
Respon Allan hanya diam dan memandang wajah Rena tanpa berekspresi sama sekali. Hal ini membuat Rena menghela kan nafas berat dan menampakkan ekspresi kecewa pada Allan. Sesaat setelah itu Rena berjalan ke arah sofa dan kemudian menyiapkan selimut untuk dia beristirahat. Dia tampak cukup kecewa dengan respon suaminya.
Jika bukan karena tugas kuliah, dia juga tidak akan merajuk sampai di tahap ini. Sebelum Rena berbaring di sofa, dia melihat ke arah ranjang Allan. Sesaat setelah itu kedua bola mata mereka bertemu, Rena melihat Allan yang melambaikan tangan seraya meminta Rena untuk mendekat. Selama 5 detik Rena hanya menatap apa yang dilakukan Allan. Detik berikutnya dia pun berjalan mendekat, ketika jarak mereka sudah semakin dekat salah satu dari mereka pun berbicara.
"Okey, aku setuju. Tapi jangan lupa kalau di rumah kamu masih punya suami, yang lagi nungguin kamu pulang ke rumah. Jadi jangan lama-lama ya perginya.." ucap Allan berbicara.
"Okey, janji. Rena pasti akan kabarin kalau mau on the way kemana pun, lagi apa, terus juga akan balas chat dari kakak.." ucap Rena sambil tersenyum senang.
"Pastiin handphone kamu nggak dalam keadaan habis baterai ya. Besok kita jalan seperti yang kamu bilang, sekalian beli power bank buat kamu. Nggak ada alasan nggak bisa bales chat karena habis baterai.." ucap Allan menegaskan.
"Iya kak, okey.." jawab Rena dengan senyum yang masih terukir di wajahnya.
"Sekarang kamu harus tidur di sebelah aku dulu.." pinta Allan pada Rena.
"Hm? Jangan, nanti kak Allan kesempitan.." jawab Rena berdalih mencari alasan.
"Nggak kok, masih cukup. Sini.. Kalau kamu nggak ikuti mau aku, nggak boleh ya pergi ke luar kota..!" peringat Allan pada Rena sambil menepuk-nepuk samping ranjang rumah sakit.
Mendengar ancaman Allan, akhirnya Rena pun hanya bisa menuruti mau Allan. Dia perlahan berbaring di sebelah Allan. Lalu setelah memastikan jika posisi tidur Rena sudah nyaman, dia pun memeluk Rena dan kemudian hanya perlu waktu beberapa menit dia sudah terlelap dalam tidurnya. Sedangkan Rena sedari tadi belum juga bisa tertidur. Dia sedang mengontrol denyut jantungnya yang sedang berdegup kencang. Dia menatap jam dinding, ternyata sudah pukul 11.30 malam. Setelah memastikan jika Allan sudah terlelap dan tidak akan bangun lagi sebelum matahari terbit, dia pun bergeser dan segera turun dari kasur rumah sakit.
Rena merasa cukup haus, namun air di tahu jika air mineral yang ada di ruangan ini sudah habis. Dia pun berinisiatif untuk berjalan pergi menuju minimarket depan rumah sakit. Setelah mendapatkan apa yang dia butuhkan, Rena segera bergegas kembali ke dalam ruang kamar Allan. Namun dia dihadang dengan tontonan yang sebenarnya tidak ingin dia lihat.
Rena tengah melihat sepasang kekasih yang sedang bertengkar hebat di taman rumah sakit. Pasangan yang seharusnya cukup serasi jika dipandang, apalagi karena pihak perempuan berprofesi menjadi perawat sedangkan pihak laki-laki menjadi dokter.
......................
20 menit sebelum Rena datang
"Menurut aku, dengan emosi kamu ini. Kita nggak bisa ngobrol sekarang, tunggu emosi kamu reda baru kita obrolin lagi..." ucap Gilang pada Ajeng di dalam ruangan pribadi dia.
"Tapi aku nggak mau, aku mau bahas sekarang.. Dia udah keterlaluan dan kamu bahkan nggak mau dengerin apa mau aku.." jawab Ajeng masih dengan emosi yang sudah membuncah.
Mendengar apa yang baru dikatakan Ajeng, akhirnya Gilang pun memilih untuk keluar ruang pribadinya. Dia tidak ingin berdebat dengan Ajeng sekarang, apalagi dengan sifat Ajeng yang keras kepala. Gilang yakin dia hanya akan membuat masalah semakin rumit.
"Kamu kenapa terus belain dia! Disini yang jadi pacar kamu itu aku bukan dia.." protes Ajeng.
"Tapi jelas-jelas disini yang salah itu kamu. Kenapa kamu minta aku buat usir dia dari kosan?" tanya Gilang pada Ajeng.
"Karena dia ada niatan lain, makanya dia mau pindah ke kosan kamu. Kalau dia emang nggak betah di kosan sebelumnya, dia kan bisa balik lagi ke kosan lama! Nggak harus di kosan yang sama kayak kamu!" jawab Ajeng dengan emosi yang masih meledak-ledak.
"Kamu itu terlalu berpikiran buruk tentang dia. Dia nggak seperti apa yang kamu pikir. Aku nggak habis pikir, kenapa dulu aku bisa suka sama kamu!" jawab Gilang cukup kesal dengan Ajeng, dia pun enggan melihat wajah Ajeng saat berbicara dengannya.
"Kenapa? Kamu nyesel sekarang? Jangan bilang bener apa yang udah aku pikirin tentang dia. Dia udah ngomongin aku apa aja? Dia udah jelek-jelekin aku kan di depan kamu.."
"Dia nggak perlu jelek-jelekin kamu, karena dengan sendirinya kamu udah nunjukin hal buruk kamu sendiri..!"
"Oke, sekarang aku cuman kasih kamu satu kesempatan lagi. Kamu pilih aku dan kita akan baikan lagi. Atau kamu pilih dia dan kita harus putus sekarang.." tanya Ajeng pada Gilang.
"Nggak usah kekanak-kanakan, kamu udah ancam aku berkali-kali dengan hal yang sama. Dan kamu harus tahu, sampai kapan pun aku nggak akan bisa pilih salah satu, karena dia juga sama pentingnya buat aku.. Aku tahu mau kamu apa, kamu maunya aku pilih kamu aja kan. Ancaman yang sama seperti sebelumnya!"
"Cuman pilih aja, nggak usah berbelit-belit gitu!"
"Tentu aja ini pilihan termudah buat aku, aku pasti akan pilih dia. Dan ini adalah perdebatan terakhir kita, jangan salahkan aku. Ini kemauan kamu sendiri buat putus dari aku." jawab Gilang pada Ajeng dengan lugas tanpa keraguan.
"Okey, kamu jangan nyesel ya. Besok kalau kamu minta balikan, aku nggak akan mau. Mulai hari ini kita putus!" ucap Ajeng dengan mantap.
'Aku yakin bentar lagi kamu akan minta maaf ke aku dan kita akan balikan lagi..' batin Ajeng dengan senyum jahatnya.
Namun ternyata hal yang dilakukan Gilang membuat Ajeng menyesal. Gilang tidak berusaha membujuknya. Dia memilih untuk berjalan meninggalkan rumah sakit. Dia berjalan melewati Ajeng begitu saja. Ajeng pun berbalik dan terkejut karena sudah ada Rena yang sedang berdiri di taman ini juga.
Sebenarnya Rena sudah mendengar hampir dari semua pembicaraan mereka. Dan Gilang juga sudah menyadari keberadaan Rena sejak awal. Gilang pun melangkahkan kakinya mendekati Rena. Lalu setelah itu Gilang pun menyapa Rena,
"Hi Ren.."
...***...