Cold CEO & Cute Girl

Cold CEO & Cute Girl
Ungkapan Tidak Langsung



"Ini masih belum satu hari setelah nona pergi, namun tadi pagi tuan sudah mengamuk bahkan menghancurkan barang yang bisa di hancurkan di kamar nona. Lalu sedari siang sampai malam hari tuan minum wine tanpa mengisi perutnya. Jika ini berkaitan dengan nyonya, lalu bagaimana dengan kejadian tadi pagi? Ini kartu aksesnya nona. Saya tunggu nona di lorong dahulu, jika kondisi kurang kondusif nanti nona bisa langsung memanggil saya saja." ucap Fathur sambil tersenyum pada Rena.


Meskipun sedikit ragu untuk melangkahkan kaki masuk, perlahan Rena pun menyentuh gagang pintu dan kemudian mendorongnya. Setelah itu dia mendorong pintu kembali ke tempat semula dengan posisi sedikit terbuka. Saat masuk ke dalam aroma yang sangat dibencinya menyeruak memenuhi ruangan, detik berikutnya Rena mencari sosok yang dia cari.


Semakin dalam masuk ke dalam kamar hotel VIP, akhirnya dia berhasil menemukan sosok yang dicari. Dari cara duduk dan tatapannya Rena sudah mengerti jika dia sudah mabuk berat. Jika di pengalaman dahulu dia memilih berjalan mundur dan pergi, lalu bersikap seolah tidak pernah melihat apapun. Kini Rena memberanikan diri untuk berjalan maju mendekat. Sosok yang ada di depan Rena sama sekali tidak menyadari keberadaannya, semakin dekat jarak mereka semakin tersayat hari Rena. Karena dalam ingatan Rena, Allan bersikap seperti ini adalah karena kak Fara bukan dia.


Saat Allan mendekatkan mulutnya ke gelas yang baru saja dia isi, Rena menahan tangan Allan. Mereka saling bertatapan dengan Rena yang menatap mata Allan dengan tajam. Allan yang marah pun tidak mempertahankan gelas yang digenggamnya, melainkan mendorong gelas menjauhinya. Hal ini membuat Rena kehilangan keseimbangan dan kemudian terjatuh. Respon Allan membuat Rena miris, dia hanya melihat Rena 5 detik lalu kemudian mengambil botol didepannya dan langsung meminumnya. Hal ini membuat Rena makin naik darah dan berbicara dengan nada tinggi kepada Allan.


"Pak Allan di larang nggak tau ya? Udah.. Udah mabuk kata gitu masih aja minum, botol itu di taruh di meja apa Rena perlu rebut aja?" ucap Rena sambil perlahan beranjak berdiri dari posisi jatuhnya tadi.


"Jangan bohongi saya, saya nggak se mabuk itu sampai nggak tau siapa yang ada di depan saya.." ucap Allan pada Rena.


"Taruh meja atau di rebut!" ulang Rena dengan nada yang lebih tinggi.


"Hei, kamu itu cuman orang luar. Jangan berani untuk berteriak di depan saya. Ngerti kamu, pergi...."


Saat mendengar kata orang luar membuat hati Rena semakin terasa sakit. Dengan dia melihat Allan yang sudah mabuk saja sudah cukup menyakitkan, kini harus ditambah dengan ucapan tegas Allan bahwa dia adalah orang luar. Airmata pun menetes tanpa permisi, ucapan Allan seolah menjadi bius untuk Rena. Dia sudah tidak ada daya untuk berbicara lagi sampai kemudian dia mendengar Allan berbicara lagi.


"Jangan mengaku-ngaku jika kamu Rena, dia nggak kesini. Dia sudah pergi dan bahagia dengan cinta pertamanya. Mana ada waktu dia untuk memikirkan saya(tertawa).." ucap Allan sambil melihat botol wine yang ada di tangannya, dia putar-putar sisi botol wine itu sambil mengungkapkan semua isi hatinya.


Setelah namanya disebut, Rena pun kembali memiliki kekuatan untuk berjalan mendekat ke arah pak Allan. Rena sengaja tidak menjawab ucapan pak Allan, lantaran dia ingin mendengarkan kelanjutan ucapan Allan.


"Saya.... Hanya akan memberitahu kamu sekali saja... Ingat! Tidak ada pengulangan, karena saya..... Cukup malu mengatakan ini.." ucap Allan sambil melihat Rena.


Karena Allan berkata demikian, Rena pun menghentikan langkahnya. Dia sudah siap dengan kemungkinan terburuk yang akan dia dengarkan setelah ini.


"Di... Hubungan kali ini.... Pertama kalinya saya merasakan cinta bertepuk sebelah tangan...(tertawa) Di sini hanya saya yang menyukai Rena, sedangkan dia...(tertawa) Dia cukup mencintai cinta pertamanya, kamu tahu... Ini adalah hal terbodoh saya..(tertawa)" ucapan Allan lalu kemudian setelah memutar botol wine yang dia bawa, kini dia pun langsung meminumnya tanpa menggunakan gelas.


Rena yang mendengarkan ucapan Allan pun semakin menangis, namun kini tangisnya berubah menjadi tangis bahagia. Dia tidak menyangka bahwa ternyata Allan juga sama sepertinya. Kini Rena pun bertekad untuk semakin mendekat ke arah Allan. Lalu dia duduk di samping sofa Allan, dia melihat Allan yang sudah merasa tidak nyaman setelah meminum wine miliknya. Rena pun menahan tangan Allan dengan tujuan agar dia tidak meminum itu lagi.


"Saya sudah bilang, jangan melarang saya.... Saya hanya bisa meminum ini sampai mabuk agar saya bisa melupakan dia. Sakit di perut saya tidak seberapa sakitnya, dibandingkan menyadari jika tidak akan kembali lagi pada saya... Bahkan saya sudah cukup mabuk sambil melihat kamu itu sama seperti dia... Pergi kamu..." ucap Allan dengan tatapan tajam pada Rena.


"Yang ada di depan pak Allan sekarang ini Rena. Rena pak, pak Allan lupa sama Rena..?"


"Saya bilang pergi ya pergi! Wajah kamu terlalu mirip dia, saya takut akan melakukan hal buruk padamu hanya karena kamu mirip dia.. Pergi..." ucap Allan lalu mendorong Rena menjauh darinya.


Saat Rena kembali duduk dengan mendekat cukup dekat, Allan pun berteriak yang kemudian membuat Rena panik.


"Argh.... Sakit.... Argh.... Sakit.... Argh..."


"Pak Allan tenang, coba jelasin ke Rena rasanya gimana? Sakitnya dimana? Jangan teriak aja, Rena jadi ikut panik.. Hiks..." ucap Rena bingung dia harus bertindak bagaimana.


"Argh... Perut... Sakit.... Argh...."


"Fathur.... Fathur... Tolong saya... Fathur...." ucap Rena berteriak cukup kencang berharap Fathur bisa segera masuk. Rena pun mencoba untuk menggenggam tangan Allan. Dia masih mengingat apa yang dikatakan kak Gilang, dengan genggaman tangan bisa membuat seseorang semakin semangat untuk bertahan.


Fathur pun mendengar teriakan Rena. Fathur yang melihat sang tuan besar merasa kesakitan, akhirnya dengan sigap memberi saran untuk langsung dibawa ke rumah sakit terdekat saja. Rena pun langsung dengan sigap membantu Fathur membopong Allan. Kemudian membukakan pintu kamar hotel dan pintu mobil.


Di sepanjang jalan Allan terus berteriak kesakitan di perutnya. Rena pun hanya bisa menangis sambil menggenggam tangan Allan. Fathur pun mencoba untuk membuat tenang nyonya mudanya.


"Nona tenang saja, tuan pasti bisa bertahan. Kita segera menuju ke rumah sakit terdekat, nona terus genggaman tangan tuan ya.." ucap Fathur sambil sesekali melirik ke spion tengah mobil.


"Fokus depan aja Thur.. Cepetan.. Pak Allan udah kesakitan banget... Hiks..." ucap Rena panik.


Lalu saat mobil mereka hampir dekat dengan rumah sakit, Allan pun tak sadarkan diri. Hal ini membuat Rena semakin panik dan takut jika hal buruk terjadi pada Allan.


...***...