
Setelah masuk ke kamar, Rena segera mengunci pintu. Dia mematikan lampu kamar dan kemudian menyalakan lampu tidurnya. Dia menyadari apa yang dia ucapkan barusan bukanlah menggambarkan apa yang sudah terjadi sebenarnya.
Namun di hadapan Allan, hanya itu yang terlintas di kepala Rena. Dia hanya berbicara apa yang sebenarnya ingin di dengarkan Allan darinya.
Rena pun berjalan dan kemudian duduk di kasurnya. Dia mencoba kembali berbaring. Saat dia mulai memejamkan matanya, ada bulir air mata yang menetes. Awalnya hanya satu bulir, namun kemudian di susul dengan bulir-bulir lainnya. Perasaan yang tadinya sudah mulai membaik kembali rapuh.
Dia masih cukup sakit hati dengan apa yang dikatakan Allan padanya sore tadi.
'Kak Fara, gue takut.... Gue takut gagal.... Dari dulu gue selalu menghindari masalah yang datang ke gue dengan cara kabur. Namun saat ini karena permintaan kakak, gue coba buat bertahan.. Gue nggak bisa janji lagi ke kakak, tapi gue akan coba sekali lagi.. Hiks... Hiks.. Untuk hasilnya nanti, gue nggak bisa janji ya kak." ucap Rena sambil menatap langit-langit kamar sambil menangis. Setelah lelah menangis, Rena pun tertidur.
Sedangkan Allan setelah di tinggal Rena masuk kamar, dia masih mencoba untuk masuk. Namun ternyata Rena mengunci pintu kamarnya, bahkan dia segera mematikan lampu utama kamar dia dan menggantinya dengan lampu tidur.
Allan tidak ingin meyakini apa yang di katakan Rena barusan adalah benar. Dia berharap Rena hanya menggertak dia dan hanya ingin main-main dengannya. Dia ingin memperjelas semuanya agar tidak ada keraguan. Namun Rena segera menyudahi pembicaraan mereka yang belum usai.
Dia pun berjalan ke kamarnya, namun karena masih ada bayang-bayang Fara. Allan memutuskan untuk mengurungkan niatnya. Dia cukup merasa bersalah. Kini rasa sukanya pada Rena semakin terasa. Bagaimana dia bisa menjaga perasaan Fara apabila saat ini dia telah memiliki perasaan lebih pada Rena.
Dia juga cukup sedih dengan apa yang dikatakan Rena, dia berucap seolah dia telah sering melakukan kegiatan itu. Tentu saja Allan tidak ingin wanitanya di sentuh laki-laki lain selain dia.
Perasaan Allan cukup bimbang saat ini, dia harus menceraikan Rena namun getaran hati berkata tidak. Dia ingin membuat Fara senang dengan menjadi Fara satu-satunya istri dia. Namun Allan cukup ingin menjadi sedikit egois dengan tetap mempertahankan Rena disisinya.
Allan pun kembali ke ruang keluarga untuk merapikan berkas dan kemudian berjalan ke ruang kerjanya. Malam ini Allan memutuskan untuk mulai beristirahat di ruang kerjanya. Untung saja di ruang kerjanya ada sofa yang bisa di pakai untuk beristirahat.
Keesokan paginya
Rena pun seperti biasanya bangun lebih awal, dia membantu bi Endang untuk memasak. Lalu kemudian membantu sus Rini untuk membangunkan dan membantu bersiap-siap. Saat anak-anak sarapan, seperti biasanya tugas Rena adalah menyiapkan bekal untuk mereka. Karena sudah terbiasa menyiapkan 3 bekal, Rena pun baru tersadar setelah selesai menyiapkan.
'Bukankah pak Allan sudah tinggal di rumah? Tidak perlu lagi dibuatkan bekal, dasar gue' gerutu Rena pada dirinya sendiri.
Hari ini Rena tidak ingin terlalu banyak berkomunikasi dengan Allan, alhasil dia meminta bantuan bi Endang.
"Bi Endang, nanti kalau pak Allan sudah ada di meja makan. Minta tolong bibi bantu ya. Saya ada keperluan di kampus, jadi harus segera ke kampus." ucap Rena.
"Iya bi, suruh bawa saja. Kalau tidak mau berikan saja pada orang rumah lainnya atau bi Endang makan sendiri juga boleh,"
Setelah memberikan pesan pada bi Endang, Rena pun segera berangkat ke kampus ikut mobil anak-anak. Hari ini Rena cukup enggan bertemu dengan Allan. Namun saat akan berangkat, Allan pun keluar dari ruang kerja. Kini dia sudah memakai setelan lengkap dengan memakai tuxedo berwarna senada.
Anak-anak pun langsung berhamburan memeluk Papa mereka. Agar tidak terlalu lama berada di satu ruangan yang sama dengan Allan, Rena pun meminta anak-anak untuk segera berpamitan dengan Allan.
"Alea.. Ian.. Ayo pamit ke Papa. Kalau nggak berangkat sekarang, kalian akan terlambat loh.." ucap Rena.
"Iya kakak.. Pa kita Alea pamit ya,"
"Ian pamit juga ya Pa.. Tunggu kita pulang ya, nanti kita makan malam sama kakak,"
Setelah Salim dan berpelukan dengan sang Papa, Alea dan Ian pun berlari ke ke depan untuk segera masuk mobil. Saat Rena akan menyusul mereka, Allan pun mengajak bicara Rena.
"Dengerin kata Ian. Jangan balik terlalu malam, mereka mau makan malam sama kamu.." ucap Allan.
"Baru makan sekali sama mereka aja udah gitu, denger kok denger. Nggak usah diingetin lagi," jawab Rena sambil berjalan ke arah depan.
Allan pun hanya bisa menatap kepergian Rena dari belakang punggungnya. Entah mengapa dia merasa sedih karena perlakuan Rena yang tidak baik seperti itu. Sebelumnya, saat ada Fara dia tidak pernah bersikap dingin pada Allan. Bahkan dia lah yang selalu bersikap dingin pada Rena, namun Rena selalu sabar dan mau terus selalu ada buat Allan.
Saat ini Allan telah duduk di meja makan, dia menatap hidangan yang ada di meja. Sebelumnya selalu Fara yang menyiapkan makan untuk Allan. Lalu saat Fara terbaring di rumah sakit, Rena lah yang menyiapkan makan untuk dia. Dia tidak menyangka jika saat ini, sudah benar-benar tidak ada yang menyiapkan makan lagi untuk dia. Bahkan untuk sekedar menemani makan pun tidak ada.
'Kalau nanti kita sudah bercerai, pasti akan jauh lebih sepi dari sekarang,' batin Allan dalam hati.
Tidak lama setelah itu bi Endang pun datang, dia sudah menyajikan beberapa potong sandwich.
"Makasih bi, sebenernya hanya dengan beberapa slice roti dan selai saja sudah cukup." ucap Allan.
...***...