Cold CEO & Cute Girl

Cold CEO & Cute Girl
Kakak Tersayang Pulang



Allan mendengarkan dengan serius apa yang ingin dia dengar selama dua hari ini. Namun ada hal yang lebih memicunya untuk masih marah pada istri kecilnya selain hal ini. Ada rasa tidak percaya diri dan takut jika nanti Rena akan meninggalkan dia bersama dengan orang lain. Apalagi setelah keluar dari cafe ada laki-laki seusia Rena yang mengantar. Tentu saja dia tidak bisa bertanding dengan teman Rena, apalagi jika di lihat dari usia dan kondisi dia lebih unggul. Bukan perkara kedudukan, tapi wanita mana yang tidak menyukai laki-laki tampan yang seusia dengan nya.


Akhirnya amarah yang masih di tahan pun naik. Allan mulai mempertanyakan laki-laki tadi dan hal ini memancing penasaran Rena.


"Terus siapa tadi yang nganter kamu keluar? Kenapa harus dianter depan?" tanya Allan.


"Oh itu Rangga kak, teman satu kelas Rena sekaligus temen tim untuk buat video besok. Wait, kak Allan nggak lagi cemburu karena Rangga kan?" tanya Rena, dia mulai bisa membaca situasi saat ini.


"Nggak.. Kenapa harus cemburu, dia juga nggak akan bisa dapetin kamu. Kamu kan udah jadi istri aku.." ucap Allan menyangkal pertanyaan Rena sambil melihat ke arah lain.


"Yaudah iya, lihat sini dong. Sekarang udah mau maafin Rena belum? Kalau ada apa-apa itu jangan langsung di luapkan pake emosi. Di obrolin dulu baik-baik, kalau Rena lagi periode bulanan, terus kak Allan emosi dan Rena juga ikut emosi. Nggak tau deh nanti akan jadi kayak gimana kita.." jelas Rena pada Allan.


Allan pun mulai berpikir jika dia sudah keterlaluan, dia mulai memegang kedua tangan Rena dan berbicara.


"Ya jangan gitu lah.. Aku juga nggak akan mau berantem besar sama kamu lagi, cukup kemarin aja kita perang dinginnya. Mulai sekarang nggak boleh lagi perang dingin.." ucap Allan sambil memegang kedua tangan mungil Rena.


"Yaudah kita baikan ya.. Sini Rena peluk dulu biar marahnya hilang,"


Allan pun tersenyum karena perlakuan Rena yang cukup lembut dan perhatian ini. Mereka pun berpelukan di dalam mobil sport hitam matte yang sedang terparkir di pinggir jalan. Suasana yang awalnya cukup panas pun bisa berubah menjadi dingin kembali. Setelah itu mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju mall terdekat. Setelah membeli barang yang diinginkan, mereka mampir sejenak di daerah food court untuk makan malam. Disini mereka mulai memberikan perhatian kecil untuk satu sama lainnya. Setelah selesai makan, mereka pun langsung pulang ke rumah. Mereka takut jika nanti anak-anak menunggu kepulangan mereka.


Di rumah


Saat sampai di rumah sudah ada anak-anak yang menunggu mereka pulang di ruang tamu. Jika siang tadi Alea dan Ian langsung berlari ke arah papa mereka. Kini saatnya untuk mereka berlari ke arah Rena. Melihat sikap lucu dan menggemaskan Alea dan Ian membuat Rena tidak berhenti tersenyum gemas. Setelah itu Rena pun berhasil mendapatkan pertanyaan Alea yang mulai cukup kritis.


"Kak Rena nggak akan ke sekolah lagi kan? Kemarin waktu papa ada di rumah kakak nggak ada, waktu kakak ada di rumah papa nggak ada. Alea kangen makan masakan kakak.." tanya Alea pada Rena.


"Ian juga mau makan masakan kakak.." tambah Ian yang tidak tahu apa-apa tetapi ingin mengikuti perkataan kakaknya.


"Iya, kakak besok pagi kakak masakin. Mau makan apa? Kalau malam ini mau bikin camilan aja nggak sama kakak?" tanya Rena pada kedua anak sambungnya yang sangat lucu.


"Ian mau di masakin sushi.." jawab Ian cepat.


"Kalau Alea mau apa?" tanya Allan pada anak tertuanya.


"Alea juga mau dibuatkan sushi.. Malam ini boleh makan salad buah buatan kakak nggak? Alea mau makan salad buah.." ucap Alea dengan senyum manis yang merekah.


"Boleh, okey. Besok kakak buatkan sushi. Malam ini kita makan salad buah.. Ayo sini, bantuin kakak pilih buahnya ya.." ajak Rena pada Alea dan Ian.


Allan melihat Rena yang masih sibuk mencuci bekas alat-alat yang dia gunakan barusan di dapur. Dia pun berjalan mendekati Rena dan kemudian memegang tangan mungilnya.


"Kamu dari tadi sibuk banget sih, udah buat cuci piring biar tugas bi Endang nanti. Yuk makan, aku lihat salad buah kamu nggak. Kenapa semua orang dapet terus kamu nggak sisihkan buat kamu sendiri?" tanya Allan pada Rena.


"(tertawa receh) Rena cuman perlu minum susu terus tidur. Lagian, ini udah malem kak, kita kan juga udah makan. Takut gemuk.." ucap Rena sambil menunduk malu.


Hal ini membuat Allan semakin gemas dengan istri kecilnya. Karena hal ini akhirnya dia langsung mengecup bibir Rena dan setelah itu memalingkan wajahnya, seolah tidak ada yang terjadi sebelumnya. Hal ini pun membuat Rena terkejut, dia langsung melihat ke arah meja makan.


"Udah... Lihat apa? Anak-anak nggak akan lihat kita kok, mereka lagi sibuk makan salad buah.." bisik Allan.


"Kak Allan.. Lain kali itu kode-kode dulu..Kalau Rena punya sakit jantung gimana?" ucap Rena kesal.


"Tapi kan kamu nggak dan jangan bilang gitu lagi. Nggak boleh ngomong sembarangan, okey..?" peringat Allan.


"Papa, kalau nggak ke meja makan.. Salad buahnya Alea makan ya.." teriak Alea.


Rena dan Allan pun kini saling bertatapan setelah mendengar apa yang dikatakan Alea.


"Tuh di panggil, di habisin loh nanti.." ucap Rena sambil menatap Allan.


"Kan bisa minta dibikinin kamu.." ucap Allan sambil terus menggoda Rena.


"Papa..." teriak Ian.


"Udah sana, bentar lagi cuciannya selesai. Rena langsung ke meja makan." ucap Rena meminta Allan untuk segera ke meja makan.


Setelah mencuci alat masak kotor, Rena pun langsung berjalan ke meja makan sesuai dengan janjinya. Dia berdiri di belakang meja makan yang dulunya adalah tempat kak Fara. Lalu kemudian dia melihat foto keluarga yang ada di dekat meja makan. Dia tersenyum dan berkata dalam hati,


'Kak Fara, sekarang kakak udah tenangkan di sana? Rena akan jaga keluarga kecil kita..'


Allan sibuk makan salad buah sekaligus melihat berkas-berkas yang ada ditangannya. Dia tahu jika langkah Rena mendekat, namun dia tidak mengetahui kenapa Rena tidak juga duduk di sebelahnya. Lalu saat dia mulai mengedarkan pandangan, dia melihat Rena yang tengah menatap foto keluarga lamanya.


...***...