
Pagi hari ini setelah menyiapkan keperluan anak-anak, Rena pun juga ikut mengantar mereka ke sekolah. Setelah itu baru dia datang ke hotel tempat Allan menginap. Rena bertemu Fathur di lobi hotel, setelah memberi kartu akses ekstra yang di punya nya, Fathur langsung pamit untuk pergi ke kantor.
Meskipun Rena punya kartu akses, tapi dia takut di kira tidak sopan. Jadi dia mencoba untuk mengetuk pintu kamar hotel Allan. Sudah 3 kali dia mengetuk namun tidak dapat jawaban, akhirnya Rena menggunakan kartu akses yang di beri Fathur.
Rena terkejut karena setelah membuka pintu, dia melihat Allan tengah berjalan ke arahnya. Dia berjalan dengan sempoyongan, Rena yang sudah tahu situasi saat ini pun mendekati Allan. Saat jarak mereka cukup dekat, Allan tiba-tiba memeluk Rena. Rena yang mendapatkan serangan tiba-tiba pun cukup terkejut.
Jantung Rena berdegup sangat kencang. Jarak mereka saat ini sudah sangat dekat, bahkan tidak ada jarak sama sekali. Tanpa banyak bicara Rena pun membantu Allan kembali ke kamarnya. Setelah sampai di kamar, Rena pun mengarahkan Allan untuk tidur di kasurnya. Namun saat Rena melepas genggamannya pada Allan, dia pun berbalik dan untuk yang kedua kalinya memeluk Rena.
Rena bagaikan terbang melayang, dia sangat merindukan sosok Allan setelah satu Minggu ini tidak bertemu. Namun bunga-bunga yang ada di sekitar Rena tidak bermekaran lama. segera dia di hempaskan ke tanah setelah mendengar ucapan Allan,
"Aku kangen sama kamu, asal kamu tahu. Sedari semalam sampai pagi ini aku belum tidur," ucap Allan sambil memeluk Rena.
Rena pun segera membantu Allan untuk beristirahat. Setelah itu Rena akan berkunjung nanti saja setelah pulang kampus. Saat Rena merapikan selimut, Allan memegang tangan dia dan berkata,
"Kapan kita bisa bercerai? Aku ingin kamu meminta bercerai denganku." ucap Allan lalu kemudian tertidur.
'Setidak berarti itu kah aku untuk pak Allan? Kenapa rasanya sedih. Mendengar dia merindukan kak Fara dan berkata ingin segera bercerai denganku.' ucap Rena dalam hati.
Jika tidak karena wasiat, mungkin saja detik itu juga dia ingin memenuhi permintaan pak Allan. Namun karena Fara memberi dia tugas agar bisa terus menjaga keutuhan keluarga kecilnya, Rena pun membesarkan dada dan mencoba bertahan lebih lama. Sampai di titik nanti dia benar-benar lelah.
Setelah itu dia segera keluar dari kamar Allan. Tidak ada niatan untuk berlama-lama di kamar hotel Allan. Dia cukup sedih dengan dua hal yang di dengarnya hari ini. Rena pun memutuskan untuk menaiki angkutan umum, dengan harapan pikiran dia tidak terlarut dalam kesedihan. Ramainya suasana di dalam bus, ternyata tidak bisa meringankan perasaan sedih Rena.
Setelah sampai di dalam kampus, dia berhenti di taman dekat fakultasnya. Karena dia datang cukup awal, dia pun berjalan ke arah bangku taman yang ada di dekatnya saat ini. Belum sampai duduk dia sudah menangis sambil jongkok di dekat bangku.
Untuk yang kedua kalinya, Rena merasakan patah hati. Jika dulu dia punya Allan yang bisa menjadi sandaran ternyaman saat patah hati. Namun sekarang, Allan juga yang membuat Rena patah hati. Bahkan jauh lebih awal dari perkiraan Rena. Akan jauh lebih baik jika dia bisa menjalani hari-hari seperti biasa. Dimana dia bisa diam-diam memandang Allan dan bisa membantu Allan di saat yang dibutuhkan.
Rena bersedia menjalani cinta diam-diam untuk sekali lagi. Sama seperti pada waktu dia menyukai Gilang, akan jauh lebih jika dia menyukai Allan lebih lama. Namun dia seperti harus diingat realita bahwa dirinya tidak akan pernah mendapatkan Allan.
Rena menangis tersedu-sedu sendirian di dekat bangku. Dia meratapi kisahnya yang selalu berakhir tragis. Lalu tidak lama setelah dia menangis, ada yang mengulurkan coklat manis untuk Rena. Rena pun mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang memberi coklat ini. Setelah mengetahui siapa yang memberi, dia pun mencoba berdiri dan duduk di bangku taman itu.
Perlahan Rena mulai tenang. Dia juga mulai berhenti menangis. Dia tidak ingin orang yang ada di sebelahnya saat ini melihat sisi lemahnya. Rena pun menatap dia, Rena tidak menyangka dia bisa melihat seseorang ini lagi. Bahkan sudah tidak ada rasa patah hati lagi untuk dia. Mungkin benar kata orang, kita harus menemukan seseorang yang baru untuk bisa move on.
"Biasanya itu, kalau ada orang sedih. Di kasihnya tissue atau sapu tangan buat hapus airmata. Bukan malah coklat." ucap Rena.
"Mungkin kalau orang lain bisa gitu dulu, tapi beda lagi kalau sama lu," jawab Gilang.
"Maksud lu apa nih? Gue masih kayak bocil gitu?.."
"Thank you, tumben kak lu di kampus?" tanya Rena.
"Iya nih lagi kumpulin tugas. Oh ya, kenapa nangis? Sampe kayak gitu loh, untung cuman gue yang tau."
"Nggak apa-apa cuman hampir lupa aja sama realitanya. Maksud lu untung cuman lu yang tau apa nih?"
"Lu kalau lagi nangis, dari dulu sampai sekarang juga sama. Keliatan kayak anak kecil.. Ha-ha-ha,"
"Ih nggak lucu, stop ketawa di depan gue!"
"Oke gue stop, beneran nggak mau cerita nih? Wait, atau chat aja nanti kalau mau cerita. Pasti akan gue siapin waktu khusus buat lu, gimana?"
"Nggak dulu deh kak, lagian yang ada ntar gue di tuduh jadi orang ketiga lagi. Padahal yang orang ketiganya tuh pihak sana," ucap Rena.
"Maksud lu?" tanya Gilang bingung.
"Lu nggak perlu ngerti, cukup fokus sama kuliah lu dan semua pasien lu aja. Oke?"
"Rena.." panggil seseorang di belakang.
Saat menengok ternyata itu Rangga, dia pun mendekati Rena dan Gilang. Lalu setelah jarak mereka cukup dekat, Rangga segera menarik Rena untuk berdiri.
"Lu ngapain masih deket-deket sama dia? Lu lupa dia udah kayak gimana? Perlu gue ingetin lagi?" Tanya Rangga dengan nada kesal.
"Santai bro, Jangan tarik-tarik tangan Rena kayak gitu dong!" ucap Gilang.
"Wait, stop. Rangga, calm down oke.... Gue cuman ngobrol bentar kok. Bentar lagi mau ke kelas," ucap Rena.
"Yaudah ayo sekarang kita ke kelas," ajak Rangga.
"Oke-oke ayo. Kak Gilang, thanks ya. Gue ke kelas dulu, bye.." ucap Rena.
Setelah itu Rangga pun menggandeng tangan Rena menuju ke kelas. Di sepanjang jalan menuju kelas banyak mahasiswa-mahasiswa yang memandang mereka. Sebagian cukup iri dengan keduanya. Sebagian merestui kedekatan mereka.
...***...