
Sedari sampai rumah sakit hingga kini Rena tidak berhenti berjalan bolak-balik, dia cukup khawatir jika suatu yang buruk terjadi pada Allan. Apalagi setelah dia tahu jika ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan lagi. Setelah 20 menit diperiksa dokter, dokter jaga pun keluar ruangan dan kemudian memberi tahu kondisi Allan.
"Pasien mengalami keracunan alkohol akibat terlalu banyak mengonsumsi. Apakah pasien tidak memakan sesuatu sama sekali?" tanya dokter pada dua orang yang berada di depannya saat ini.
"Benar dokter, semua makanan dari sarapan hingga makan siang belum di sentuh sama sekali. Apakah perlu penanganan lebih lanjut lagi?" tanya Fathur pada dokter.
"Lakukan apa saja dok, saya tidak ingin terjadi apa-apa dengan pak Allan...." ucap terus terang Rena pada dokter yang berada di depannya.
"Keluarga pasien tidak perlu terlalu cemas. Kami sudah memasukkan nutrisi tambahan pada infus pasien. Untuk selanjutnya kami perlu melakukan observasi tambahan. Mohon di tunggu hingga pasien sudah sadar." ucap dokter menjelaskan.
"Kapan pasien bisa sadar dok?" tanya Rena pada dokter.
"Jika tidak malam ini kemungkinan besar besok pagi sudah sadar. Saya juga ingin meminta keluarga pasien untuk menebus resep yang sudah saya buatkan ini.." kata dokter sambil memberikan resep yang sudah dia tulis pada Rena.
"Baik dok terimakasih.." ucap Rena dan Fathur bersamaan.
"Baik sama-sama. Saya permisi dahulu.."
Dokter pun meninggal Rena dan Fathur berdua di lorong rumah sakit. Fathur pun mengajukan dirinya untuk menebus resep obat. Lalu dia juga memberikan saran pada Rena agar dia bisa menunggu Allan di dalam saja. Rena pun menyetujui saran Fathur, apalagi dia memang ingin menemani Allan dari dekat.
Fathur sudah kembali dari tempat menebus obat. Waktu juga sudah menunjukkan pukul 20.30 namun Allan belum juga menampakkan sinyal sadar. Sedari tadi Rena hanya fokus menatap Allan yang terbaring di rumah sakit, tidak ada kegiatan lain yang lebih penting dari menunggu Allan sadar. Hingga kemudian Rena mendapatkan pesan dari sus Rini jika anak-anak menangis mencari Allan dan Rena. Rena pun menitipkan Allan sebentar pada Fathur, dia akan menelpon sus Rini agar bisa sedikit menenangkan anak-anak.
Rena pun berjalan keluar kamar. Dia menyusuri lorong dan berhenti di ujung lorong yang sepi agar tidak menggangu pasien lainnya. Lalu segera dia menekan panggilan teleponnya. Rena pun meminta agar sus Rini bisa memberikan teleponnya pada anak-anak. Rena pun memberikan janji bahwa dia akan pulang kerumah besok pagi. Rena juga meminta agar anak-anak bisa mendengarkan kata sus Rini, mereka harus segera bersiap untuk tidur dan besok pagi Rena akan mengantar mereka ke sekolah. Dengan negosiasi yang Rena lakukan, Alea dan Ian pun menyetujuinya. Mereka pun mulai mengikuti apa yang dikatakan Rena dan bersiap untuk segera tidur.
Saat Rena akan kembali ke kamar VIP Allan, dia mendapatkan pesan dari Rangga dan beberapa telepon tak terjawab darinya. Rena tidak menyadari jika sedari tadi Rangga sudah mencoba untuk menghubungi dia. Bahkan saat dia akan menelpon sus Rini, dia hanya fokus pada kontak sus Rini saja tanpa melihat notifikasi. Ditambah dengan tasnya yang sedari tadi berada di tas dan tengah dia titipkan pada Fathur. Rena pun segera membuka pesan dari Rangga.
Rangga :
(10 panggilan tak terjawab)
'Rena lu udah sampai mana?'
'Kok lama banget Ren?'
'Tuan kos lu aman kan?'
'Zanna udah uring-uringan gara-gara lu nggak ada. Kalau misalkan lu nggak bisa nyusul kabarin ya, biar gue bisa kasih tau Zanna dan nggak buat dia nungguin lu.'
'Ren...'
'Renaaaaaa....'
'Jangan buat khawatir ya, kenapa dari tadi sudah di hubungi?'
'Rena Salma Ellyana.. Are you there?'
Ternyata Rangga sudah mengirimkan pesan begitu banyak padanya. Akhirnya dia pun mengirimkan pesan balasan pada Rangga.
'Rangga sorry ya, gue baru bisa buka hp. Hari ini gue kemungkinan nggak bisa nyusul ke acara birthday party Zanna. Bener kata lu, gue harus kasih kejelasan. Gue juga akan chat Zanna langsung, thanks ya udah chat gue.'
Rena memang harus memilih untuk tetap tinggal menunggu pak Allan sadar. Meskipun dia harus mengorbankan acara yang di tahun sebelumnya selalu dia ikuti, apalagi ini adalah acara Zanna sahabatnya. Sesaat setelah itu dia langsung mengirimkan pesan pada Zanna.
Zannaπ :
'Zanna, sorry ya. Gue nggak bisa nyusul ke acara birthday party lu. Tuan kos gue butuh gue, jadi gue mohon pengertian lu ya. Gue janji besok gue akan langsung nemuin lu dan tebus kesalahan gue. Apapun yang lu mau akan gue setujui, asalkan yang masuk akan dan lu bisa maafin gue. Sayang Zanna banyak, Happy birthday my Best friend π₯³π©·ππ'
Rena pun menghela nafas dalam-dalam. Bukan maksud dia untuk menganggap Zanna remeh, hanya saja untuk saat ini pak Allan memang jauh lebih membutuhkan dia. Apalagi saat ini dia sedang berada di rumah sakit. Saat Rena akan melangkahkan kakinya, dia mendapatkan balasan pesan dari Rangga.
Rangga :
'Okey Ren, inget ya. Kalau ada apa-apa langsung kabarin gue. Meskipun dia cuman tuan kost lu, lu tetep harus kabarin gue. Gue bisa langsung dateng buat bantuin lu..'
Setelah mendapatkan pesan dari Rangga, dia pun langsung membalasnya. Karena sedari tadi Rangga sudah mau direpotkan olehnya.
'Okey, siap Rangga..'
Setelah membalas pesan dan menelpon sus Rini dan anak-anak, Rena pun memutuskan untuk kembali ke dalam ruangan Allan lagi. Sungguh beruntung Rena mendapatkan mereka yang mau mengerti dan bisa selalu ada untuknya. Jarang sekali memiliki orang-orang yang sungguh baik hati dengan tulus pada orang lain.
...***...