Cold CEO & Cute Girl

Cold CEO & Cute Girl
Tatapan Menakutkannya



Di Ruangan Kamar Allan


Setelah Rena keluar ruangan kamar untuk melakukan urusannya, beberapa detik setelah itu Allan pun sadar. Perlahan dia mulai membuka matanya, karena pandangannya sedikit kabur dia mencoba mengedipkan beberapa kali kelopak matanya. Setelah sudah jelas, dia pun menyadari bahwa kini dia tengah terbaring di ranjang rumah sakit. Detik selanjutnya saat dia menoleh ke sisi kanan, dia bisa melihat ada Fathur yang tengah menatap laptopnya.


Emosi Allan pun naik karena ternyata orang yang ada di bayangannya hanyalah khayalan. Dia cukup jelas tahu bahwa ada seseorang yang mirip Rena tengah mengobrol dengan dia. Bahkan saat di mobil seseorang itu juga duduk di samping Allan, menggenggam tangannya demi menyalurkan energi yang dia punya untuk Allan. Allan menengok ke sisi kirinya, ada gelas yang berisi air putih. Segera dia mengubah posisi tidurnya menjadi duduk dan langsung mengambil gelas tadi, setelahnya langsung di lempar Allan ke sisi kanannya agar Fathur menyadari jika dia sudah sadar.


Prank


Benar saja, suara pecahan kaca pun mengaburkan fokus Fathur. Dia terkejut dengan suara pecahan yang Allan buat. Dia segera mendekat ke arah Tuan Allan dengan tujuan untuk menenangkan suasana hatinya. Namun belum sampai Fathur melangkahkan, Ada lemparan kedua Allan yang berasal dari vas bunga.


Prank


Fathur pun bingung dengan apa yang terjadi pada tuan Allan. Emosinya kini sungguh naik turun dan cukup berbahaya jika hal ini terus dibiarkan. Apalagi di rumah ada anak-anak yang masih belum bisa mengerti urusan orang dewasa. Fathur pun mencoba untuk menenangkan Allan.


"Tuan Allan, sabar dulu. Tenang ya.. Apa yang terjadi hingga membuat tuan marah seperti ini. Semuanya bisa diselesaikan dengan baik," ucap Fathur sambil berjalan perlahan mendekati ranjang rumah sakit Allan.


"Dengan baik? Apa saya meminta kamu untuk membawa saya ke rumah sakit? Kamu hanya perlu membiarkan saya kesakitan saja.." jawab Allan dengan nada tinggi.


"Tentu saja saya tidak bisa melakukan hal itu tuan.." jawab Fathur pada Allan dengan nada rendah.


"Kamu di gaji bukan untuk selalu ada didekat saya. Juga bukan untuk menolong dan membawa saya ke rumah sakit!"


"Tuan Allan Tenang dulu, tuan baru sadar dari pingsan. Saya panggil kan dokter agar tuan bisa di periksa lebih lanjut.." ucap Fathur.


"Kamu tidak sadar juga dengan apa yang saya mau? Saya cuma mau menyusul mereka. Pergi kamu dan jangan panggilkan dokter untuk saya. Pergi kamu, saya hanya mau pergi menyusul mereka saya..." ucap Allan dan kemudian dia melemparkan segala barang yang ada di dekatnya. Dari obat, buah charger hp, hp Allan sendiri, selimut yang dia pakai, dan terakhir dia lempar bantalnya ke arah pintu.


Namun tanpa di sengaja Rena sudah berada di dalam ruangan kamar Allan. Dia mendengar semua perkataan Allan. Bahkan bantal yang Allan lempar berhasil mendarat di wajah Rena.


"Pergi kamu sekarang!" ucap Allan mengusir Fathur.


"Baik tuan, saya akan pergi setelah merapikan ruangan ini.." ucap Fathur sambil kemudian dia berjongkok dan mengambil semua barang yang ada di lantai.


Tentu saja apa yang terjadi di depannya ini membuat Rena kesal dengan Allan. Dia tidak bisa memperlakukan orang lain yang sudah menolong nyawanya seperti ini. Hingga hal ini membuat Rena mulai mengeluarkan suara.


Allan yang mendengar ada suara Rena pun langsung menengok ke sisi kiri. Benar saja suara yang baru saja dia dengarkan adalah suara Rena. Dia pun mulai tersenyum bahagia karena melihat orang yang ada di sampingnya tadi benar dia.


"Kenapa yang dilempar kesini cuman bantal? Lempar yang keras-keras dong, eh gelas nya udah pecah? Vas bunga juga pecah? Mau Rena carikan yang lain?" tawar Rena sambil berjalan mendekat ke arah Allan.


Allan hanya bisa mematung, dia tidak ingin perkataannya membuat Rena pergi dan meninggalkan dia lagi. Beberapa jam tidak melihat dan membayangkan hari-hari tanpa Rena saja sudah cukup berat untuknya. Dia pun mulai menunduk seiring dengan Rena yang berjalan mendekat.


"Udah Fathur, nanti saja biar saya yang bersihkan. Kamu bisa pulang dulu sekarang. Jam kerjanya juga sudah berakhir kan? Bukannya kamu sudah di suruh pergi?"


Mendengar ucapan Rena, Fathur cukup tahu bahwa suasana hati nyonya mudanya sedang tidak baik. Dia pun menuruti perkataan Rena. Dia memandang Rena yang masih melihat ke arahnya, lalu Fathur mengangguk kepalanya dan melangkah berjalan pergi.


"Saya pamit dahulu, besok sebelum ke kantor saya akan mampir kesini tuan.. nona.."


Setelah kepergian Fathur ruangan pun terasa cukup menegangkan. Dengan Rena yang masih menatap tajam ke arah Allan. Jika sebelumnya Rena cukup khawatir pada Allan, kini rasa khawatir itu berubah menjadi kesal. Dia mendengar dengan telinganya sendiri jika Allan melakukan itu demi menyusul mereka.


Sedari dahulu hingga kini meskipun Rena tidak cukup merasakan kebahagiaan yang dia inginkan. Namun dia tidak pernah berpikir untuk pergi meninggalkan dunia ini menyusul kakek dan nenek. Jika pun dia cukup kesal dengan sikap orang rumah, dia hanya memiliki keinginan untuk bisa segera pergi meninggalkan rumah. Dia tidak menyangka jika di titik terendahnya, pak Allan tidak sanggup untuk bertahan hidup di dunia ini.


"Kenapa diem aja? Nggak ada yang mau di jelasin? nih bantalnya, kalau mau dilempar lagi, ke arah Rena aja. Yang keras sekalian,"


Allan benar-benar tidak bisa berkata apapun. Dia hanya menatap bawah sambil sesekali melihat ke arah Rena.


"Kenapa tadi mau nyusul? Mau nyusul siapa? Kamu lupa kalau di rumah itu ada anak-anak yang nungguin kamu pulang? Mereka kangen sama kamu, mereka sayang sama kamu. Jahat banget kamu sama mereka, kamu lupain mereka gitu aja? Mau ninggalin mereka sendiri?" Rena pun mengeluarkan berbagai pertanyaan yang ada di kepalanya saat ini.


"Nggak jadi kok, Maaf..." ucap Allan sambil menunduk.


"Aku itu disini! Kamu kalau di ajak ngobrol itu di liat wajah orang yang ngajak ngobrol. Kenapa nunduk ke bawah?" tanya Rena pada Allan. Meskipun sebenarnya setelah melihat apa yang Allan lakukan padanya saat ini, membuat hati Rena tidak tega. Pasalnya akan lebih baik jika Allan juga ikut mendebat ucapan Rena. Namun hal yang dilakukan Allan di luar prediksi Rena. Dia hanya menjawab sedikit pertanyaan Rena, bahkan dia menjawab sambil menunjuk.


"Itu cuman... Hmmm... Nggak jadi... Jangan marah lagi ya..." ucap Allan dengan ragu-ragu sambil menatap mata Rena.


"Tau nggak alasan kenapa Rena marah ke pak Allan? Gara-gara apa tau nggak?" tanya Rena pada Allan lagi.


...***...