Cold CEO & Cute Girl

Cold CEO & Cute Girl
Terluka Karena Dia



"Apa syaratnya?" tanya Rena.


"Kamu mau menandatangani surat cerai dengan saya," ucap Allan.


Syarat yang sungguh tidak mungkin Rena setujui. Karena selain telah memiliki perasaan pada Allan, dia juga mendapatkan wasiat dari kak Fara.


Jika bukan dengan alasan yang jelas, dia tidak bisa menceraikan Allan semudah itu. Meskipun sebelum mendapatkan wasiat, dia sudah lebih dahulu menandatangani surat perjanjian pernikahan kontrak dengan Allan. Rena pun mencoba membahas hal itu demi mengulur waktu.


"Perjanjian kontrak kita masih cukup lama, tidak perlu membahas itu sekarang bukan?"


Setidaknya dengan sisa waktu itu, Rena bisa berusaha untuk membuat Allan jatuh cinta padanya.


"Yasudah kalau tidak mau," ucap Allan lalu berjalan menuju kamarnya.


Lama sekali Rena berpikir haruskah dia melakukan langkah terakhir ini. Selain karena hubungan mereka yang sudah sah suami istri, tidak ada hal lain yang menghalangi.


 Namun jika dia melakukan itu sekarang, mungkin hanya dia yang melakukan dengan perasaan, sedangkan Allan melakukan itu dengan nafsu saja. Apalagi yang Rena tahu, Allan belum memiliki perasaan yang sama dengannya.


Tanpa berlama-lama membuang waktu lagi, Rena pun berjalan mengikuti Allan ke dalam kamar. Setelah itu di tutuplah pintu kamar oleh Rena. Langkah selanjutnya dia meletakkan handphone di sebelah Allan.


 Jarak mereka semakin dekat, Allan yang tidak tahu apa yang akan Rena lakukan hanya bisa tertegun. Lalu saat jarak mereka tidak jauh dari 5 meter, Rena pun berbicara.


"Syarat yang itu, saya tidak bisa lakukan. Namun saya bisa membuat syarat lain untuk pak Allan." ucap Rena dengan memakai jurus tatapan menggoda.


"Syarat lain?"


Rena semakin menempelkan tubuhnya pada Allan, lalu dia pun berbisik.


"Syaratnya mudah, jika saya kalah melakukan kewajiban saya untuk pak Allan.. Saya akan menandatangani surat yang bapak mau. Namun jika pak Allan yang kalah, saya mau pak Allan untuk pulang ke rumah.."


Setelah selesai berbisik, Rena pun perlahan menjauhkan badan dari Allan. Kini Rena duduk di ranjang, sedangkan Allan masih berdiri kaku di dekat meja. Lalu kemudian,


"Yakin dengan apa yang sudah kamu bisikkan pada saya? Jangan terlalu meremehkan saya. Apalagi alkohol yang saya minum masih belum benar-benar hilang," ucap Allan sambil tersenyum.


"Yakin, karena pak Allan berkata begitu, saya anggap anda setuju. Kalau begitu saya matikan kompor di dapur dulu." Rena pun melangkahkan perlahan kakinya keluar menuju ke arah dapur.


Tersisa Allan yang ada di dalam kamar. Kini dia menatap kaca dan berbicara pada dirinya sendiri dalam hati,


"Anggap saja ini nafkah batin yang akan segera kamu gugurkan Allan. Setelah ini kalian bisa benar-benar bercerai,"


Saat dia akan bergerak ke arah ranjang, hp Rena berbunyi. Tertulis jelas nama orang yang menghubungi Rena "Kak Gilang". Segera langsung di matikan panggilan telepon itu.


Jika sebelumnya, perasaan hati Allan masih tenang dan dia bisa menggugurkan kewajiban dengan lembut. Maka berbeda dengan saat ini, karena terbakar api cemburu dia pun akan melalui proses dengan cukup kasar.


Sebenarnya Rena tidak benar-benar ingin mematikan kompor. Dia masih cukup ingat jika semua kompor listrik sudah dia matikan. Dia keluar kamar Allan untuk menenangkan diri dahulu.


Ini adalah pertama kalinya untuk Rena melakukan hal ini, apalagi dia melompati proses pentingnya. Dia belum cukup berpengalaman, namun sudah menantang seseorang.


Rena juga cukup khawatir karena disini yang melakukan dengan hati hanyalah dia, namun tidak dengan Allan. Namun jika tidak sekarang, tidak akan ada lagi kesempatan dia untuk mencoba. Apalagi Allan yang sangat ingin menceraikan Rena.


Setelah menenangkan diri, Rena pun masuk kembali ke dalam kamar. Namun saat dia sudah masuk, dia melihat Allan yang sedang menghabiskan sisa alkoholnya.


Dia pun mulai melangkahkan kaki perlahan untuk mundur. Jika sebelumnya Rena cukup percaya diri karena Allan sudah sadar dari mabuknya. Sekaligus bisa membuat Allan berpikir dua kali untuk tidak menceraikan dia. Namun jika sekarang Rena melakukan hal itu, dia pun tidak yakin apakah besok Allan masih mengingat kejadian malam ini.


Namun dengan langkah gusar, Allan segera berjalan ke arah pintu untuk menguncinya. Hal ini membuat Rena berhenti di tempat. Dia bingung harus kabur dengan cara apa.


Saat Rena masih berpikir untuk bisa segera keluar dari kamar, Allan segera mendorong Rena ke kasur. Kini posisi Rena sedang duduk di kasur, sedangkan Allan tengah berdiri sambil berpegangan tubuh Rena agar tidak jatuh.


"Kenapa jadi takut? Kamu yang membuat penawaran ini. Jika kamu tidak bicara, saya anggap kamu tidak menolak ini.." Ucap Allan.


Rena hanya bisa terdiam dengan apa yang akan dilakukan Allan. Dia melakukan hal ini selain karena kewajiban seorang istri, juga demi anak-anak.


Allan memulai dari yang paling dasar, dia mulai mendekatkan wajahnya dengan Rena. Lalu dia mulai mencium Rena. Pergerakan mereka cukup pelan karena Rena sesekali menjauhkan wajahnya dari Allan.


Setelah itu Allan mendorong tubuh Rena hingga terjatuh ke kasur. Karena Allan cukup lama melakukan hal intim di wajah sambil sesekali menatap Rena yang ketakutan, nafas dia pun tersengal-sengal.


Namun hal ini tidak membuat Allan berhenti, dia mulai membuka kemeja yang dia pakai. Setelah itu dia melihat Rena dengan tersenyum, tubuhnya perlahan mendekat ke arah Rena lagi.


Dia perlahan membuka kancing baju Rena sambil sesekali mencium Rena. Saat dia mencapai kancing terakhir Rena, dia menatap wajah Rena. Wajah yang penuh ketakutan, seharusnya dia senang melihat Rena takut. Namun entah mengapa hatinya merasa tidak nyaman.


Dia mengurungkan membuka kancing terakhir, lalu kemudian menjatuhkan tubuhnya di dekat Rena. Dia menatap wajah Rena lekat, bagaimana bisa dia ingin melukai perempuan yang disukainya ini. Rena yang cukup terlalu takut pun sampai tidak sadar jika Allan sudah menghentikan gerakannya.


Rena baru bisa membuka mata disaat dering handphone nya berbunyi. Dia melihat ke arah Allan yang sedang menatapnya, lalu kemudian dia bangkit dan mengangkat telfon.


"Okey gue akan segera kesana. Tunggu ya,"


Allan yang mendengar itupun langsung berubah posisi dari tidur ke duduk. Sedangkan Rena tengah merapikan pakaian yang dia pakai. Rena pun menagih janji Allan.


"Pak Allan sudah kalah, jadi pak Allan harus menepati janji," ucap Rena.


"Apa yang kita lakukan belum selesai, kenapa buru-buru pergi? Mau melanjutkan hal barusan sama orang yang berbeda?" tanya Allan.


Dia menduga jika yang baru saja menelpon Rena adalah Gilang, meski ucapannya barusan cukup tidak masuk akal. Namun alangkah baiknya jika mereka menghentikan kegiatan hari ini tanpa ada dering telpon. Hati Allan pun tidak akan terbakar api cemburu.


Sedangkan Rena yang mendengar perkataan Allan pun cukup marah. Dia berjalan ke arah ranjang, lalu kemudian dia menampar wajah Allan cukup keras. Dia tidak menyangka bahwa Allan bisa berpikir begitu tentang dia.


"Jaga omongan bapak ya!" Ucap Rena sambil menatap Allan dengan emosi.


"Lalu apa yang saya katakan barusan salah?" tanya Allan.


"Saya menyesal kenapa membiarkan bapak bisa menyentuh saya walaupun hanya sedikit! Saya mau pergi karena ada tugas kuliah yang perlu saya lakukan, toh bapak juga sudah menghentikan gerakan bapak!"


"Tugas kuliah? Atau tugas lain yang belum saya tuntaskan? Kalau mau bohong itu cari alasan yang lebih masuk akal!" ucap Allan.


"Terserah, saya mau pak Allan pulang. Bukan demi saya, tapi demi anak-anak!" ucap Rena lalu segera bergegas untuk keluar hotel Allan.


Allan melihat kalung Rena terjatuh di kasur, segera dia mengejar Rena. Namun langkah Allan terhenti, dia mendengar seseorang tengah menangis di depan kamar hotelnya. Saat dia mengintip dari lubang pintu, ternyata itu adalah Rena.


Dia mulai menyadari jika apa yang dia katakan salah. Dia telah melukai hati seorang yang baik. Jelas Rena tidak seperti yang dituduhkan Allan, setiap apa yang dilakukan dia saja Rena selalu memejamkan mata. Bagaimana bisa dibilang profesional?


...***...