
Demi anak-anak Rena pun telah sampai di hotel tempat Allan menginap lagi. Dia pun mencoba mengetuk pintu itu sekali, karena tidak ada jawaban dari dalam, Rena pun kemudian masuk menggunakan kartu akses milik Fathur.
Saat pagi tadi, dia belum sempat melihat-lihat setiap detail dari kamar hotel Allan. Sambil berjalan menuju dalam, Rena pun melihat dengan seksama.
Dia melihat bekal yang dia taruh di atas meja makan pun belum di sentuh Allan. Alasan yang paling mungkin adalah dia masih tidur. Rena pun melangkahkan kakinya menuju ke kamar Allan.
Benar saja, dia masih tertidur pulas. Rena merasa penasaran dengan posisi tidur Allan, dia pun semakin mendekati Allan. Setelah jarak mereka tidak sampai 5 meter, tiba-tiba Allan mengigau.
"I Love You.. Aku akan selalu sayang sama kamu.." ucap Allan.
Rena yang mendengar apa yang dikatakan Allan merasa cukup sedih. Meskipun dia sudah lebih dari dua bulan mengenal Allan, Rena tahu pasti jika Allan belum menyukai dia. Apalagi dia belum pernah mengatakan hal itu.
Dia berjalan keluar kamar Allan, lalu kemudian melangkah ke arah dapur. Dia menyalakan wastafel, lalu tanpa sadar air matanya kembali mengalir.
Meskipun begitu, dia kembali tersadar jika dia di tempat Allan demi anak-anak. Rena pun melihat ke dalam kulkas untuk melihat bahan makanan yang tersedia. Rena melihat bekal yang selama ini dia kirim tidak di makan Allan, melainkan hanya dia pindah tempatkan di kulkas.
Di dapur hanya ada telur, mie instan, sosis dan beberapa sayuran. Rena pun memutuskan untuk membuat mie instan dengan beberapa bahan tambahan. Untung saja dia sesekali mengirimkan buah, setidaknya masih ada yang bisa di selamatkan dari kulkas.
......................
Selagi Rena masak, Allan pun terbangun dari tidurnya. Dia terkejut dengan apa yang dia mimpikan. Dimana dia sedang menyatakan perasaannya pada Rena. Namun dengan apa yang dia sudah tahu, jika dia pernah disakiti seseorang. Di dalam mimpi Allan, Rena pun menolak Allan dan memilih bersama first love nya.
'Di dunia nyata saya tidak bisa memiliki dia, tapi kenapa di alam mimpi pun juga? Apakah tidak bisa kamu mulai menyukai saya seperti saya yang perlahan mulai menyukaimu..' gumam Allan dalam kamar.
Karena cukup frustasi dia pun mengambil satu botol wine koleksinya. Lalu kemudian dia menenggak minuman itu. Selama satu Minggu ini Allan memilih untuk tinggal di hotel untuk menghindari Rena.
Niat awalnya memang benar agar Rena merasa lelah ingin meminta bercerai pada Allan. Namun tanpa di sangka Rena bisa bertahan.
Allan tidak menyangka bahwa selama proses kemarin, dia mulai memiliki perasaan pada Rena. Saat dia mulai mendekat dan mencoba untuk lebih mengenal Rena, dia di pukul kenyataan dengan meninggalnya istri tercinta.
Dia cukup menyesal kenapa di saat-saat terakhir Fara dia tidak bisa selalu ada untuk dia.
meskipun jika diingat lagi, salah satu alasan dia bisa mulai memiliki rasa suka pada Rena adalah karena sikap Fara yang mulai menjauh. Sedangkan sikap lembut, polos dan perhatian Rena menggantikan kekosongan Allan. Sikap menjauh Fara seolah seperti menjadi dorongan untuk Allan membuka hati pada Rena.
Mendadak Allan ingin ke toilet karena sedari bangun tidur belum ke toilet. Toiletnya berada tepat berhadapan dengan dapur. Saat dia masuk toilet dia belum menyadari adanya Rena. Setelah keluar toilet dia terkejut karena ada Rena di hotelnya.
Sedangkan posisi saat ini Rena tidak sadar bahwa ada seseorang yang memperhatikan dia. Rena masih cukup sibuk untuk membuat hidangan sederhana untuk Allan dan melakukan sedikit pembersihan tempat tinggal Allan singkat.
Karena efek alkohol yang baru di tenggak Allan masih ada, untuk memastikan apakah dia berhalusinasi atau tidak, dia mendekati sosok yang mirip Rena di hadapannya.
Saat Rena tengah membelakanginya, segera tangan Rena di tarik Allan sehingga membuat tubuh Rena juga spontan berbalik. Setelah itu Allan menekan tubuh Rena agar dia tidak ada ruang untuk bergerak.
Perlahan Allan mendekatkan wajahnya pada wajah Rena sambil tersenyum. Lalu kemudian dia berkata,
"Alangkah lebih baik jika ini nyata..." ucap Allan yang mengira bahwa Rena adalah halusinasinya.
Rena yang terkejut dengan respon Allan pun langsung mendorong tubuh Allan. Apa yang dilakukan Allan membuat jantung Rena berdegup sangat kencang. Meskipun dia juga mengharapkan hal ini dari Allan, namun jika dengan bayang-bayang kak Fara dia tidak bisa sukarela melakukannya.
"Pak Allan! Jangan macam-macam ya!" ucap Rena dengan nada tinggi.
'Ternyata ini nyata? Apa yang saya perbuat? Tapi mungkin dengan cara ini saya bisa membuat dia segera meminta cerai,' ucap Allan dalam hatinya.
"Kenapa? Saya suami kamu, kamu tidak mau memberikan hak saya?" ucap Allan.
Setelah dorongan dari Rena, Allan pun berdiri dan mulai mendekat perlahan lagi.
"Kenapa aroma alkohol masih tercium pekat di bibir pak Allan? Pak Allan habis minum lagi?" tanya Rena.
"Kenapa? Kamu mau menemani saya minum?" tanya Allan dengan senyum menggoda.
Tanpa membalas ucapan Allan, Rena segera mengambil air madu yang di buat untuk Allan. Lalu kemudian dia menyodorkan minuman itu pada Allan.
Allan yang tidak tahu apa yang di berikan Rena pun bertanya,
"Apa itu? Minuman saya ada di dalam. Mau masuk ke kamar sekarang?" ucap Allan menggoda lagi.
Hal yang dilakukan Allan cukup membuat jantung Rena gemetar takut. Selain kondisi hati, pikiran dan perasaannya pun ikut was-was. Takut apa yang akan dilakukan Allan padanya dengan tiba-tiba saat dia mabuk.
"Pak Allan perlu minum air madu ini agar bisa tersadar dari mabuk, ada yang perlu saya bicarakan!"
"Apa?" tanya Allan lalu duduk di kursi meja makan dan kemudian meminum air madu Rena.
"Saya ingin meminta pak Allan untuk sesekali pulang ke rumah, kasian anak-anak sudah rindu."
"Bilang pada mereka, Saya sedang sibuk,"
"Sibuk? Sibuk minum-minum di tengah malam dan tidur di pagi sampai siang hari? Lalu setelah bangun tidur minum lagi dan mengulang siklus yang sama?" tanya Rena dengan nada kesal.
"Suka-suka saya dong,"
"Pak Allan nggak bisa gini terus, pak Allan masih punya anak-anak. Jangan egois!"
"Mau kamu apa sekarang?" tanya Allan.
"Pak Allan tau pasti mau saya apa."ucap Rena.
"Saya bisa segera pulang ke rumah, tapi dengan satu syarat," ucap Allan.
...***...