Cold CEO & Cute Girl

Cold CEO & Cute Girl
Emosi Yang Meledak



Setelah membersihkan badan, Rena pun keluar kamar dan berniat untuk membantu bi Endang membuat makan malam. Namun kali ini karena ada tuan Allan, bi Endang pun bersikeras untuk membuat hidangan makan malam sendiri. Dia takut membuat tuan Allan marah karena membiarkan nona masuk ke dapur. Sama seperti saat pertama kali Fara masuk ke dalam rumah besar ini.


Saat Rena masih berusaha untuk membantu, tiba-tiba ada Ian yang datang. Lalu dia pun mengajak Rena untuk bermain di ruang tengah bersama dengan kakak dan Papa nya. Terpaksa akhirnya Rena membiarkan bi Endang untuk memasak sendiri, sedangkan dia mengikuti langkah Ian menuju ke ruang tengah.


"Kakak, bantu Ian membuat rel kereta.. Ian mau punya Rel kereta seperti kak Alea.." rengek Ian pada Rena.


"Hmm boleh, okey kakak bantu ya. Tapi Ian juga tetap akan bantuin kakak ya.." ucap Rena sambil tersenyum ke Ian.


Mereka pun akhirnya main bersama-sama, mereka membangun rel kereta, sambil bermain, sambil bercanda dan tertawa bersama. Sedangkan Allan hanya melihat mereka bertiga bermain dari atas sofa.


'Sudah lama tidak melihat wajah bahagia anak-anak seperti hari ini. Apa mungkin aku terlalu sibuk dengan pekerjaan ya? Akan lebih baik jika bisa menikmati pemandangan ini saat ada Fara. Namun meski begitu, tidak di pungkiri kehadiran Rena juga bisa menjadi pelengkap yang sempurna di keluarga ini,' batin Allan sambil tersenyum.


'Kakak, liat. Ian usil banget, rel kereta Alea di injak-injak dia..!" ucap Alea sambil menunjuk Ian karena kesal, dia berharap mendapatkan pembelaan dari Rena.


"Ian.. Nggak boleh gitu. Rel kereta Ian kan juga sedang di bangun kak Rena. Minta maaf ke kak Alea, ayo sekarang.." ucap Rena dengan lembut namun masih terlihat tegas.


Ian pun menganggukkan kepalanya, lalu dia berjalan mendekati Alea. Dia mengulurkan tangannya, lalu melihat ke Alea. Mereka berjabat tangan, namun Ian tidak berkata apapun sampai kemudian di tuntun Rena untuk berbicara.


"Ian... Ayo, bilang apa ke kak Alea?" tanya Rena.


"Maaf kakak, Ian promise nggak akan mengulangi lagi.." ucap Ian dengan tatapan puppy eyes nya.


Siapapun yang melihat Ian di saat seperti ini pasti ingin membawanya pulang ke rumah. Meskipun masih kecil, untung saja Alea dan Ian sudah di ajarkan sedari kecil untuk berani mengakui kesalahannya. Rena hanya bertugas untuk meneruskan saja apa yang sebelumnya di ajarkan pada mereka. Allan yang melihat pemandangan di depannya ini semakin lama ingin mempertahankan Rena agar tetap di sisinya. Allan rasa tidak banyak yang bisa mendidik anak sama seperti Fara mendidik mereka selain Rena.


'Setelah makan malam, akan lebih baik jika aku membicarakan hal ini dengan Rena. Tidak perlu ada perceraian dan kita bisa saling membantu dalam mendidik anak bersama. Urusan perasaan kita berdua bisa menjadi urusan di akhir, apalagi saat ini aku sudah mulai menyukai dia. Sedangkan Fara, aku akan mengobrol dengannya di makam besok usai membahas hal ini dengan Rena.' batin Allan lagi.


Hari ini Allan masih memasang raut dingin dan tegasnya. Meskipun dia memiliki sedikit pemikiran berbeda dari sebelumnya, namun dia masih ragu apakah ini adalah keputusan yang benar? Di tambah dengan ke khawatiran dia tentang Fara yang mungkin hanya ingin di nomor satukan Allan, tanpa ada yang nomor dua dan selanjutnya.


Waktu makan malam pun tiba, bi Endang mengundang semua orang untuk makan di meja makan. Lagi-lagi sikap Rena yang lembut dan penuh perhatian membuat Allan terpikat. Dia menyiapkan makan bukan hanya untuk Allan dan anak-anak, tetapi juga untuk semua orang rumah. Bahkan dia meminta untuk bi Endang, pak Didit, dan Fathur juga ikut bergabung. Awalnya mereka takut karena hari ini ada Allan yang juga ikut bergabung, namun karena Allan tidak berkata apapun membuat mereka mengiyakan ajakan Rena.


Setelah selesai makan, semua orang pun melanjutkan aktivitas masing. Rena meminta sus Rini untuk mengajak anak-anak ke kamar, lalu pak Didit juga kembali ke depan sambil membawakan makan malam pak Faisal yang sedang berjaga di depan. Allan dan Fathur pun lanjut membahas tentang pekerjaan di meja makan, sedangkan Rena dan bi Endang sibuk mencuci piring di belakang. Bi Endang pun menunjukkan kekaguman dia pada Rena.


"Saya baru tahu jika masih ada orang seperti nona yang mau mencuci piring dan sibuk di dapur selain nyonya. Saya kagum pada nona, tuan Allan dan anak-anak juga beruntung bertemu dengan nona," ucap bi Endang.


"Saya masih berproses bi. Jangan terlalu di sanjung, ini bukannya hal kecil yang wajib semua orang bisa?" tanya Rena dengan senyuman tulusnya.


......................


Berbeda hal dengan yang ada di meja makan, Allan dan Fathur pun sedang membahas tentang pekerjaan yang sempat tertunda. Selagi mendengarkan Fathur melapor, suara notifikasi handphone Rena pun membuyarkan fokus Allan. Allan yang sebelumnya tidak terlalu penasaran dengan urusan orang lain, entah mengapa hari ini dia ingin tahu dari siapa notifikasi itu. Allan pun melihat handphone Rena yang kebetulan ada tepat di sebelah kanan dia.


Kak Gilangđź’•


'Rena, lu lagi ada di mana?'


'Ketemu yuk, bukannya ada hal penting yang perlu kita obrolin?'


'Katanya pagi ini lu mau ke ruangan gue, gue udah tungguin kok lu nggak dateng?'


'Lu lagi nggak marah kan sama gue?'


'Ren, jawab lah chat gue!'


'Halo? Ada orang disana?'


'Oke kalau lu udah baca chat gue, langsung bales ya..'


Spam chat Gilang berhasil membuat emosi Allan naik lagi. Apalagi dia tahu bahwa Gilang adalah cinta pertama Rena, dengan sikap Gilang yang sudah mulai mendekati Rena lagi, sedikit lagi pasti mereka akan bersama.


'Jadi bener dugaan aku, kamu ke rumah sakit bukan untuk jenguk sahabat. Tapi mau ketemu sama dia,' batin Allan kesal pada Rena.


Allan pun tidak lagi mendengarkan Fathur yang melaporkan urusan kantor, dia langsung berdiri dan mengambil kunci dan dompet yang ada di dalam ruang kerjanya. Fathur yang melihat pergerakan Allan yang mendadak pun cukup bingung. Fathur pun berinisiatif untuk stand by di teras rumah. Saat Allan melewati ruang tengah, ternyata Rena sudah menyelesaikan cuci piringnya.


Rena yang tidak tahu apa-apa pun melihat Allan sepertinya dia akan segera keluar. Rena pun mencoba bertanya dia akan pergi kemana,


"Malam-malam begini pak Allan mau keluar kemana?" tanya Rena dengan nada bicara lembutnya.


"Nggak perlu ingin tau urusan saya kamu! Bacakan dongeng saja untuk anak-anak," ucap Allan lalu berjalan keluar.


Saat di luar ternyata ada Fathur yang sudah menunggu. Fathur pun mempersilahkan tuan dia untuk masuk ke dalam mobilnya, dia bermaksud untuk memberi tumpangan tuannya. Namun Allan ingin meluapkan emosi jadi dia memilih untuk mengendarai mobil sendiri. Tentu saja Fathur tidak bisa diam begitu saja, dia pun mencoba untuk mengikuti Allan. Laju mobil Allan cukup kencang di malam hari ini, Fathur takut jika nanti terjadi sesuatu yang buruk pada Allan. Dia pun mengikuti laju mobil Allan.


Karena laju mobil Allan jauh lebih cepat daripada Fathur, membuat Fathur kehilangan jejak Allan. Namun hal ini tidak membuat Fathur menyerah, dia tetap harus mencari Allan sampai ketemu.


......................


Namun jika dia bercerai dengan Rena, orang pertama yang juga akan terluka adalah dirinya sendiri. Karena tanpa sadar di sudah mulai jatuh cinta pada Rena. Namun dengan dia bercerai, dia juga akan membuka kesempatan yang lebar untuk Gilang bisa masuk lagi.


Dua hal yang cukup membuat pusing Allan sama seperti dengan minuman yang dia tenggak sekarang. Dia minum beberapa botol sekaligus tanpa henti, sampai akhirnya dia benar-benar mabuk. Di tengah itu, ada orang lain juga yang minum di club itu. Tanpa sengaja Allan mendengarkan orang-orang luar itu berbicara.


"Gue dong yang lebih keren. Gue bisa dengan mudahnya ngebuat Raina suka sama gue, terus gue jadian sama sahabat dia. Tapi terus gue putus sama sahabat dia dan sekarang lagi proses deketin dia lagi.."


"Iya, kita-kita tahu kok. Lu kan Dion, bisa buang dan dapetin cewek segampang itu. Apalagi dengan jabatan yang lu punya di kantor tempat kerja lu sekarang,"


"Juga jabatan bokap lu yang tinggi dari perusahaan ternama lagi. Bisa segampang itu, cewek-cewek itu kan juga mau deket sama lu biar dapet keuntungan, sama kayak lu yang bisa dapetin keuntungan dari mereka.. Ya nggak? Hahahaha,"


Mendengar pembicaraan itu membuat Allan tambah emosi. Dengan langkah tak teratur Allan berjalan ke arah orang-orang itu. Dia terus mendengarkan mereka berbicara, apalagi dia mendengar ada yang menyebut nama Rena, semakin marahlah dia pada mereka.


Saat Allan sudah tahu pasti siapa yang bernama Dion, tanpa basa basi Allan pun memukulnya. Pukulan yang Allan beri tidak hanya sekali tapi berkali-kali dengan Allan yang berada di atas Dion. Tentu saja melihat teman mereka terkapar tak sadarkan diri karena di pukuli orang asing, membuat teman-teman Dion tidak terima dan berbalik memukul Allan. Mereka pun berakhir saling memukul satu sama lain. Sampai waiters di club itu datang dan melerai mereka. Karena luka-luka mereka cukup parah, mereka pun segera di larikan ke rumah sakit.


Saat manager club tahu Allan juga terlibat dalam masalah ini, dia pun langsung menelpon Fathur dan meminta dia untuk menjemput Allan di rumah sakit. Fathur yang terkejut pun langsung berbalik arah dan mengambil arah untuk menuju rumah dahulu. Dia berinisiatif untuk membawa Rena ikut dengannya, karena Fathur rasa Allan akan lebih mendengarkan Rena ketimbang dia yang hanya sekertaris.


......................


Beberapa jam sebelum kejadian


Rena pun hanya menuruti perintah Allan, setelah itu dia mengajak anak-anak untuk segera tidur di kamar. Setelah menidurkan anak-anak, Rena pun segera terbaring di tempat tidur dan mematikan lampu kamar.


Tepat pukul 01.00 ada seseorang yang mengetuk pintu kamar Rena dengan tergesa. Dia pun terbangun dan segera menyalakan lampu. Lalu dia membukakan pintu untuk seseorang itu. Ternyata seseorang itu adalah Fathur.


"Nona maafkan saya karena membangun kan nona beristirahat, tuan Allan tidak sengaja membuat masalah di luar. Saya perlu bantuan nona untuk menjaga tuan sembari saya mengurusi masalah tuan," ucap Fathur dengan terburu-buru.


"Okey tunggu sebentar, saya akan mengambil jaket saya.." ucap Rena lalu segera mengambil jaket dan ikut naik ke dalam mobil Fathur.


Kini mereka pun telah sampai di rumah sakit, karena terlalu panik Rena tidak sengaja menabrak suster yang sedang berjalan lawan arah darinya. Fathur yang berjalan cukup cepat pun sampai di lorong lebih awal, sedangkan Rena masih sibuk membantu suster yang tadi dia tabrak.


Fathur melihat tuan Allan dia tengah tertidur di kursi rumah sakit dengan muka lebamnya. Di kursi seberang lainnya ada dua orang asing yang bernasib sama dengan Allan. Kebetulan sekali saat Fathur sampai dokter yang berjaga malam pun telah keluar dari ruangan IGD. Dokter itu adalah Gilang, Fathur pun meminta dokter itu untuk memeriksa Allan juga.


Gilang pun berjalan dan mendekat ke arah Allan. Saat Gilang mulai memeriksa luka lebam, Allan pun mulai sedikit tersadar. Dia melihat ada Gilang di depan dia, kebetulan sekali dia ingin memukul Gilang. Dia pun mencoba berdiri dan reflek di bantu Fathur, Allan berdiri dengan tidak tegak karena efek alkohol yang masih merangsang. Sedangkan Gilang cukup terkejut dengan pasien dia yang setelah tertidur langsung berdiri.


Dengan aroma alkohol yang khas di tubuh Allan, dia pun memandang Gilang sambil tersenyum. Sesaat setelah itu Allan pun langsung melayangkan pukulannya tepat pada Gilang.


"Pukulan pertama saya, buat kamu karena kamu sudah buat dia menangis kemarin."


Allan pun memukul Gilang sekali lagi.


"Pukulan kedua saya karena kamu mau merebut dia dari saya lagi. Kita impas, Fathur bawa saya pulang!"


"Sebentar, pak Allan perlu di obati dulu lukanya, maaf dok. Bisa tolong obati tuan saya lagi? Saya akan menambah gaji dokter untuk kompensasi luka-luka yang dokter terima," ucap Fathur memohon pada Gilang. Sejak Awal Fathur kurang tahu bahwa Gilang yang sering dia bahas dengan Allan adalah Gilang yang menjadi dokter co *** di depan dia.


Tidak lama setelah itu Rena pun datang. Dia terkejut melihat wajah Gilang yang penuh lebam. Lebih terkejut lagi saat mendengar Fathur berkata seperti itu. Itu tandanya yang memukuli Gilang adalah Allan. Hal ini tentu saja membuat Rena marah besar pada Allan, lalu reflek dia langsung menampar Allan dengan cukup keras.


Rena menampar Allan karena dia teringat ayah tirinya yang dulu juga sempat memukul Gilang, sedangkan Rena tidak bisa berbuat apa-apa pada saat itu. Namun karena saat ini Rena bisa melawan, reflek saja tangannya otomatis menampar wajah Allan. Tentu saja setelah di tampar Rena, Allan merintih kesakitan.


"Argh.. Kamu tampar aku? Dia yang salah, dia yang mau ambil kamu dari aku! Kenapa aku yang di tampar?" tanya Allan.


Setelah bertanya seperti itu pada Rena, Allan pun melihat ke arah Gilang lagi dan kemudian memukulnya sekali lagi.


Gilang bukan tidak bisa menahan atau melawan. Alasannya karena dia adalah dokter yang merupakan contoh, dia juga tidak menyadari bahwa Allan masih bisa memukul dia dengan cukup kencang. Di tambah dengan spontanitas Allan yang memukul Gilang tanpa aba-aba.


"Pukulan terakhir untuk kompensasi karena kamu sudah membuat saya di tampar,"


"Pak Allan! Awalnya saya merasa bersalah karena sudah menampar pak Allan. Namun ternyata tamparan saya benar, bahkan akan lebih baik jika seharusnya bisa lebih keras lagi. Fathur bawa pak Allan ke mobil dulu, saya akan segera menyusul.." ucap Rena dengan nada tinggi.


Tersisa Rena dan Gilang di tempat, Rena pun kembali melihat memar yang ada di wajah Gilang.


"Kenapa sih lu dari dulu nggak pernah mau ngelawan? Sakit ya pasti? Sorry ya.. Maafin Pak Allan juga, akhir-akhir ini emosi dia lagi nggak stabil. Jadi ya seperti yang lu lihat kak, lu bisa obati luka lebam di wajah sendiri kan?"


"Kok lu bisa kenal deket sama pak Allan dan pak Fathur? Kenapa lu minta maaf atas nama dia? Ada yang perlu lu jelasin ke gue Rena.." tanya Gilang pada Rena.


...***...