Cold CEO & Cute Girl

Cold CEO & Cute Girl
Rena Si Paling Pengertian



Sudah terlalu sering Allan membuat Rena kecewa dan sakit hati dengan perkataan dia. Bahkan pagi ini Rena masih belum bisa untuk bertemu dengan Allan terlalu lama. Dia takut akan emosi dan membuat anak-anak takut padanya. Maka dari itu dia memilih untuk lebih awal menyelesaikan tugasnya hari ini, lalu segera berangkat ke rumah sakit dan kampus.


Saat di taxi Rena mendapatkan telpon dari Allan, meskipun Rena berusaha menghindari Allan. Namun tetap saja mereka akan selalu bertemu di rumah lagi, jadi dia memutuskan untuk mengangkat telpon Allan.


Allan meminta dia untuk pulang tepat waktu dan bisa ikut makan malam, Rena pun dengan cepat menyetujuinya karena dia juga sudah berjanji pada anak-anak. Bahasa yang dipakai Rena saat menjawab telpon Allan pun spontan cukup sangat formal, bahkan dia mengatakan saya dan tuan. Dua kata yang bahkan jarang Rena gunakan untuk Allan.


Pagi ini jalanan cukup macet, hal ini karena Rena berangkat ke rumah sakit bersamaan dengan jam masuk sekolah. Jika semalam dia bisa menempuh waktu hanya 30 menit saja, maka di pagi ini dia berhasil menempuh dengan 50 menit waktu perjalanan. Setelah sampai di rumah sakit Rena langsung menuju kamar sahabatnya.


Mereka sudah bangun dari tidurnya, namun berbeda dengan Rangga yang masih tertidur. Rena pun membagikan sarapan yang dia buat untuk semua sahabatnya, kecuali milik Rangga. Rangga masih tertidur cukup pulas, Rena tidak ingin membangun tidurnya. Dia tahu sulitnya mencoba tidur di rumah sakit itu bagaimana. Jadi dia memberikan waktu lebih banyak untuk Rangga bisa beristirahat.


Sembari menunggu yang lainnya selesai makan, Rena pun menawarkan ke mereka berempat mau di belikan jus buah apa di kantin. Mereka pun satu persatu mengajukan request buah dan camilan yang ada di kantin. Rena pun dengan senang hati menerimanya.


Rena tahu bahwa dia hanya perlu melakukan banyak hal, agar bisa lupa dengan apa yang membuat dia sedih. Saat sedang menunggu pesanan jadi, ada panggilan yang cukup akrab menyapa.


"Rena..." panggil seseorang yang ada di belakang Rena.


"Iya.." jawab Rena sambil berbalik ke belakang seraya memastikan siapa yang memanggil dia. Ternyata Gilang yang memanggil.


"Habis jenguk mereka?" tanya Gilang.


"iya kak, ini mereka mau jus buah. Jadi gue yang jalan ke kantin rumah sakit. Sekalian mau beliin Snack lagi."


"Inget kan ada yang perlu lu ceritain ke gue saat kita ketemu lagi. Berarti bisa dong sebentar lagi ngobrolnya?" tanya Gilang.


"Gimana kalau ntar aja kak, sehabis gue anterin jus buah dan camilan?"


"Boleh, nanti sekitar jam 10 ya. Shift gue berakhirnya di jam 9 pagi. Jadi jam 10 bisa langsung ngobrol.." ucap Gilang.


"Se excited itu dong lu kak, padahal nggak terlalu penting obrolan gue nanti."


"Gue tunggu di ruang istirahat ya," ucap Gilang lalu dia langsung meninggalkan kantin, menyisakan Rena yang masih menunggu pesanan jadi.


Sepeninggal Gilang, saat Rena masih menunggu pesanan jadi ada beberapa suster yang seperti sedang membicarakan dia. Namun Rena hanya merespon hal itu dengan melirik dan menatap si penggosip. Rena tahu batasan dia. Apalagi rumah sakit adalah tempat orang-orang untuk berobat, bukan tempat untuk membuat keributan.


Setelah pesanan siap semua, dia pun segera berjalan ke kamar teman-temannya. Saat Rena sampai ternyata Rangga sudah bangun tidur. Saat awal masuk, Rena mendengar jika Zanna dan Abel memaksa dia untuk segera bangun, yang pada kenyataannya dia masih ingin melanjutkan tidur sebentar lagi.


Saat Rangga berucap seperti itu, Rena pun masuk kamar dan dia melihat ekspresi Rangga yang cukup menggemaskan. Seperti anak kecil yang ketahuan makan permen, padahal oleh sang ibu di larang makan.


"Santai aja Rang, tidur lagi aja. Gue tau kok rasanya nungguin orang sakit itu nggak, apalagi kita tidur dengan posisi apapun itu tetep aja nggak nyaman." ucap Rena sambil memberikan jus buah satu persatu.


"Tuh dengerin Rena, kalian kok nggak pengertian banget sama gue. Nggak kayak Rena yang selalu pengertian sama gue," ucap sombong Rangga pada semua orang yang ada di kamar.


"Thanks Ren,"


"Ciee.. Ciee.. Asal ntar kalau ada yang jadian, jangan lupa traktiran aja sih.." sindir Abel.


"Okey, kalian mau beli dimana aja gue yang traktir." ucap Rangga dengan percaya diri.


"Apaan sih, nggak usah becanda kayak gitu deh..." ucap Rena merasa kurang nyaman. Namun setelah Rena berucap begitu, sedikit ada suasana canggung.


"Santai Ren, jangan deg-deg an dulu.. Ada kita yang perlu uji dia dulu," ucap Zanna mencairkan suasana.


"Sore ini kalian udah boleh pulang kan ya?" Tanya Rena.


"Iya, kenapa Ren?" tanya Abel.


"Ya nggak apa-apa sih, oh ya gue ada urusan dulu. Gue harus buru-buru ke kampus ya. Nanti sore gue bantuin buat beres-beres lagi," ucap Rena.


"Yang nggak asih banget sih lu Ren, izin aja dulu lu sehari aja kan. Besok kita berangkat bareng deh, gimana?" bujuk Zanna.


"Nggak bisa, kan udah ada Rangga. Gue balik duluan ya, ada keperluan di luar juga soalnya. Bye guys,"


Rena pun segera meninggalkan kamar rawat inap sahabat-sahabatnya. Setelah Rena sudah pergi, Zanna pun mulai bingung kenapa akhir-akhir ini Rena cukup banyak beraktivitas. Bahkan dia cukup sering pergi buru-buru tanpa berbasa-basi dahulu. Namun ada Rangga yang setia untuk membela Rena tanpa di minta. Meskipun pada kenyataannya dia juga memiliki beberapa pertanyaan tentang hal yang sama.


......................


Rena pun telah sampai di ruangan Gilang. Namun saat dia akan masuk ke ruangan, dia melihat Ajeng yang lebih dahulu masuk. Akhirnya Rena pun mengurungkan niatnya untuk bertemu Gilang dahulu sebelum nantinya dia akan ke kampus.


Beruntung sekali Rena langsung bertemu dengan taxi. Jadi dia tidak perlu lagi untuk menunggu taxi lewat di pinggir rumah sakit. Dia pun masuk taxi.


Saat dia berniat untuk mengirimkan pesan pada Gilang, dia teringat bahwa di dalam ruangan Allan masih ada Ajeng. Rena tahu betul sifat sebenarnya Ajeng itu bagaimana, daripada mereka berdebat di rumah sakit, jadi dia memutuskan untuk mengirim pesannya nanti sore hari.


Rena pun memulai kampus dengan semangat meskipun semua teman-teman dekatnya tidak ada di kelas. Setelah pulang kelas di segera pergi ke rumah sakit lagi untuk menjemput sahabatnya pulang. Saat dia sampai di rumah sakit, ternyata semua sudah rapi. Mereka pun segera bergegas untuk pulang.


Setelah mengantar sahabatnya Rena memutuskan untuk di antarkan Rangga, Rama dan Galieh sampai di dekat depan kompleks. Agar merek tidak mencurigai Rena kos di mana sebenarnya. Selain itu Rena juga masih belum siap jika harus di tanya dengan berbagai pertanyaan. Apalagi hubungan dia dan Allan masih belum terlalu baik.


Setelah itu Rena pun berjalan kaki hingga sampai di rumah. Saat Rena baru sampai, bi Endang sedang membuat camilan sederhana ala orang desa. Saat dia bertanya apakah ada yang perlu dia lakukan lagi? Bi Endang menjawab tidak, lalu kemudian Rena pun ke kamarnya sendiri.


...***...