Cold CEO & Cute Girl

Cold CEO & Cute Girl
Rumah Sakit(2)



20 Menit sebelum Gilang bertemu Rena


"Aku mau kamu jelasin, tadi di kampus kamu ngapain sama Rena!" ucap Ajeng pada Gilang.


"Aku kan udah jelasin barusan. Aku ketemu dia nggak sengaja di toko coklat depan kampus. Terus kita cuman jalan berdua ke kampus aja udah. Nggak ada yang perlu di jelasin lagi," ucap Gilang.


"Jujur aja deh, kamu suka kan sama dia?"


"Pertanyaan konyol," ucap Gilang sambil tersenyum.


"Sekarang, kamu harus pilih salah satu. Kamu pilih aku atau dia?" tanya Ajeng.


"Kenapa harus pilih-pilih sih. Kalian itu punya porsinya masing-masing. Kamu pacar aku dan dia teman masa kecil sekaligus adik buat aku.."


"Nggak bisa, kamu harus pilih satu diantara kita! Nggak ada yang namanya temen masa kecil ataupun adik!"


"Nggak bisa gitu dong, udah nggak usah mikir konyol kayak gini lagi. Kita obrolin nanti lagi kalau kamu udah tenang." Gilang pun berjalan meninggalkan Ajeng, namun langkahnya di hentikan Ajeng.


"Kita belum selesai ngobrolnya..!" ucap Ajeng sambil memegang tangan kanan Gilang.


"Ngobrol? Sambil teriak-teriak itu juga bisa dibilang ngobrol?"


"Pilih salah satu diantara kita berdua! Dan pilihan kamu gampang banget, cuman harus pilih aku aja.. Gitu, udah cukup."


"Terus?"


"Kok tanya terus, kamu cuman selalu ada buat aku. Kalau pun kamu ketemu dia di jalan, nggak perlu sok kenal, nggak perlu ngobrol, nggak perlu say hi."


"Nggak bisa gitu dong!"


"Why? Semudah ini, kamu nggak bisa coba lakuin buat aku?"


"Dia itu udah lama kenal sama aku, bahkan kalau di tanya siapa yang jauh lebih kenal aku antara kamu sama dia. Aku yakin itu dia. Nggak bisa di suruh pilih kayak gitu, kamu ya kamu, dia ya dia.." ucap Gilang lalu berjalan meninggalkan Ajeng.


Ajeng yang masih cukup marah pun langsung pergi meninggalkan rumah sakit.


......................


"Jadi ceritanya gitu, menurut gue nggak perlu lah harus milih antara lu atau dia."


"Why? Lagian kalau lu ngelakuin apa yang dia mau, juga nggak masalah buat gue. Lakuin aja kak,"


"Nggak bisa gitu lah, selain kita udah jadi temen dari kecil. Kita masing-masing udah saling tahu baik buruk kita. Lu juga udah gue anggap jadi kayak adek gue sendiri, adek kandung.."


"Adek kandung?"


"Nggak boleh?"


"Nggak apa-apa sih, kalau gue tau ini dari dulu. Akan jauh lebih baik sih kak, tapi fine. Gue juga udah ada dia yang gue suka."


"Maksud lu?"


"Mumpung situasi dan kondisinya pas, gue jujur aja deh. Dulu gue pernah suka sama lu kak."


"Oh ya? Kok gue nggak sadar? Sorry tapi..."


"Dia? Siapa? Gue kenal sama orang itu?"


Saat sedang mengobrol, pandangan Rena tanpa sengaja melihat ke jam dinding. Saat ini sudah pukul 20.00, waktunya dia untuk segera pulang. Karena terlalu lama mengobrol dan mengurus teman-teman yang sakit, Rena melupakan bahwa dia perlu segera pulang ke rumah.


"Oh iya, udah malem. Gue lanjut cerita tentang dia next time ya kak. Gue harus balik sekarang, bye kak." ucap Rena lalu segera pergi meninggalkan Gilang di ruangannya.


Teman-teman Rena sudah dipindahkan ke kamar rawat inap. Setelah Rena menemukan kamar mereka, dia pun memberikan obat yang di bawanya pada Rangga. Rangga pun penasaran kemana perginya Rena. Karena dari sebelum mereka makan malam sampai sudah menghabiskan makan malam, Rena belum juga sampai. Sesaat setelah itu Rena pun masuk ke kamar rawat.


"Kemana aja Ren? Ambil obat kok lama banget?" Tanya Rangga.


"Sorry tadi ada problem di depan. Jadi gue bantuin bentar," ucap Rena.


'Sorry guys. Dengan sikap kalian yang masih kurang suka sama kak Gilang. Gue belum bisa jujur ke kalian kalau gue habis ngobrol sama dia. Gue tau kalian care sama gue, tapi gue udah ngerasa nggak apa-apa kalau ketemu kak Gilang lagi.' batin Rena.


"Oh ya, gue nggak bisa lama-lama. Gue harus balik, besok pagi-pagi sebelum ke kampus gue janji. Gue bakal kesini, nggak apa-apa kan?" tanya Rena ke teman-teman.


"Nggak mau makan dulu Ren?" Tanya Zanna.


"Nggak perlu, gue balik dulu ya. Rangga, jagain temen-temen ya.. Bye," ucap Rena lalu dia segera bergegas keluar ruangan.


"Nggak lu anterin dia Rang?" tanya Abel.


"Dia minta gue buat jagain kalian. Udah, habis minum obat buruan istirahat.. Jangan ada yang main hp." peringat Rangga pada teman-teman.


Mereka pun menuruti perintah Rangga. Hari ini mereka tidak bisa berbuat ulah dahulu, karena dengan Rangga mau menemani mereka, itu sudah cukup untuk sekarang. Apalagi mereka semua adalah anak Rantau kecuali Rangga.


......................


Perjalanan Rena dari rumah sakit ke rumah memakan waktu 30 menit. Di taksi Rena juga sudah mengirimkan pesan pada Allan, bahwa hari ini dia harus pulang terlambat.


Pukul 20.35 akhirnya dia sampai di rumah. Sesampainya di rumah Rena langsung di sambut pelukan anak-anak. Namun belum lama mereka berpelukan, Allan sudah meminta sus Rini untuk membawa anak-anak ke kamar.


"Sus Rini, bawa anak-anak ke kamar mereka sekarang." ucap Allan dengan nada mengintimidasi. Tatapan Allan tertuju pada Rena. Dia sudah siap mendengarkan alasan Rena kenapa dia pulang terlambat.


Namun karena Rena merasa bahwa tatapan Allan adalah tatapan meremehkan, dia sudah memasukkan kedalam hati. Niat awalnya yang ingin menjelaskan pun runtuh sudah. Dia memilih untuk berjalan melalui Allan begitu saja tanpa berkata sepatah kata pun. Apalagi memang sedari pagi Rena juga sudah mendiamkan Allan.


"Nggak ada yang perlu di jelasin? Siapa tadi yang janji ke anak-anak mau ikut makan malam bersama? Mereka tanyain kamu, saya harus jelasin apa ke mereka?" ucap Allan dengan nada tinggi.


Langkah Rena spontan terhenti setelah mendengar suara Allan yang cukup tinggi. Rena pun berbalik, dia diam dan menatap Allan dengan tatapan kesal.


"Kenapa diem aja? Jelasin!"


"Tadi habis ke rumah sakit, temen-temen tiba-tiba aja keracunan makanan. Jadi harus urusin mereka dulu," jawab Rena dengan wajah datarnya.


"Yakin itu udah yang paling jujur? Bukan untuk nemuin calon dokter itu?" tanya Allan.


Sedari Rena membuat alasan bahwa dia baru saja dari rumah sakit, pikiran Allan sudah tertuju pada Gilang. Dia cukup tahu bahwa first love Rena adalah Gilang. Apalagi saat Rena sedang patah hati, dia yang menjadi saksi dan sandaran sementara Rena. Kata rumah sakit sudah membuatnya terbakar api cemburu karena di sana pasti juga ada Gilang.


"Saya jawab jujur aja pak Allan udah nggak percaya, gimana mau bohong? Pak Allan tahu? Karena buru-buru pulang, saya sampai belum sempat makan malam. Dan karena pak Allan, saya udah nggak berselera makan lagi!" ucap Rena lalu dia pun meninggalkan Allan sendiri di ruang tamu. Rena pun masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya lagi.


...***...