
Di tempat lain
Di hotel tempat Allan menginap tidak ada yang berbeda dari tadi siang. Karena langit hampir gelap, Fathur pun mencoba untuk membawakan beberapa makanan untuk tuannya. Saat dia memasuki kamar, dia bisa mencium bau alkohol yang cukup menyengat. Fathur pun mencari keberadaan Allan, sembari merapikan beberapa bantal sofa yang terjatuh akhirnya dia melihat tuannya. Allan tengah duduk di balik sofa sambil menatap langit yang sudah tenggelam. Fathur pun berinisiatif untuk menawarkan bantuan,
"Mari tuan saya bantu duduk di sofa.." ucap Fathur sambil berjalan mendekati Allan dan kemudian mencoba untuk mengangkat tubuh Allan.
"Kamu lancang sekali, saya nggak perlu bantuan kamu. Kamu kira saya mabuk? Saya masih cukup sadar ya, saya bisa sendiri!" ucap Allan mendorong Fathur menjauh dari dia.
Detik selanjutnya Allan pun mencoba untuk berdiri sendiri, namun karena efek alkohol dia pun tidak berhasil untuk pindah. Bahkan karena dia tidak berhasil untuk pindah tempat, Allah pun melempar botol wine di dekatnya ke sembarang sisi karena kesal. Tentu saja botol wine mahal yang masih ada sisa isi pun pecah. Untung saja Allan tidak melemparkan botol itu ke arah Fathur berdiri.
Fathur pun sedikit terkejut karena reflek yang di lakukan Allan. Dia pun kembali mencoba untuk membantu Allan, kini bantuannya tidak di tolak Allan. Saat Allan ingin menuangkan wine baru yang ada di atas meja, Fathur pun melarangnya.
"Alangkah baiknya jika tuan Allan makan sedikit dahulu, sedari pagi tuan belum makan. Tubuh tuan tidak akan kuat jika terus tuan perlakuan seperti ini tanpa ada makanan yang masuk," ucap Fathur sambil merebut wine yang di bawa Allan.
"Kamu lepaskan wine ini atau saya lempar lagi?" peringat Allan Pada Fathur.
Fathur pun segera melepaskan wine yang ada di tangannya. Dia sudah tahu jika saat Allan sedang dalam keadaan kurang baik, peringatan Allan bukan lagi hanya peringatan tetapi sudah menjadi jawaban pasti.
"Kamu keluar sekarang!" ucap Allan pada Fathur.
"Baik tuan, saya akan segera keluar setelah membersihkan pecahan botol.." ucap Fathur pada Allan.
"Terserah, jangan ganggu saya lagi.." ucap Allan sambil menuangkan botol wine yang ada di depannya.
'Saya harus segera menghubungi nona Rena sebelum tubuh tuan Allan drop.' batin Fathur sambil membersihkan pecahan.
Setelah itu dia pun segera keluar kamar, saat di koridor depan kamar Allan dia tidak lagi menunggu waktu besok. Segera dia cari kontak telepon Rena dan mengirimkan pesan padanya.
Nona Rena:
"Selamat malam nona, mohon maaf karena saya lancang dan terkesan meminta nona untuk datang. Namun saya sangat membutuhkan bantuan nona, saya rasa hanya nona yang bisa membuat semuanya kembali membaik. Tuan Allan sangat membutuhkan nona saat ini, saya mohon nona bisa segera datang saat ini ke hotel tempat terakhir kali nona datang. Saya berharap nona bisa datang, terimakasih." pesan Fathur pada Rena.
......................
Di tempat perbelanjaan
Karena sudah memilih beberapa menu, kini Rena dan Rangga pun sedang menunggu pesanan datang. Saat Pelayan sudah memanggil nama Rangga, dia pun langsung berjalan ke kasir dan melakukan pembayaran. Saat Rangga tengah melakukan pembayaran Rena mendapatkan pesan dari Fathur. Meski dia sedikit ragu harus kah dibaca atau di abaikan saja pesan itu. Namun karena cukup penasaran akhirnya Rena pun membuka pesan itu. Dia penasaran apa yang sedang di lakukan pak Allan sampai membuat Fathur meminta bantuannya.
'bukankah biasanya dia bisa menangani tuan besarnya?' batin Rena bertanya-tanya. Hingga akhirnya Rangga pun datang dan kemudian mereka berdua segera melanjutkan tujuan menuju ke rumah Rangga.
Di sepanjang jalan Rena bingung harus berbuat apa, namun dia juga takut jika yang dikatakan Fathur benar. Meskipun ada kemungkinan ini juga hanya akal-akalan Allan. Karena Rangga merasakan kegelisahan Rena, dia pun bertanya.
Awalnya Rena bingung harus menjawab Rangga bagaimana. Namun kemudian mencoba untuk mulai memutuskan. Meski dia memiliki sedikit keraguan, tapi getaran hati berkata dia harus datang.
"Gue ada urusan mendesak, semisal gue dateng ke pesta Zanna telat bisa nggak ya?"
"Why?"
"Tuan kos gue butuh bantuan gue. Anak kos lain masih belum pulang kerja, jadi cuman gue yang bisa bantuin."
"Oh karena itu, yaudah gue anterin aja. Biar kita tetep bisa bareng-bareng," jawab Rangga.
"Jangan gitu, kita kan udah beli makan juga. Kalau makanannya dingin kan jadi nggak enak, terus juga Zanna butuh lu buat bantu dekor dan memeriahkan acara. Lu turunin gue disini aja, gue titip kado gue buat Zanna ya. Gue nyusul," ucap Rena pada Rangga.
Rangga pun mulai menepikan mobil yang dia kendarai. Dia mencoba meyakinkan Rena jika dia bisa membantu Rena.
"Lu yakin? Akan lebih baik jika gue ada. Gue bisa bantuin lu dan tuan kos lu itu.." ucap Rangga pada Rena.
"Tapi gue juga nggak enak sama Zanna nggak bisa bantuin buat siap-siap," ucap Rena yang cukup khawatir.
"Nggak apa-apa gue yang kabarin Zanna kalau lu nanti nyusul, beneran nih nggak mau gue anter aja?"
"Gue bisa kok jalan sendiri,"
"Okey kalau gitu gue order mobil online dulu. Lu di sini aja sambil chat Zanna bilang kalau lu nanti telat ke party dia.. Kalau udah sampe di rumah gue juga bakal kasih tau dia biar dia nggak kesel sama lu, dan gue sharelock alamat rumah gue juga ke lu.."
"Okey thanks ya Rangga.."
Rangga pun kemudian memesan mobil online sedangkan Rena menghubungi Zanna. 10 menit kemudian mobil online pun datang, Rena langsung berterimakasih pada Rangga lalu segera pergi untuk menaiki mobil online.
Di sepanjang jalan Rena cukup khawatir dengan apa yang terjadi pada pak Allan sebenarnya, namun dia juga tidak berani untuk bertanya lebih pada Fathur. Rena pun juga meminta bapak mobil online untuk mengendarai dengan cepat agar dia bisa segera sampai. Setelah sampai di hotel, Rena pun langsung segera berlari dan menekan tombol menuju lantai kamar Allan. Saat sudah sampai di lorong kamar Allan dia melihat Fathur tengah berdiri di depan kamar. Dia pun langsung menghampiri Fathur dan bertanya,
"Gimana Fathur? Ada apa? Tumben sekali, kemarin-kemarin bahkan pak Allan tidak pulang rumah dan kamu juga masih mampu menanganinya.." tanya Rena pada Fathur.
"Sebaiknya nona bisa masuk sendiri, saya hanya bisa memberitahu nona jika saya tahu bahwa tuan sudah mulai menyukai nona. Dahulu saat tuan terkejut dengan apa yang terjadi pada nyonya, tuan juga menghilang sejenak. Namun meski sudah menjauh pikiran tuan tetap pada nyonya. Tuan selalu menatap langit, sambil memikirkan nyonya. Dan kini tuan juga melakukan hal yang sama saat nona berniat untuk meninggalkan rumah." Jelas Fathur pada Rena.
"Kamu jangan mencoba untuk berbohong pada saya Fathur, jangan mencoba untuk mengambil hati saya agar bisa pulang ke rumah lagi. Itu udah nggak mungkin." ucap Rena masih belum percaya pada Fathur.
...***...