
Jam alarm Rena pun sudah menyala. Dia segera merapikan tempat tidur dan kemudian menyiapkan sarapan. Ternyata sudah ada bi Endang di dapur, Rena pun bertanya tentang menu sarapan dan bekal anak-anak.
"Bi biasanya anak-anak sarapan dan bekal apa ya?" tanya Rena.
"Untuk anak-anak biasanya nyonya selalu membuatkan bekal makanan sehat dan yang praktis Non. Untuk sarapan sendiri mereka biasa sarapan roti dan selai saja." jawab bi Endang.
"Baik Bi, terimakasih. Berarti untuk mereka tidak ada yang pilih-pilih ya dalam hal makanan?" tanya Rena memastikan lagi.
"Iya Non,"
"Kalau begitu Bi minta tolong di cucikan sayur-mayur ini ya. Saya akan membuatkan capcay dan beberapa potong buah untuk mereka dan kak Fara. Untuk roti dan selai sudah ada di meja makan ya bi?"
"Iya non, sudah siap di atas meja makan. Baik saya cucikan,"
Sembari bi Endang mencuci sayur mayur, Rena pun sibuk menyiapkan bumbu-bumbu. Setelah semua siap, dia pun meminta bi Endang untuk mengerjakan tugas yang lainnya. Rena pun mengambil alih dapur dari bi Endang.
Setelah capcay siap, dia berjalan ke kamar Ian. Ternyata Ian dan sus Rini sudah bangun, Rena pun meminta sus Rinj untuk segera memandikan Ian. Lalu kemudian Rena berjalan ke kamar Alea. Alea masih tertidur pulas dalam mimpinya, Rena pun perlahan membangunkan Alea. Setelah itu dia membantu Alea mandi dan menyiapkan pakaian sekolahnya.
Setelah anak-anak sudah siap semua, dia menyiapkan roti selai untuk sarapan mereka. Sembari mereka makan, Rena pun mengupas beberapa macam buah untuk di bawa Alea dan Ian ke sekolah. Setelah semua siap, dia pun mengantar Alea, sus Rini dan Ian ke depan rumah. Karena hari ini Rena belum bisa menemani mereka berangkat ke sekolah, dia pun hanya bisa mengantar sampai di depan rumah.
"Hati-hati ya di jalan. Nurut sama apa yang di katakan Miss," ucap Rena.
"Iya Kakak, siap." ucap mereka kompak.
Tak lupa Rena memberikan bekal mereka. Lalu setelah itu meminta pak Didit untuk membawa anak-anak dengan hati-hati. Dia juga memberitahu jadwal dia sebelum ke kampus akan ke rumah sakit dahulu.
Setelah mengantar anak-anak dari depan rumah, Rena pun masuk kembali ke rumah. Di kembali ke dapur untuk memasukan capcay dan buah ke kotak makan kak Fara. Setelah itu dia segera bersiap untuk berangkat ke rumah sakit. Karena sebelum ke kampus dia akan bertemu dengan Gilang, dia sengaja berpenampilan lebih cantik dari biasanya.
Pak Didit pun sampai di rumah lagi setelah mengantarkan anak-anak ke sekolah. Lalu Rena naik ke dalam mobil. Ternyata mereka melewati cabang toko coklat favorit Rena dan Gilang, Akhirnya dia meminta pak Didit untuk berhenti. Mereka pun mampir ke toko coklat itu dan membeli beberapa varian.
'Pasti kak Gilang akan senang, kita kan udah lama nggak makan coklat ini bersama. Apa lagi hari ini adalah hari spesial' ucap Rena dalam hati.
Karena masih cukup awal, Rena pun ke ruangan kamar VIP Fara dahulu. Saat dia akan membuka pintu, ternyata ada seseorang yang keluar. Seseorang itu adalah Allan, dia akan berangkat bekerja. Di depan pintu Rena tidak tahu harus bertindak seperti apa, sampai kemudian Allan berjalan begitu saja meninggalkan dia. Entah mengapa rena merasakan sedikit getir di hatinya. Mungkin karena dia sudah mulai meresapi profesi barunya. Namun Rena segera kembali fokus dan tidak memasukkan kedalam hati sikap Allan.
Rena pun masuk ke dalam ruangan, ternyata ada Gilang yang melakukan check up pagi untuk Fara. Rena pun mendekat ke sisi yang berlawanan dari Gilang, lalu dia meletakkan bekal yang dia bawa dari rumah ke atas meja.
"Semua masih aman, kalau begitu saya permisi," ucap Gilang.
Lalu sebelum pergi Gilang mendekat ke arah Rena.
"Rena, lu kok di sini? kita kan janjian jam 10.00?" ucap Gilang pada Rena.
"Iya kak, ini lagi jenguk kak Fara juga sekalian." jawab Rena dengan senyum yang merekah.
Sepeninggal Gilang, Fara pun memulai pembicaraannya.
"Kamu nggak ketemu mas Allan di depan tadi?" Tanya Fara.
"Ketemu kak, tapi mungkin karena pak Allan buru-buru jadi kita tidak bisa saling sapa," ucap Rena.
"Mas Allan memang seperti itu orangnya, sabar ya. Kalau belum terlalu dekat, dia akan sedingin itu. Tanya aja sama Fathur, sudah bertahun-tahun tapi masih saja kaku sama Fathur. Kamu juga harus belajar mencintai mas Allan. Biasakan untuk nggak panggilan pak tadi dengan panggilan lain,"
"Iya kak, Rena coba ya." jawab Rena.
"Kamu kenal dengan dokter Gilang?" tanya Fara penasaran.
Dari apa yang sudah Fara lihat, nampak jelas jika Rena ada rasa suka pada Gilang. Dari cara dia berbicara dan memandang saja sudah berbeda. Hanya seorang yang bodoh yang tidak mengerti gerak-gerik Rena pada Gilang itu adalah hal biasa.
"Iya kak, kami sudah saling mengenal sejak 7 tahun yang lalu," Jawa Rena.
"Oh pantas terlihat cukup akrab. Wah ada coklat juga, buat stok di rumah ya?" tanya Fara mengalihkan pembicaraan.
"Hm itu kak, rencana buat di berikan ke kak Gilang. Anak-anak juga suka coklat ya kak? Kalau gitu nanti akan Rena belikan beberapa yang lainnya."
"Oh begitu ternyata, nggak usah Rena. Uang yang kamu punya untuk belanja yang lain saja," ucap Fara.
"Nggak papa kok kak, lagi pula Rena juga suka sekali coklat dari toko ini. Sekalian buat stok di rumah," ucap Rena.
"Terserah kamu kalau gitu, ini pakai card kakak kalau mau belanja-belanja." perintah Fara.
"Jangan kak, nanti di marahi Pak Allan," ucap Rena takut.
"Udah ambil aja, nanti kakak yang bilang ke dia," ucap Fara.
Setelah itu Rena pun mengambil card itu dan menyimpan nya. Kemudian dia pamit pada Fara untuk bertemu dengan Gilang karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul 10.00.
Tidak ada hari yang lebih membahagiakan selain hari ini. Coklat yang dia bawa, selain merupakan kesukaan Gilang dan Rena, coklat ini juga yang akan menjadi saksi Rena berani mengungkapkan rasa pada Gilang. Rena menyusuri jalan koridor rumah sakit dengan senyum yang merekah. Sesampainya di taman, dia duduk di tempat biasanya.
Lalu kemudian Gilang pun datang. Rena menunggu Gilang sampai didekatnya, lalu saat Rena ingin mengungkapkan perasaannya. Gilang lebih dulu memulai pembicaraan,
"Rena, ada yang perlu gue tanyakan ke lu." ucap Gilang.
Tentu saja Rena cukup senang mendengar apa yang baru saja Gilang ucapkan. Apakah Gilang akan menyatakan perasaannya setelah sekian lama Rena menunggu? Padahal jika dia tidak mengungkapkan perasaannya, pasti Rena yang akan melakukannya.
...***...