Cold CEO & Cute Girl

Cold CEO & Cute Girl
Satu Tamparan



Situasi saat ini adalah situasi tercanggung yang pernah dialami Rena. Dia bingung harus bagaimana. Pasalnya dia hanya seorang yang lewat setelah membeli air mineral. Jika dia tahu di jalan ini akan ada orang yang putus, tentu saja dia tidak akan memilih untuk melewati jalan ini.


Apalagi sepasang kekasih yang sedang bertengkar ini adalah orang yang dia kenal. Meskipun Rena sudah tidak memiliki perasaan untuk Gilang, namun dia tahu pasti jika penyebab mereka putus adalah dia. Rena cukup tahu jika Ajeng sangat cemburu dan ingin membuat batas antara Rena dan Gilang. Sementara sejak awal Gilang memang sudah menganggap dia sebatas adik. Dan nyatanya saat ini hati Rena hanya dia berikan untuk Allan. Sedangkan Ajeng tidak mengerti akan hal ini. Di tambah baik Rena ataupun Gilang cukup malas untuk menjelaskan hal yang sebenarnya pada Ajeng. Ini juga karena apapun itu Ajeng tidak akan mengerti.


Ajeng yang melihat Gilang sedang berjalan menuju arah Rena pun semakin kesal dan marah. Tangan Ajeng semakin mengepal kuat saat melihat Gilang yang menyapa Rena dahulu. Karena dia sudah tidak bisa menahan emosi, akhirnya dia memutuskan berjalan mendekati mereka.


"Hi Ren..." sapa Gilang.


"Sorry kak, Gue.. Itu.. Nggak bermaksud buat liat dan dengerin apa yang terjadi. Tapi.. Ya... (plak)" Rena belum sempat melanjutkan kata yang terhenti karena sebuah tamparan berhasil mendarat di pipinya.


Spontan Rena langsung menatap ke sumber yang sudah menamparnya. Belum sempat Rena berbicara Ajeng sudah mulai menarik dan menjambak rambut Rena. Reflek saja Rena langsung teriak dan berbalik melakukan hal yang sama pada Ajeng. Mereka berdua pun saling menjambak. Untung saja Gilang bisa segera menghentikan mereka berdua untuk berhenti saling menjambak.


"Lu tuh perawat, bisa logis nggak sih. Kasar banget, gue nggak habis pikir sama lu. Segala nya itu bisa diselesaikan dengan ngobrol! Bukan pake cara yang kayak gini."


"Banyak ngomong banget sih lu, jangan sok bijak ya lu Anjing!" jawab Ajeng dengan nada tinggi.


"Lu yang Anjing anjir.." Rena pun sudah mulai kehilangan kesabarannya.


"Puas kan lu udah buat gue sama kak Gilang putus! Semua ini gara-gara lu, tau nggak?!"


"Kenapa jadi gue deh.. Aneh..." ucap Rena dengan memandang kesel pada Ajeng.


"Udah nggak usah didengerin, gimana kalau kita ke ruangan gue aja?" tanya Gilang berusaha untuk menengahi.


Ucapan Gilang hanya dibalas tatapan tajam Rena yang membuat Gilang spontan berhenti berbicara.


"Yang perlu lu tau, gue bersyukur karena kak Gilang udah sadar buat putus dari lu.. Gue harap setelah ini lu bisa segera berubah dan nggak kayak gini lagi.."


"Setidaknya kalau lu jadian sama dia, berarti lu dapetin seseorang yang udah bekas gue..!" ucap Ajeng pada Rena membanggakan dirinya.


"Apaan maksud kamu? Emang aku ini barang?" giliran Gilang yang ikut emosi.


"Sabar kak, ini biar gue yang tanggapi. Lu diem aja," ucap Rena menenangkan Gilang.


Setelah di rasa Gilang sudah mulai tenang, Rena pun menjawab apa yang dikatakan Ajeng padanya.


"Kamu harus tau kalau dia itu suka sama kamu dari dulu, dia cuman mau rebut kamu dari aku.. Dia nggak sebaik itu, aku tau dia itu orang yang kayak gimana.." ucap Ajeng berbicara pada Gilang dengan menyudutkan Rena.


"Maksud lu apa Ren?" tanya Gilang yang tidak tahu apa-apa.


"Seperti yang udah lu tau kak, gue pernah suka sama lu. Dan itu nggak sesederhana itu. Gue udah suka sama lu sejak di zaman kita masih sekolah. Di kosan lama wajar dong kalau gue cerita sama temen-temen gue, eh terus tau-tau lu udah jadian aja sama dia. Padahal tinggal dikit lagi tuh gue bisa jadian sama lu.." jawab Rena pada Gilang.


"Nggak usah se bangga itu lu, awas ya lu. Lu akan dapetin hal yang bikin lu nyesel karena udah kibarkan bendera merah ke gue! Gue bakal balas dendam sama lu, tunggu aja.." ucap Ajeng lalu segera pergi meninggalkan tempat itu. Dia cukup takut jika bertanya kenapa bisa setega itu pada Rena yang notabenenya sahabat sendiri.


"Hei kok pergi, belum selesai kita nostalgia nya.." teriak Rena pada bayangan Ajeng yang semakin hilang.


Rena pun tersenyum geli melihat apa yang dilakukan Ajeng. Sedangkan Gilang fokus memperhatikan pipi Rena yang sudah di tampar Ajeng. Gilang pun langsung menarik tangan Rena dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit.


Sama seperti sebelumnya, suster yang sedang berada di resepsionis pun melihat mereka. Rena pun cukup bingung kenapa Gilang bisa menarik tangannya.


"Kak, mau bawa gue kemana sih. Lepasin aja, gue bisa jalan sendiri.." ucap Rena sambil berjalan beriringan dengan Gilang. Dengan tangannya yang masih juga digenggam.


Rena sempat melihat ekspresi iri dan tidak suka yang di sorot beberapa suster yang sedang jaga malam. Karena merasa jika dia tidak melakukan kesalahan apapun pada mereka, Rena pun hanya memberikan tatapan bombastic side eye nya. Lalu setelah itu dia berjalan dengan percaya diri mengikuti langkah kak Gilang.


Ternyata dia membawa Rena ke ruang pribadi kerjanya. Dengan cekatan Gilang mengambil kotak obatnya dan langsung mengambil salep dari kotak itu. Dia pun langsung mengoles salep ke wajah Rena. Hal ini membuat Rena cukup terkejut dengan perlakuan spontan Gilang. Dia sedikit menjauhkan wajahnya dari Gilang, namun detik selanjutnya Gilang segera menatapnya dengan tajam. Akhirnya Rena hanya bisa menuruti apa yang dimaui Gilang.


Setelah selesai mengobati Rena, Gilang pun mengembalikan kotak obatnya. Setelah itu dia berjalan dan berakhir duduk di kursi kerjanya menatap Rena. Gilang berbicara,


"Lu kenapa nggak ada reflek buat menghindar sih, setidaknya lu nggak akan kena tamparan dia.." gerutu Gilang pada Rena.


"Ya kan dia nampar gue nggak kasih aba-aba. Ya gue nggak siap buat ngeles kak.." jawab Rena dengan santai.


"Terserah lu deh, lagi nggak mood buat bercanda.."


"Wait, Ciee yang habis putus. Lagi galau ya? Nyesel nggak? Kalau iya yaudah kejar aja dia. Syaratnya mungkin cuman harus jauhi gue aja kan, gampang lah itu.."


"Nggak sesedih itu sebenernya, cuman gue pasti gila kalau habis putus nggak sedih. Nyesel aja kenapa gue bisa suka sama dia.."


"Nyesel itu selalu datang di akhir kak.."


"Terus beneran yang lu bilang tadi? Ternyata lu pernah sesuka itu sama gue? Jangan bilang kalau lu hampir menyatakan perasaan juga ke gue?" tanya Gilang penasaran. Seolah dia sudah melupakan rasa sedihnya karena putus cinta.


...***...