Galieh, dan Rama juga untuk mencoba jajanan. Hanya Rena dan Rangga yang tidak ingin mencoba jajanan Abel.


...***...