Cold CEO & Cute Girl

Cold CEO & Cute Girl
Rena Akan Menepati Janji



Setelah berhasil menenangkan anak-anak, Rena pun cukup sibuk untuk melayani dan membantu para pelayat. Keluarga dekat dari Allan dan kak Fara pun juga datang, ada dari mereka yang bertanya-tanya siapa Rena ini. Kenapa dia cukup sibuk dengan urusan keluarga Allan? Namun beberapa yang lainnya tidak terlalu memusingkan hal ini, karena situasi yang sedang berduka tidak pantas untuk menanyakannya.


Allan sedari sampai rumah hingga sekarang hanya fokus duduk di dekat jenazah kak Fara. Dia bahkan tidak berbicara sedikit pun pada pelayat. Tugas sebagai juru bicara keluarga saat ini jatuh pada Fathur dan Rena. Setelah di rasa waktu sudah cukup larut, Rena pun berinisiatif bertanya pada Allan,


"Pak Allan bisa silahkan istirahat di kamar dahulu, tugas menemani kak Fara biar saya saja.." ucap Rena dengan nada pelan. Dia cukup khawatir jika nanti Allan kembali jatuh pingsan, karena terlalu kelelahan.


Tanggapan Allan setelah Rena berbicara hal itu hanyalah memandangnya dengan tatapan marah, dia tidak bersuara. Namun Rena tahu pasti bahwa Allan tidak ingin di ganggu. Rena pun mengurungkan diri untuk menggantikan Allan. Kemudian dia berjalan menuju kamar Alea, di dalam kamar ada suster Rini yang masih terjaga.


"Sus, hari ini anak-anak tidur satu kamar?" tanya Rena.


"Iya nona, kamar adek di pakai untuk istirahat keluarga. Kamar yang lainnya pun juga sama, hanya tersisa kamar nona, tuan, dan kakak yang masih bisa di pakai," ucap suster.


"Oke, kalau gitu saya perlu merepotkan suster untuk beberapa hari ini. Saya pergi melihat kondisi di luar dulu ya sus, titip anak-anak." ucap Rena.


Rena pun melewati ruang tengah. Di ruang tengah selain jenazah kak Fara, hanya ada Allan yang berada di sana. Suasana ruang tengah tampak sunyi. Semua orang tidak ingin mengganggu ketenangan pak Allan. Mereka takut jika salah menyinggung, akan repot kehidupan kedepannya nanti.


Rena pun berkeliling untuk melihat situasi di rumah. Keluarga besar yang menginap sudah memakai seluruh kamar yang ada di rumah. Rekan bisnis dan tetangga akan datang kembali besok pagi saat pemakaman. Sedangkan pelayat dari karyawan perusahaan ada beberapa yang memilih tinggal, mereka sendiri yang berinisiatif agar nanti jika diperlukan, mereka sudah stand by di tempat. Semua pelayat itu beristirahat di ruang tamu.


Rena bisa melihat raut lelah dan berduka tergambar di wajah orang-orang. Saat sampai di ruang tamu, Rena melihat Fathur tengah mengobrol dengan seseorang. Saat mereka menyadari ada yang akan datang dari dalam, serentak mereka menengok dan ternyata itu adalah Rena. Fathur pun mendekat pada Rena dan bertanya,


"Ada yang bisa saya bantu nona?"


"Apa semua sudah di siapkan?" tanya Rena.


"Sudah nona, semua sudah beres. Nona tidak perlu khawatir lagi."


"Untuk pak Allan sendiri, apa dia akan terjaga di ruang tengah sampai waktu pemakaman besok tiba?" tanya Rena penasaran.


"Dari pengalaman sebelumnya, memang akan seperti yang nona perkirakan. Nona tidak perlu khawatir, semua pasti akan aman dan saya yang akan menjaga tuan. Nona bisa beristirahat dahulu, besok pagi akan saya minta suster Rini bangunkan."


"Mana bisa saya beristirahat di saat ada orang yang terjaga. Kalau begitu saya juga akan terjaga dan sibuk mengerjakan tugas kuliah saya, jika memerlukan saya kamu bisa mencari saya di kamar anak-anak," ucap Rena.


Setelah itu Rena pun pergi ke kamarnya untuk mengambil laptopnya. Lalu kemudian dia berjalan ke kamar anak-anak. Dia pun sibuk dengan tugas kuliahnya.


4 jam telah berlalu. Setelah dia mengisi essay, mengedit video, membuat desain, dia pun berjalan menuju ruang tengah untuk melihat Allan. Benar saja yang dikatakan Fathur, Allan benar-benar masih terjaga. Dia tidak bergerak sedikitpun, dia hanya fokus memandang jenazah Fara. Dengan raut wajah dingin yang tampak lelah, dia masih bertahan dengan posisi awalnya.


Rena pun merasa cukup sedih melihat pemandangan yang ada di depannya. Rena ingin mendekati Allan, tetapi Rena juga takut jika dia akan membuat keributan. Dia takut Allan akan marah dan mulai membuat semua orang terbangun. Akhirnya dia mengurungkan diri untuk melangkah mendekati Allan. Rena berjalan kembali ke kamar anak-anak.


Rena baru teringat akan surat yang Fara tulis khusus untuknya. Rena pun membuka tasnya dan mengambil surat itu, dia mulai membaca surat itu.


Hi Rena...


Sebagai adik kak Fara, istri mas Allan, dan ibu sambung anak-anak, kakak berharap kamu bisa menjaga keluarga kecil kita tetap utuh ya. Kakak tau, kamu menikahi mas Allan karena terpaksa demi menumbuhkan semangat kakak untuk sembuh..


Di awal kehadiran kamu di keluarga, kehadiran kamu memang ampuh membuat kakak kembali memiliki semangat. Tetapi karena penyakit ini jauh lebih melekat pada kakak, kakak tidak bisa melepaskan diri dari penyakit ini. Kakak hanya menunggu waktunya tiba. Tentu saja saat surat ini ada di tangan kamu, itu tandanya kakak sudah di bawa pergi penyakit ini.


Harapan kakak dengan mendekatkan kalian di beberapa hari terakhir kemarin, semoga kamu dan mas Allan mulai ada ketertarikan. Ada harapan kecil yang bisa kakak lihat dari mas Allan, dia mulai terbiasa dengan adanya kamu dalam kehidupan kita. Kakak bersyukur banget, bisa menjadikan kamu pengganti kakak yang sangat cocok untuk keluarga kecil kakak.


Setelah ini pasti mas Allan akan memperlihatkan bahwa dirinya baik-baik saja. Namun hal ini tidak bertahan lama, sesaat setelah itu bisa jadi dia akan menjadi pribadi yang cukup menyebalkan. Kakak hanya ingin kamu bisa bertahan lebih lama lagi. Seberat apapun pemberontakan mas Allan, sampai membuat kamu kesal dan bahkan ingin berpisah padanya, kakak minta kamu bisa kuat dan mau bertahan.


Dia adalah seseorang yang sulit untuk mengungkapkan perasaan yang dia miliki. Kamu harus memancing dia jika ingin tahu dia memiliki rasa suka atau tidak ke kamu. Meskipun dia tidak bisa menjadi first love kamu, kakak harap dia bisa jadi seseorang yang kamu cintai sampai akhir.


Kakak cinta keluarga kecil kita❤️


(FA)


'Rena janji akan melindungi keluarga kecil kita kak. Kakak Tenang ya di sana, Rena akan jaga mereka disini... Hiks.. Hiks.. Hiks..' batin Rena dalam hatinya, tanpa sadar air matanya kembali menetes. Beruntungnya anak-anak tidak terbangun mendengar tangisan dia.


...***...