
Meskipun banyak alat yang menancap pada tubuh Fara. Allan sudah tidak perduli lagi, dia pun mendekat, semakin dekat.. Semakin dekat.. Lalu membisikan sesuatu pada Fara.
'Kalau kamu mau nyusul Mommy... Daddy... meskipun berat buat aku. Aku akan berusaha untuk jaga anak-anak dengan baik. Kamu jangan takut, aku senang kalau kamu udah nggak ngerasain sakit lagi. I Love You istri tersayangku,' bisik Allan dengan sangat pelan, menahan tangis dengan menggenggam tangan Fara.
Sesaat setelah itu, suara bunyi beeeeeep........ pun berbunyi. Allan spontan terjatuh dari duduknya. Dia menangis histeris sambil berkata,
"Kamu beneran mau ninggalin aku, aku nggak tau tanpa kamu.. Aku harus gimana.. Aku harus jelasin ke anak-anak gimana? Aku nggak mau kamu pamitan dengan cara ini... Hiks..."
Semua dokter langsung mendekat pada tubuh Fara. Semua mencoba melakukan yang terbaik, namun takdir berkata lain. Tidak ada yang berani mendekati Allan. Semua suster hanya bisa melepaskan alat-alat yang terpasang. Setelah itu mereka keluar ruangan dan meninggalkan Allan sendiri bersama jasad Fara.
Rena juga cukup syok, ini pertama kalinya dia melihat seseorang meninggal dunia di depan matanya. Dia sudah menganggap Fara seperti kakak kandungnya. Tubuh Rena hampir terjatuh, untung saja ada Fathur yang berada di belakangnya. Fathur pun membawa Rena untuk duduk di lorong depan ruangan.
Sesaat setelah itu, dokter dan suster pun keluar semua. Dokter Sutomo yang cukup berpengalaman pun mendekat pada mereka, kemudian beliau pun mulai menjelaskan apa yang terjadi.
"Bu Fara beberapa hari ini memang sedikit sulit menjalani pengobatan. Di tambah beberapa rasa nyeri sering kali di rasa namun tidak di katakan pada dokter. Membuat penyakit yang diderita semakin menjalar, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Kami rasa, Bu Fara hanya menunggu pak Allan untuk datang sedari tadi... Kami turut berbelasungkawa, kami permisi," ucap dokter Sutomo
Setelah mendengar apa yang dikatakan dokter, Rena pun mulai terduduk kembali, tanpa di sadari air matanya turun cukup deras. Ini kali pertama Rena juga untuk melepaskan seseorang yang cukup dia kenal. Mendengar perkataan dokter, Rena sudah bisa membayangkan betapa sakitnya yang dirasakan kak Fara selama ini. Saat Rena masih mencoba untuk mencerna semuanya, suster Liana pun mendekat. Setelah itu Fathur pun sedikit mundur, memberikan ruang untuk suster Liana dan Rena berbicara.
"Nona Rena, nyonya menitipkan ini untuk nona. Saya yakin nona kuat, saya sudah cukup lama menjaga nyonya. Saya tahu, nona juga cukup kehilangan sama seperti saya. Tetapi saya ingin mengingatkan nona, selain kita ada tuan yang jauh merasa sedih... Hiks.. Saya yakin nona bisa membuat tuan menjadi bangkit kembali, tugas saya telah selesai. Saya akan melakukan penyelesaian tugas pada pak Fathur. Saya permisi nona."
Air mata yang mengalir pun semakin deras, surat apa yang di berikan kak Fara pada Rena? Karena waktunya masih belum tepat untuk membuka surat itu, Rena pun memasukkan surat itu kedalam tasnya. Setelah itu, dia mengedarkan pandangannya. Dia melihat Fathur yang bersiap ingin berbicara padanya.
Dengan menguatkan diri, Rena menatap Fathur dan Fathur pun kemudian mendekat.
Fathur memberikan sapu tangannya pada Rena. Rena pun mengambil sapu tangan itu dan mengusap air matanya kasar. Rena yang menunggu Fathur berbicara namun tak kunjung berbicara pun, akhirnya dia bertanya.
"Ada yang perlu kamu katakan Fathur?" tanya Rena.
"Begini nona, besok akan ada seminar yang seharusnya diisi tuan. Apa yang bisa saya putuskan selanjutnya?" tanya Fathur.
"Beritahukan untuk menunda acara seminar itu, jika belum memungkinkan tolong wakilkan pak Allan. Saya juga minta tolong buatkan surat izin untuk saya absen kuliah,"
"baik Bu, untuk tuan sendiri apa yang bisa saya lakukan?" tanya Fathur lagi.
"Cukup urus pemakaman sampai selesai dulu, nanti akan saya bantu lagi setelah pemakaman selesai. Saya mau coba masuk kedalam dulu,"
"Pak Allan, suster akan melakukan prosesi terakhir. Tolong lepaskan genggaman pak Allan," ucap Rena dengan nada pelan.
"Kamu jangan ngatur saya ya. Saya masih belum puas menggenggam tangan istri saya!" ucap Allan dengan nada tinggi.
"Pak Allan harus rela, demi kebaikan kak Fara juga.. Agar kita bisa segera bawa pulang kak Fara," ucap Rena.
Allan pun kemudian melepaskan genggamannya, setelah itu dia terjatuh di lantai dan tak sadarkan diri. Rena pun panik dan meminta beberapa suster untuk membantunya. Sedangkan Fathur sedang tidak ada di tempat karena sibuk dengan urusan di rumah.
Rena menunggu Allan siuman. 20 menit setelah itu dia pun terbangun, dia langsung duduk dan melihat Rena.
"Kenapa kamu duduk di sebelah saya? Minggir kamu, yang hanya boleh duduk disebelah saya hanya Fara!" ucap Allan.
"Pak Allan harus rela ya, ikhlas.. Demi kak Fara..hiks.." ucap Rena.
"Kamu jangan nangis di depan saya, saya tahu tangisan itu palsu. Jangan bersandiwara lagi di hadapan saya!" ucap Allan.
Dia pun keluar dari IGD. Lalu dia melihat sudah banyak mobil yang siap membawa jenazah Fara ke rumah. Tubuh nya hampir terjatuh, untung saja ada Rena di belakang. Lalu setelah itu ada dokter yang membantu mengarahkan mereka untuk masuk ke mobil ambulans. Saat Rena akan masuk mobil yang sama, Allan pun melarang. Akhirnya Rena pun naik mobil lain ke rumah.
Di rumah sudah banyak pelayat, wartawan, rekan bisnis, keluarga dan tetangga yang datang. Para wartawan hanya bisa meliput dari jarak jauh saja, sedangkan yang lainnya bisa masuk kedalam rumah. Saat mobil ambulans datang, semuanya pun berdiri. Semuanya ingin membantu dalam setiap prosesi.
Rena pun turun mobil, begitu pula dengan Allan. Hanya saja pandangan Allan cukup kosong saat ini, saat Rena ingin mendekati Allan. Ada Alea dan Ian yang berlari sambil menangis, fokus Rena pun akhirnya kacau dan berakhir pada Alea juga Ian. Rena pun membawa mereka masuk ke dalam kamar pribadinya. Rena berusaha menenangkan kedua anak kecil yang bahkan belum tahu apa yang terjadi sebenarnya. Rena pun mengajak mereka untuk melipir ke area yang tidak banyak orang.
"Alea... Ian... Nggak boleh nangis lagi ya. Kalau mau mendekat ke tubuh mama, kalian nggak boleh nangis kayak gini. Kasian mama, kalian sayang mama kan?" tanya Rena.
Mereka berdua pun menganggukkan kepala sambil masih menangis terisak.
"Sebentar lagi kita mendekat ke mama ya... Mama udah nggak sakit lagi, nggak perlu tinggal di rumah sakit. Mama sekarang sudah ada di rumah Tuhan. Tugas Alea, Ian dan kakak adalah membantu papa semangat. Mau kan menjalani misi ini?" tanya Rena.
"Mau kakak.. Hiks... Mama udah sembuh.. Kakak nggak boleh tinggalin kita bertiga ya.. Hiks..." ucap Alea.
...***...
"Kakak janji, kakak sayang sama kalian.."