
Melihat sikap Allan yang cukup gemas ini membuat Rena tidak bisa menahan senyum. Dia hanya tersenyum sambil mendengarkan Allan yang menggerutu. Hal ini memancing Allan untuk semakin kesal lagi padanya.
"Kamu ini kok senyum-senyum aja sih, aku itu lagi kesel sama kamu. Lagi marah juga tau.." ucap Allan sambil menatap mata Rena dengan ekspresi kesalnya.
Namun ekspresi kesal Allan saat ini dengan ekspresi kesalnya saat kemarin belum bersama Rena itu berbeda. Jika kemarin ekspresi kesal Allan cukup terasa dingin dan seram. Namun ekspresinya saat ini malah terasa cukup menggemaskan. Bahkan Rena ingin sekali terus menjahili suaminya ini.
"Habis kesel kamu sekarang nggak kayak kemarin sebelum kita deket, kesel kamu sekarang itu malah bikin aku makin gemes. Hmm... Kakak tampan, sudah punya istri belum? Kalau belum mau dong jadi istrinya..." goda Rena pada Allan.
Allan yang tahu jika Rena sedang menggoda dia pun langsung mengikuti alur mainnya.
"Belum nih, boleh kok... Ada syaratnya, sini kakak cium dulu, mau cium pipi? Kening? Atau ......." ucap Allan menggoda Rena sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Rena.
Ekspresi Rena pun menjadi tegang, dia pun memundurkan wajahnya dari Allan. Dia takut jika Allan akan benar-benar melakukan apa yang dia ucapkan barusan.
"Nggak boleh ya godain istrinya kayak gitu.." tegur Rena pada Allan.
"Orang kamu yang mulai duluan," jawab Allan pada Rena sambil tersenyum.
Mereka pun tertawa bersama. Setelah itu Allan pun meraih tangan Rena dan setelahnya dia menggenggam jemari lentik Rena. Mereka saling bertatapan sambil melontarkan senyum satu sama lainnya. Rena pun mencoba untuk memulai pembicaraan.
"Maafin Rena ya kak, kakak harus maklumin Rena dulu untuk hari ini. Ini kan pertama kalinya Rena menjalin hubungan. Jadi untuk syarat yang harus kabarin di mana, lagi apa dan lainnya itu ya harus di kasih tahu dulu. Lagian Rena nggak tahu kalau kak Allan itu tipe yang suka di kabarin atau nggak." jelas Rena pada Allan.
"Yaudah iya.. Aku terima alasan kamu. Kalau gitu mulai hari ini mau kemana, terus lagi apa, ngerjain apa, kabarin aku ya. Biar aku nggak khawatir dan bingung, harus fast respon.." pinta Allan pada Rena.
"Okey.. Deal, tapi.. Kalau Rena lagi sama sahabat, Rena belum bisa jawab fast respon. Mereka kan belum tahu kalau aku itu udah ada kakak... Jadi... Ya, kakak taulah..." ucap Rena sambil menunduk ke bawah.
"Yaudah, kenalin aja sama aku. Simple kan?"
"Nggak semudah itu kak, apalagi mereka itu sahabat aku. Pasti ada beribu pertanyaan yang akan mereka lontarkan. Jadi tunggu Rena siap dulu boleh kan?" ucap Rena pada Allan.
"Okey iya, nggak perlu se fast respon itu. Tapi kamu harus ingat, kabarin mau kemana, jam berapa, udah di sana belum. Okey?..." ucap Allan pada Rena.
"Okey siap. Hmm sambil tungguin makanan yang di beli Fathur, kita ganjel perut sambil makan cake dulu gimana? Mau nggak?" tawar Rena.
"Boleh, tapi maunya di suapi kamu ya..." pinta Allan sambil menampakkan wajah menggoda.
"Iyaa.. Rena suapi kakak.. Aaaaaa,"
Mereka pun akhirnya makan kue sambil bersenda gurau satu sama lainnya. Tidak lama kemudian Fathur pun datang membawa beberapa makan malam untuk mereka. Rena dengan cekatan menyiapkan makan malam Fathur, Allan dan untuk dirinya sendiri, setelah itu mereka pun mulai makan malam. Setelah makan malam selesai, Rena meminta Fathur untuk segera pulang beristirahat di rumahnya.
"Tidak apa nyonya, untuk hari ini bagaimana jika nyonya saja yang beristirahat di rumah? Setelah saya mengantar nyonya pulang biar giliran saya yang menemani tuan." ucap Fathur mengajukan diri untuk menjaga Allan di rumah sakit agar Rena bisa beristirahat di rumah.
Mendengar saran Fathur reflek saja Rena pun melihat ekspresi Allan. Tampak jelas jika Allan kurang setuju dengan saran yang Fathur berikan. Namun dia juga tidak ingin istrinya kelelahan karena sudah menemaninya di rumah sakit. Dia pun tidak berbicara dan hanya menatap wajah Rena yang kini sedang menatapnya. Rena pun kembali bersuara,
"Nggak apa-apa Fathur. Kemungkinan besok kak Allan juga sudah bisa pulang ke rumah kan? Malam ini biar saya saja yang menemani lagi. Kamu beristirahatlah di rumah, besok bantu saya urus kepulangan kak Allan.." ucap Rena pada Fathur.
Alhasil Fathur pun hanya bisa menyetujui ucapan Rena. Apalagi dia sudah melihat perubahan ekspresi yang signifikan pada tuan besarnya. Saat dia mengajukan diri untuk menemaninya, ekspresi Allan sudah seperti ingin menerkam Fathur. Namun setelah mendengarkan apa yang dikatakan Rena membuat ekspresi tuan besarnya kembali membaik. Fathur pun pamit dan kini hanya menyisakan Allan dan Rena saja yang berada di dalam ruangan.
Rena pun tersenyum pada Allan dan meminta dia untuk segera beristirahat. Namun sebelum beristirahat dia bertanya pada Rena.
"Kamu diskusi kelompoknya kok sampai malam? Emang mau ada projek apa?" tanya Allan.
Rena pun mengulurkan obat yang ada di tangannya ke Allan, setelah itu segera obat itu di makan Allan dan kemudian Rena memberi nya minum. Mendengar pertanyaan Allan, dia pun menjawab.
"Akan ada projek tugas video di luar kota. Jadi perlu banyak persiapan yang harus disusun matang," jawab Rena.
Jawaban Rena membuat Allan cukup terkejut dan kembali bertanya lagi.
"Ke luar kota? Kemana? Kapan? Kita kan baru bersama, kok kamu udah mau ninggalin aku. Apalagi meskipun aku udah boleh pulang dari sini, aku kan tetap harus di jaga eksklusif sama kamu..." Allan yang terkejut pun berhasil memberikan banyak pertanyaan pada Rena.
"Tenang dulu kak. Nggak lama kok, paling lama 10 hari. Rena akan selesaikan cepat agar bisa segera pulang dan ketemu kakak. Okey?"
"10 hari itu lama Rena sayang, kok kamu nggak jawab pertanyaan aku yang lainnya."
"Okey... Okey... Okey... Rena jawab. Rena ke Bromo sama Malang buat bikin 3 video. Jadi perlu waktu 10 hari untuk take video. Rencana kita akan berangkat Senin depan, jadi kita masih ada waktu satu Minggu untuk bisa main bareng anak-anak dan Rena juga bisa rawat eksklusif kakak..."
Allan pun tidak menjawab ucapan Rena melainkan hanya memandangi dia dengan tatapan kesal.
"Kak Allan jangan sering-sering marah kayak gini dong, nggak baik ih buat kesehatan. Lagian Rena ke luar kota buat ngerjain tugas bukan untuk traveling sendiri. Sebentar aja kok, tungguin Rena ya. Rena perlu dapat izin kak Allan, kan disini suami Rena kakak.." ucap Rena berusaha meyakinkan dan meminta izin Allan.
Namun ucapan Rena masih belum mendapat jawaban yang pasti dari Allan. Dia pun mulai berpikir bagaimana caranya agar bisa membuat suaminya tidak merajuk lagi padanya. Akhirnya dia mendapatkan ide yang cukup menarik dan segera dia ajukan pada suami.
"Gimana kalau besok setelah Rena pulang kampus kita kencan aja. Terus lusa kita ajak anak-anak main ke tempat bermain. Jadi selain menemani anak-anak kita juga bisa kencan lagi. Bisa main bianglala, hmm naik kuda, terus naik permainan yang seru lainnya.." Saran Rena pada Allan.
...***...