
"Malam ini saya akan segera pulang ke rumah," ucap Allan pada dirinya sendiri.
Dia tidak berani membuka pintu hotelnya lalu menghampiri Rena. Apa yang dia ucapkan sudah keterlaluan, untuk perempuan baik hati seperti Rena tentu saja cukup membuat sedih.
Rena pun mulai berdiri dan kemudian berjalan ke arah lift. Dia pasti akan segera pulang ke rumah, Allan pun masuk ke kamar hotelnya lagi.
Dia mulai mengemasi barang-barangnya untuk dibawa pulang. Dia juga menelpon Fathur untuk menjemputnya 2 jam dari saat dia telpon ini. Saat barang-barang sudah di kemasi, dia melihat makanan yang sudah di sajikan Rena untuk dia.
Dia pun mendekati hidangan Rena dan mulai memakannya. Dia semakin berat untuk menceraikan Rena. Seharusnya dia cukup senang, karena mungkin saja setelah ini Allan akan meminta diceraikan Allan. Namun dalam lubuk hati yang paling dalam, dia tidak rela jika harus bercerai.
Tidak lama setelah itu, Fathur pun datang dan membantu Allan untuk berkemas. Mereka pun segera berangkat menuju rumah.
2 jam sebelum itu
Setelah keluar dari kamar Allan, Rena sempat menangis di depan kamar hotel. Perkataan Allan cukup sangat melukainya. Dia tidak menyangka bahwa pemikiran Allan tentang dia adalah seperti itu.
Lalu kemudian setelah merasa lebih tenang dia berjalan ke arah lift agar bisa segera menemui teman-temannya.
Rena melangkahkan kakinya dengan cukup berat. Tubuhnya tidak terlalu banyak tenaga untuk mengambil handphone lalu menelepon taksi online. Akhirnya dia memutuskan untuk berjalan saja. Lagi pula kebetulan cafe tujuan dia dekat dengan hotel Allan.
Kebetulan sekali karena Rangga merasa cukup khawatir dengan Rena, dia pun memuaskan untuk menunggu Rena di depan cafe. Dia tahu pasti Rena bukan tipe yang suka mengingkari apa yang dia sudah katakan. Namun waktu saat ini sudah lebih dari yang Rena janjikan.
Akhirnya dia bisa melihat Rena dari seberang jalan. Senyum merekah pun terpancar di wajah Rangga. Namun saat jarak Rena sudah mulai dekat dengannya, dia melihat raut sedih terukir di wajah Rena. Rangga yakin ada sesuatu yang membuat dia bersedih.
Rangga pun bertanya pada Rena,
"Are you okay?" tanya Rangga sambil menggenggam tangan Rena.
Namun karena Rena masih sibuk dengan pikirannya, dia tidak menyadari ada Rangga di depan nya. Saat Rangga bertanya dia tidak menjawabnya, namun genggaman tangan Rangga segera di lepas Rena.
Saat ini Rena merasa bahwa dirinya sangat buruk. Jika seorang seperti Allan berpikiran seperti itu, bagaimana dengan Rangga dan yang lainnya?
Tiba-tiba dia teringat bagaimana Allan mengambil first kiss dia dengan kesukarelaan Rena. Dia pun kembali menangis sambil memegang bibirnya. Dia merasa menyesal karena sudah mempercayai Allan. Hatinya kembali terluka cukup parah.
Dahulu ayah kandungnya membuat dia kehilangan figur ayah, dengan keegoisan orang dewasa, dia menjadi korban dan terluka sendirian.
Setelah itu, saat dia menyukai Gilang selama bertahun-tahun. Dia malah dikhianati sosok yang sangat dia percayai. Bahkan sosok itu tidak pernah terpikirkan oleh Rena, jika suatu saat akan mengambil orang yang di sukai.
Terakhir, berawal dari kepedulian dia pada seseorang yang sedang sakit dan butuh bantuan. Dia suka rela menikah dengan seseorang yang tidak dia cintai. Hingga berakhir dia jatuh cinta pada seseorang yang sudah sah menjadi suaminya. Dia berpikir bahwa laki-laki yang sudah menjadi suaminya adalah orang baik, maka dia sukarela memberikan dirinya pada suaminya. Namun demi ingin bercerai dengan Rena dia tega mengatakan hal yang melukai hati Rena.
Rangga yang tidak tahu apa yang terjadi pada Rena pun cukup bingung harus berbuat apa. Lalu kemudian spontan dia memeluk Rena dengan harapan bisa membuat dia lebih tenang.
Benar saja setelah Rangga memeluk Rena, perlahan dia mulai tenang. Saat dia bisa berhenti menangis, Rangga pun melepaskan pelukannya.
Dahulu saat sedih dengan apa yang terjadi di keluarganya, Gilang selalu menenangkan Rena dengan memberikan pelukan hangat. Kini hal yang sama dilakukan Rangga. Meski kemalangan sering menimpa dia, namun dengan kebaikan Tuhan, selalu ada seorang yang bisa menjadi tumpuan Rena.
Meskipun hanya sebentar, namun setelah mendapatkan pelukan Rangga, dia pun bisa kembali tersenyum meski terasa di paksa.
"Apa yang terjadi Ren? Ada yang menindas lu?" tanya Rangga.
"Gue nggak bisa bohong kalau raut muka lu sekarang itu biasa aja, semua udah ke gambar jelas. Tapi gue ada solusi,"
"Apa Rangga?" tanya Rena penasaran.
"Lu pakai kacamata fashion gue. Kebetulan gue hari ini pakai kacamata fashion, setidaknya bisa menyamarkan sedikit." tawar Rangga.
"Oke, boleh. Gue pinjem ya." ucap Rena.
"Iya nih, pinjem aja. Balikin nya besok-besok gapapa," ucap Rangga sambil menyerahkan kacamata yang dia pakai.
Mereka pun masuk cafe dan menemui yang lainnya. Mereka tengah sibuk mengerjakan tugas masing-masing, jadi saat Rena datang mereka hanya menyapa lalu kembali fokus. Rangga pun tersenyum pada Rena tanda apa idenya berhasil. Rangga dan Rena pun menyelesaikan tugas mereka juga.
2 jam telah berlalu dan mereka pun telah menyelesaikan tugas. Saat ini mereka tengah sibuk memilih menu makan malam, saat Rena di tanya ingin makan apa pun hanya menjawab,
"Pilih terserah aja yang enak, gue telfon bentar ya."
Karena Rena berucap seperti itu, Zanna dan Abel pun memilih beberapa makanan sekaligus sesuai selera mereka. Sambil menunggu makanan sampai, mereka pun mengobrolkan hal-hal yang membuat mereka melupakan penat akan tugas sesaat.
Sedangkan Rena tengah sibuk menelpon bi Endang agar bisa menyiapkan menu untuk anak-anak. Dia juga meminta bi Endang dan yang lainnya menemani anak-anak makan. Rena memilih untuk makan di luar agar dia bisa menenangkan kesedihan.
Selesai menelpon Rena pun kembali. Saat kembali Zanna merasa ada yang janggal dari Rena, dia pun berbicara,
"Ren, gue rasa ada yang aneh deh di lu," ucap Zanna.
Rena yang takut Zanna menyadari gerak-gerik yang dia paksakan pun membeku. Rangga pun mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Apaan sih lu, perasaan lu aja kali Zan." ucap Rangga.
"Nggak, beneran deh.. Wait gue mikir dulu,"
"Apa Zan? Jangan bikin gue penasaran deh," ucap Abel yang jadi ikut penasaran.
"Nggak ada apa-apa Zan," ucap Rena.
"Lu kenapa pake kacamata yang tadi di pake Rangga? Ciee makin lengket aja nih kalian, jangan-jangan udah jadian ya?" tanya Zanna.
Apa yang dikatakan Zanna pun membuat Rena lega. Untung saja dia tidak menyadari tentang apa yang terjadi pada Rena sebenarnya. Dia masih bingung jika di tanya sahabat-sahabat nya tentang apa yang terjadi padanya.
"Apaan sih lu Zan, belum kok belum.. Doain aja," ucap Rangga kembali membuat suasana cair.
"Okey kita-kita pasti doain yang terbaik buat kalian," ucap Abel merasa cukup senang.
Rena tidak membela dirinya karena dia sedang tidak berselera untuk banyak bicara. Dengan Zanna dan Abel tidak bertanya lebih saja sudah membuat Rena bersyukur dan tenang.
...***...