Cold CEO & Cute Girl

Cold CEO & Cute Girl
Permintaan Yang Tidak Disetujui



Matahari sudah menampakkan sinarnya. Bunyi Alarm berhasil membuat Allan terbangun dari tidur nyenyak. Dia menekan tombol dimatikan pada layar handphone Rena. Setelah itu sudah tidak ada keinginan untuk tidur kembali. Kini ditatapnya sosok lembut, imut dan cantik disebelah. Dia cukup beruntung karena bisa mendapatkan Rena.


Allan teringat jika Rena perlu berangkat ke kampus. Akhirnya Allan mencoba menghubungi Fathur guna memintanya membawakan beberapa baju baru. Selesai menelpon Fathur dia kembali menatap malaikat cantik di sebelahnya. Hingga tidak terasa waktu sudah bergulir cukup cepat. Sudah pukul 07.00 pagi, namun perempuan cantik yang sedari tadi dia tatap belum juga bangun dari tidurnya.


Tidak lama setelah itu pintu ruangan VIP ini pun di ketuk. Saat orang yang mengetuk masuk, ternyata ada seorang dokter dan perawat yang akan melakukan check up pagi. Allan pun merubah posisinya dari berbaring menjadi duduk. Lalu saat Allan menjawab pertanyaan yang dokter tanyakan, dia terkejut dengan dokter yang sedang memeriksa dia saat ini.


"Kenapa dokter yang melakukan pemeriksaan bukan dokter Sutomo? Dimana dokter saya?" tanya Allan pada dokter yang menggantikan tugas dokter Sutomo.


"Dokter Sutomo sedang ada pekerjaan di luar kota, jadi saya sebagai dokter piket akan menggantikan tugas dokter Sutomo. Permisi saya akan mulai melakukan pemeriksaan," ucap dokter itu yang ternyata adalah Gilang.


Sebelum memeriksa, karena jarak yang cukup dekat Gilang bisa melihat Rena yang masih terlelap dalam tidurnya. Dia pun melirik sedikit posisi tidur Rena yang sedari dulu hingga kini masih sama. Setelah itu dia pun mulai melakukan pemeriksaan pada pasiennya. Sedari awal pemeriksaan hingga akhir Allan cukup bermalas-malasan, jika tau dokter piket nya Gilang dia tidak ingin diperiksa sekarang. Apa yang dilakukan Allan membuat check up pagi ini sedikit cukup lama dari yang seharusnya.


Allan cukup bermalas-malasan karena sedari awal sudah tidak nyaman jika Gilang yang memeriksa. Apalagi saat ini Rena sedang terlelap tidur disampingnya. Dia tidak ingin Gilang bisa leluasa melihat sisi lain Rena saat dia sedang terlelap.


"Setelah hasil lab keluar, jika hasilnya sesuai dengan yang diharapkan. Sore ini juga pak Allan sudah bisa pulang ke rumah. Kalau begitu kami permisi dahulu," ucap Gilang lalu segera bergegas berjalan pergi dari ruang VIP ini.


Awalnya saat pemeriksaan Allan tidak menjawab satupun yang dikatakan Gilang. Namun setelah pemeriksaan selesai, ada yang perlu dia bahas dengan Gilang. Semakin cepat dia membahasnya, semakin cepat pula hal yang dia pikirkan terselesaikan. Dia pun memanggil Gilang.


"Dokter Gilang ada yang saya perlu bicarakan secara pribadi dengan dokter..." panggil Allan.


"Suster tolong tunggu saya sebentar di lorong depan ya..." ucap Gilang pada suster yang berada di sampingnya.


"Baik dokter.. Saya permisi.." ucap suster lalu segera pergi menunggu Gilang di luar.


Setelah suster pergi, Gilang pun bertanya apa yang ingin diucapkan Allan padanya.


"Pak Allan ingin mengajukan pertanyaan apa ya kepada saya?" tanya Gilang yang sama sekali tidak tahu alasan Allan sebenarnya apa.


"Tidak ada pernyataan, hanya ada permintaan kecil saja. Saya harap dokter Gilang bisa menjauhi Rena. Seperti yang dokter Gilang saksikan, dia tidur di kamar saya bahkan satu ranjang dengan saya. Dia sudah menjadi istri sah saya," ucap Allan pada Gilang.


"Mohon maaf, jika permintaan lain saya bisa menyetujuinya. Namun jika permintaan yang satu ini, maka saya tidak bisa menyetujui. Permisi.." jawab Gilang dengan lugas pada Allan. Dia tidak ingin hanya karena Rena sudah bersuami, dia akan kehilangan seorang yang sudah dianggapnya sebagai adik kandung.


Saat Gilang akan melangkahkan kaki keluar dari ruangan, Allan pun berbicara kembali dengan nada lebih tinggi.


"Kamu ingin saya beri apa? Seperti yang kamu tahu saya memiliki segalanya. Hanya dengan satu syarat itu dan saya akan memberikan apapun yang dokter Gilang mau!"


"Ini bukan perkara uang pak Allan.." jawab Gilang dengan nada sedikit ditekan.


"Iya saya tahu, lalu apa? Apa yang kamu mau?" tanya Allan dengan nada tingginya.


Karena suara Allan cukup keras, akhirnya Rena pun terbangun dari tidurnya. Rena sedikit mendengar kata,


'Apa yang kamu?' dengan cukup Jelas. Alhasil Rena pun menanyakan apa yang sebenarnya sedang dibicarakan.


"Hm? Aku nggak bilang gitu kok, kamu salah denger. Orang aku lagi bangunin kamu, udah jam segini. Katanya mau ke kampus pagi kan?" jawab Allan mengalihkan fokus Rena.


"Oh Rena salah denger ternyata.. Jam berapa kak sekarang?" tanya Rena, lalu dia pun mengedarkan pandangan. Ternyata di dalam ruangan ini ada Gilang juga yang sedang mengenakan seragam putihnya. Rena pun tersenyum pada Gilang lalu kembali menghadap ke arah Allan lagi.


"Jam 07.30, kamu masuk jam berapa?" tanya Allan pada Rena.


"jam 09.00 kak.." jawab Rena.


Setelah itu Rena pun kembali menghadap ke arah Gilang lagi. Dia merapikan penampilan lalu kemudian bertanya pada Gilang.


"Kak Gilang kok nggak mendekat kesini? Udah selesai periksa nya?" tanya Rena pada Gilang.


"Udah selesai.." jawab Gilang lembut pada Rena.


Setelah itu Gilang pun meminta izin pada Allan untuk segera meninggalkan ruangan.


"Kalau begitu karena urusan dengan saya sudah selesai, saya permisi dahulu pak Allan."


Rena yang merasa tidak dianggap ada pun protes dengan Gilang.


"Kok cuman pamit ke kak Allan aja? Kan gue juga masih ada disini.." ucap Rena protes pada Gilang.


"Ya ampun, lu langsung protes dong. Ini masih baru yang pertama loh. Daripada protes ke gue mending lu buruan siap-siap, kan tadi katanya ada jam kuliah pagi?"


"Oh iya kak, thanks udah di ingetin.." Rena pun langsung bergegas turun dari ranjang rumah sakit Allan. Namun dia baru ingat jika dia tidak membawa baju ganti. Dia pun merubah kecepatan bergeraknya, dari cepat-cepat ke Lambat.


"Pak Allan saya permisi.. Rena, inget ya. Apapun yang terjadi nanti, lu harus inget buat hubungi gue. Jangan kayak kemarin lagi, gue balik.." ucap Gilang lalu berjalan keluar ruangan.


Tidak lama setelah itu ada yang mengetuk pintu ruangan VIP lagi.


"Langsung masuk aja.." ucap Fathur pada seseorang yang mengetuk pintu.


Berbeda dengan Rena, respon dia hanya menatap pintu dan Allan pada waktu yang sama, lalu dia kembali melihat dirinya dengan pakaian yang kemarin dia pakai. Dan kemudian dia pun bersiap untuk mandi, Rena berjalan ke arah kamar mandi namun di hentikan Allan.


"Kamu mau mandi?"


"Menurut kak Allan? Meskipun nggak ganti baju, minimal aku harus mandi kak.." jawab Rena.


"Bentar, tunggu Fathur masuk dulu.."


...***...