
Sesampainya di rumah sakit, Fara sudah tertidur lelap. Di tatapnya istrinya lekat-lekat, dalam batin dia bertanya,
"Jika aku sudah mulai menyukainya, apakah kamu baik-baik saja? Aku rasa dia anak yang baik, aku ingin melindunginya, sama seperti aku melindungi kamu sayang," ucap Allan dalam hati.
......................
Keesokan paginya karena Rena terlalu lelah menangis, dia terlambat bangun pagi. Saat Rena masih terlelap tidur, ada dua malaikat kecil yang berusaha membangunkan dia. Rena pun kemudian terbangun, karena ulah dari Alea dan Ian. Selain mereka berdua, tentu saja tidak ada yang berani mengganggu Rena saat beristirahat.
"Loh, kalian sudah bangun? Pintar nya," puji Rena.
"Kakak kok masih tidur? Kakak sakit ya? Kita panggil kan Papa ya?" Tanya Alea.
"Nggak papa kok, kakak cuman kurang enak badan aja. Setelah sarapan pasti akan lebih baik," ucap Rena.
"Kakak mau kan antar Alea sama Ian ke school?" tanya Alea.
"Kamu mau kakak ikut antar?" tanya Rena.
Alea pun menganggukkan kepala, lalu kemudian Rena meminta mereka berdua untuk menyelesaikan breakfast mereka. Sedangkan Rena mandi dan bersiap untuk mengantarkan mereka. Setelah semua siap, dia pun mengambil tas kuliahnya juga lalu berjalan ke meja makan.
Bi Endang pun menyapa Rena dan meminta Rena untuk memakan sarapannya. Rena yang benar-benar merasa kurang enak badan pun hanya mengiyakan bi Endang. Lalu ternyata bibi juga sudah menyiapkan bekal untuk anak-anak dan Rena. Rena pun merasa bersalah karena sudah merepotkan bibi hari ini.
"Maaf ya bi, Rena hari ini terlambat bangun tidur. Jadi harus membiarkan bibi untuk menyiapkan semua sendiri," ucap Rena.
"Iya non tidak apa-apa, ini juga sudah menjadi pekerjaan wajib bibi untuk menyiapkan sarapan dan bekal," ucap bi Endang.
"Yasudah bi, Rena antar anak-anak ke school sekalian Rena langsung berangkat kuliah ya. Makasih bekalnya bi,"
"Sama-sama non," ucap Bi Endang.
Setelah itu, Rena pun berangkat mengantar anak-anak ke sekolah. Di sepanjang jalan Ian dan Alea selalu ada hal yang bisa membuat Rena tersenyum. Mereka bisa menjadi mood booster Rena hanya dengan tingkah lucu yang alaminya. Setelah menurunkan anak-anak ke sekolah, Rena pun langsung berangkat ke kampus.
Tidak lama setelah Rena turun dari mobil, ada mobil yang berhenti tepat di depan Rena. Sang pengemudi pun turun dari mobil. Saat dia berbalik kebelakang Rena baru tahu siapa yang mengemudi mobil, ternyata dia adalah teman satu jurusannya. Namanya Rangga Gufran Rahman. Dia termasuk cowok populer se universitas, apalagi karena dia memiliki paras yang tampan, tinggi, baik, dan friendly. Hampir seluruh kampus sudah mengenal dia, bahkan dia termasuk mahasiswa cerdas di fakultas komunikasi.
Rangga berjalan ke arah Rena, lalu menyapa Rena.
"Hai Ren, lu kemarin kemana aja deh? Lu tau, Abel sama Zanna seharian nyari lu. Kalau nggak karena gue meyakinkan mereka, kalau lu bisa handle masalah lu sendiri. Mungkin mereka akan cari lu sampe tengah malem," ucap Rangga.
"Oh ya? Thank you loh, kemarin gue langsung balik kosan. Terus karena handphone gue mati, jadi ya gue nggak bisa dihubungi mereka. Untungnya, sebelum tidur gue inget handphone gue, terus kabarin mereka deh," jelas Rena.
"Bagus deh kalo gitu, hm mau nebeng mobil gue nggak? Dari pada jalan maksud gue," ucap Rangga.
"Boleh, tapi aman kan? Maksud gue, nggak ada yang membahayakan di dalem mobil lu kan?" tanya Rena.
"Aman banget, yuk. Let's Go."
Setelah turun dari mobil, ternyata ada dua teman dekat Rangga yang sudah menunggu dia.
"Widih, Rena di jemput Rangga nih," ucap Galieh.
"Bentar lagi kayak nya kita dapet traktiran nih, jarang banget kan si Rangga kasih cewek tumpangan," ucap Rama.
"Kalian apaan deh, orang kita berdua ketemu di depan kampus kok. Tanya aja Rangga nya langsung," ucap Rena.
"Kalian jangan ngada-ngada deh. Kita tadi ketemu di depan," ucap Rangga.
Mereka pun lanjut mengobrol sembari jalan menuju kelas. Namun di depan kelas ternyata sudah ada Abel dan Zanna yang menunggu Rena. Mereka siap mengintrogasi Rena akibat kejadian kemarin.
"Ren, lu keterlaluan banget sih. Lu tau, gue sama Abel tuh khawatir sama lu," ucap Zanna.
"Ya sorry, kemarin gue nggak kepikiran buat kabarin kalian. Lagian setelah gue tenang terus gue buka hp, gue langsung kabarin kalian kan?" jawab Rena.
"Udah-udah, dosen bentar lagi dateng. Mending kita masuk dulu," ucap Rangga.
Setelah mendengar perkataan Rangga, mereka pun masuk ke kelas. Zanna dan Abel pun tidak membahas lebih dalam karena takut membuat Rena sedih. Jika biasanya Rena selalu duduk di antara Abel dan Zanna, maka kali ini sedikit berbeda. Rena duduk di antara Rangga dan teman - temannya. Karena bantuan Rangga, Rena pun berterimakasih pada Rangga.
"Thanks ya udah bantuin gue. Kalau nggak ada lu, mungkin mereka bakalan marahin gue habis-habisan." ucap Rena.
"Sama-sama, tapi cuman ucapan makasih aja nih? Kalau minta di traktir keterlaluan nggak?" tanya Rangga.
"Nggak kok, boleh. Tapi besok aja gimana?" ucap Rena.
"Oke deal,"
"Ajak yang lain juga kan? Atur aja tempatnya dimana," ucap Rena.
"Yang lain juga ternyata? Hm okey nggak masalah, di tempat nongkrong gue sama temen-temen aja berarti," ucap Rangga.
"Deal,"
Setelah itu dosen datang dan memulai memberi pengajaran.
......................
Berbeda hal nya dengan yang terjadi di rumah sakit. Allan juga berangkat untuk bekerja. Fara kembali sendirian di rumah sakit, meski begitu ada satu suster rumah sakit yang selalu menemaninya. Namanya suster Liana. Entah mengapa Fara merasa waktunya sudah tidak lama lagi. Meskipun dia sudah mengikuti semua prosedur pengobatan, dan semua spesifikasi mengarah pada hal yang positif. Tetapi yang merasakan sakitnya adalah Fara.
Maka dari itu Fara meminta suster Liana untuk mencarikannya kertas dan bolpoin. Setelah suster Liana keluar ruangan, ada dokter dan suster yang datang. Sudah waktunya untuk check up siang. Karena sudah terlalu sering, Fara cukup malas dengan percakapan dengan dokter yang isinya hanya harapan kosong. Fara pun pura-pura sudah tidur agar tidak diajak mengobrol.
...***...