Cold CEO & Cute Girl

Cold CEO & Cute Girl
Kakak Adek Terus Ya



Kisah cinta yang Rena inginkan sejak dulu adalah bisa dicintai orang yang juga dia cinta. Bukan hanya mendapatkan raganya saja, Rena ingin dia juga bisa mendapatkan banyak cinta dari seseorang itu. Karena sedari kecil dia belum pernah mendapatkan cinta yang utuh dari keluarga.


Orang tua kandungnya bercerai saat Rena berada di kelas 1 sekolah dasar. Mama Rena sudah tidak kuat dengan sikap papa Rena yang hanya suka bermalas-malasan dan mabuk saja. Ditambah dengan nenek Rena yang tidak suka dengan mamanya. Semakin bulat keinginan mama Rena untuk bercerai.


Setelah itu mama Rena menikah lagi dan dikaruniai anak. Sejak saat itu kasih sayang dan perhatian yang dia miliki perlahan mulai menghilang. Rena pun di asuh sang kakek dan nenek. Namun saat Rena kembali mendapatkan adik baru, nenek dan kakek Rena tiba-tiba meninggal dunia.


Akhirnya membuat Rena kembali tinggal satu rumah dengan mamanya. Namun di rumah itu Rena merasa seperti menjadi orang asing yang hanya numpang menginap di rumahnya sendiri. Dia sama sekali tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Maka dari itu dia bertekad untuk berkuliah di luar kota dengan berdalih mengikuti jejak Gilang. Apalagi dari awal selain Gilang, tidak ada lagi yang lebih berharga dan memperlakukan Rena sebaik Gilang.


Sama halnya dengan hari ini, Rena harus memulai semua dari nol lagi. Setelah kemarin kehidupannya cukup tenang dan damai selama 5 semester di kota dia menuntut ilmu ini, kini dia harus mendapatkan kepahitan yang sudah lama dia hindari lagi. Meskipun di rumah ini dari orang yang bekerja sampai anak-anak sangat menyayangi Rena, namun tidak untuk Allan. Jika Rena tidak jatuh cinta pada Allan semuanya akan baik-baik saja, tapi berbeda dengan situasi saat ini. Rena ingin sekali saja egois tanpa perlu memikirkan perasaan orang lain. Dia ingin mendapatkan cinta Allan sama seperti yang kak Fara dapat.


Namun karena sedari kecil dia tidak pernah menjadi orang yang egois, dia pun memberi semangat dirinya sendiri.


'Gue nggak boleh serakah, nggak bisa gini Rena. Kak Fara duluan yang hadir di hidup dia, wajar jika dia bisa mendapatkan hati pak Allan sangat besar. Tapi gimana dengan hati gue? Gue masih belum siap nerima pak Allan yang terpaksa bersama gue, padahal hatinya menolak..' batin Rena sambil berbalik melihat teras rumah besar di depannya.


Rena pun kembali melanjutkan langkahnya, dia tidak menyadari bahwa ternyata langit sudah mulai terang. Matahari juga sudah ingin menyapa dunia lebih cepat. Dia pun mempercepat langkah kakinya, hingga saat di gerbang dia lupa bahwa ada pak Faisal yang sedang berjaga. Pak Faisal pun segera menyapa Rena.


"Pagi nona, mau ke kampus ya? Kok bawa koper? Wah rajin sekali, sepagi ini sudah siap untuk ke kampus. Pak Faisal panggilkan pak Didit untuk mengantar ya. Sebentar nona," ucap Pak Faisal sambil akan melangkahkan kaki ke belakang.


"Nggak usah pak, terimakasih. Rena sudah pesan taxi. Rena pamit ya pak, minta tolong jagain anak-anak dan yang lainnya.." ucap Rena sambil tersenyum.


"Wah tumben sekali nona, biasanya kan di antar pak Didit..(tertawa receh)" tanya pak Faisal penasaran pada Rena.


"Iya pak, ingin olahraga pagi juga sekalian. Saya pamit ya pak," ucap Rena lalu dengan perlahan mulai melangkahkan kaki keluar dari rumah besar kediaman Allan.


Di sepanjang jalan Rena berusaha untuk menenangkan hatinya. Dia tidak bisa berjalan sambil menangis untuk yang kedua kalinya. Apalagi saat ini dia sedang membawa koper besar, akan seperti apa pikiran orang yang melihat dia nanti.


Langkahnya pelan dengan pikiran yang masih kosong, dia bingung harus kemana. Jika dia kembali ke kosan lama, apa kabar dengan Abel dan Zanna nanti? Pasti mereka akan menghujani Rena dengan banyak pertanyaan yang masih belum sanggup Rena jawab. Sampai setelah dia keluar dari perumahan, ada mobil yang mengklakson. Rena merasa dia sudah berjalan di jalurnya, dia pun tak menggubris klakson mobil itu. Hingga akhirnya sang pengendara berhenti tepat di depan Rena dan membuat Rena cukup terkejut. Saat orang yang duduk di kursi depan keluar, ternyata itu adalah Gilang.


Kini Gilang berada tepat di depan Rena. Rena hanya menatap Gilang dengan pandangan kosong. Rena tahu jika di depannya adalah Gilang, tapi dia tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Sampai kemudian Gilang bertanya tanpa henti pada Rena.


"Lu kenapa Ren? Are you okey? Cerita aja sama gue.."


"Dek.. Di depan lu ada kak Gilang, It's okey cerita aja dek.. Mau kakak Hug?"


Gilang pun membuka lebar tangannya, dia mengisyaratkan jika dia bisa menjadi sandaran Rena. Namun karena Ren masih juga diam, Gilang pun mendekat dan langsung memberi Rena pelukan hangatnya. Detik berikutnya tangis Rena pun langsung pecah. Rena memeluk Gilang cukup erat sambil menangis cukup kencang. Sampai orang-orang yang melewati jalan itu melihat mereka dengan pikiran bingung, namun Gilang tidak memikir pusingkan hal itu.


Setelah dirasa Rena sudah mulai tenang, Gilang pun mengajak Rena untuk masuk mobilnya. Gilang juga membantu membawa koper Rena dan dia masukan ke dalam bagasi mobil.


Gilang langsung menjalankan mobil menuju tempat yang jauh lebih nyaman untuk bercerita. Rena pun menceritakan semua hal tentang dia dan Allan. Juga tentang Zanna dan Abel yang belum mengetahui status Rena sekarang. Gilang pun memberikan saran yang bisa dia berikan pada Rena.


"Lu beneran percaya sama gue? Sahabat lu aja belum tahu tentang hal ini.."


"Kata lu, gue udah kayak adek lu sendiri kak. Jadi adek yang jujur kek abangnya sendiri boleh kan?" tanya Rena pada Gilang.


"Boleh dong, okey. Menurut gue masalah lu ini bukan cuman masalah sepele. Apalagi seiring berjalannya waktu lu udah mulai suka sama pak Allan, tapi lu nggak mau pak Allan mau lu bertahan di samping dia karena wasiat. Harapan lu, dia mau lu tinggal karena dia juga ada rasa sama dia. Bener gitu kan?"


Rena pun hanya menganggukkan kepala tanda bahwa yang di katakan Gilang benar.


"Untuk sementara waktu, lu bisa kos di deket kosan gue. Kebetulan ada kamar yang kosong dan kosan gue itu cowok cewek bisa masuk. Gue juga bisa jagain lu, lu bisa tenangkan pikiran dulu. Keputusan akhir di putuskan waktu lu udah siap. Gimana dek?"


"Boleh, yakin nih mulai sekarang lu panggil gue adek? Nanti pacar lu jealous lagi.."


"Aman, kan lu emang adek gue. Siapapun yang mau jadi pacar gue juga harus bisa terima adek gue ini. Gue udah kenal lu dari lama, gue tau lika-liku hidup lu untuk bisa bertahan sampai sekarang. Gue nggak mau lu ngelakuin hal yang bakal lu sesal nanti. Jadi inget ya, kalau ada sesuatu wajib cerita ke gue kayak sekarang. Nggak boleh lagi diemin dan cuekin gue kayak sebelumnya."


"Okey janji. Tapi lu juga harus janji kak, kalau ada sesuatu itu harus cari tahu masalah darimana dulu. Jangan langsung nyalahin gue dan belain pacar lu aja.."


"Okey gue janji..."


...***...