Cold CEO & Cute Girl

Cold CEO & Cute Girl
Alasan Zanna dan Abel



"Gue nggak minta hal yang susah-susah kok. Cuman, ini kan tugas kelompok dan juga bentar lagi kita perlu magang, pasti makin sibuk dan susah kalau harus cari waktu buat liburan bareng-bareng. So..." ucap Zanna namun dia beri jeda, dia ingin melihat respon Rena tentang sedikit spoiler yang dia beri.


"Terus apa? Lanjutin, kok diem.." tanya Rena penasaran dengan apa yang akan dikatakan Zanna, pasalnya dia jarang sekali cukup ragu dalam berbicara pada Rena.


"Kita perlu keluar kota.. Lu nggak keberatan kan kalau kita take 3 tugas video kita di luar kota?" tanya Zanna pada Rena.


"Di luar kota? Rencananya kapan kita berangkat buat take? Hari-hari ini kan lagi waktunya buat apply lamaran magang..." tanya Rena cukup terkejut karena ternyata mereka ingin take video di luar kota.


"Kalau itu gampang sih. Masing-masing dari kita udah harus siapin file dan data buat apply lamaran magang, jadi nanti kita cuman perlu tungguin waktu di buka lowongan magangnya aja kapan.." jawab Abel.


"Iya juga sih, okey boleh. Apalagi mulai besok kan udah di buka lowongan magangnya, jadi mungkin waktu take tinggal tungguin hasilnya aja. Terus berarti nanti kita produksi video sekitar berapa hari?" tanya Rena lagi.


"Kalau cepet sih 10 harian selesai.." jawab Abel lagi.


"Okey, mau take di kota mana?"


Saat di tanya Rena seperti itu sikap Zanna hanya diam saja. Dia bingung harus bagaimana. Akhirnya dia mengusulkan untuk merubah rencana yang mereka buat di awal.


"Gimana kalau nggak di tempat kemarin, kita ubah aja rencananya.." usul Zanna pada yang lainnya.


"Zanna, udah deh jangan buat keributan lagi. Kalau kita ubah, kita bakal ulang dari awal dong. Gue nggak akan mau ya bantuin mikir lagi, usaha kita kemarin juga berakhir sia-sia. Gue nggak mau ya.." ucap Rama sambil menunjukkan rasa kesalnya.


Akhirnya Rena mempunyai kesempatan untuk bertanya, dia pun langsung bertanya pada Rama.


"Emang tujuan awal di mana sih Ram?"


"Buat bikin video sosialisasi sama cover lagu, rencana di area Bromo. Di sana kan view-nya juga lagi bagus-bagusnya. Kalau buat video vlog, ya di sepanjang jalan kita buat bahan sedikit-sedikit, plus final nya kita bikin di Jatim Park aja. Bromo sama Malang kan deket, gimana? Ide nya udah keren dan nggak perlu di ubah lagi kan Ren?" tanya Rama, dia ingin di puji Rena dan dengan begitu mereka tidak perlu lagi untuk merubah rencana awal lagi.


Mendengar Beberapa tempat tujuan mereka, Rena pun akhirnya tahu mengapa Zanna dan Abel sedari tadi cukup ragu. Zanna dan Abel cukup ragu karena mereka tahu bahwa ada banyak kenangan tidak baik yang Rena dapat sana. Apalagi sekarang rumah ibu kandung dan ayah sambung Rena berada di Malang, meski kesempatan bertemu sangat kecil namun tidak ada yang tidak mungkin. Mereka juga tahu sedari awal masuk kuliah hingga kini Rena masih belum sanggup untuk bertemu mereka. Setiap libur kuliah pun dia sengaja lebih memilih untuk bekerja paruh waktu di kota ini. Dengan begitu dia jadi ada alasan mengapa tidak bisa pulang ke rumah.


Rena menatap Zanna dan Abel yang masih saja diam. Rena tahu dia tidak boleh egois, benar kata Rama jika mereka mengulang untuk mencari kota lain. Maka usaha mereka akan sia-sia. Karena urusan di rumah juga sudah aman, dengan hubungan dia dan pak Allan yang sudah membaik, Rena pun ingin mencoba untuk mengambil keputusan. Apalagi masalah Rena sebelumnya bisa selesai karena dia mampu untuk menghadapi masalah itu, bukan lari seperti biasanya.


"Iya, udah oke kok tempat-tempat itu buat bikin konten. Yaudah sesuai rencana awal aja, gue nggak masalah kok.." ucap Rena sambil tersenyum meski masih terlihat jika dia merasa kurang nyaman.


Zanna dan Abel yang melihat ekspresi Rena pun mengajaknya untuk kebelakang. Mereka ingin mengklarifikasi dan menjelaskan sejelas mungkin pada Rena. Mereka tidak ingin Rena salah faham karena kenapa tidak dari awal di rubah di kota lain saja.


Kini mereka pun sudah sampai di halaman belakang rumah Rangga. Nyali Zanna dan Abel yang awalnya sudah mantap untuk menjelaskan pada Rena mulai menciut. Rena menghela nafas berat, setelah itu dia mulai mengajak berbicara kedua sahabatnya ini.


"Kalian mau ngobrolin apa? Kok ngajakin gue ke sini? Kenapa nggak di depan yang lainnya aja?" tanya Rena pada kedua sahabat yang ada di depannya.


"Rena, kenapa hari ini mood lu bagus banget sih. Dari tadi itu lu harusnya kan udah marah sama kita, tapi ini malah cuman tarik nafas berat terus senyum. Mana pertanyaan lu banyak banget lagi..." gerutu Abel pada Rena.


"Abel, udah diem.." ucap Zanna menghentikan Abel berbicara, karena jika tidak dihenti dia akan semakin menggerutu. Respon Abel pun langsung diam.


"Gimana Zan? Ada yang perlu di jelasin nggak ke gue?" tanya Rena dengan senyuman yang masih merekah di wajahnya.


"Sorry ya Ren, bukannya gue nggak stop dari awal. Awalan tuh gue udah stop dan coba cari referensi lain, tapi karena mereka bertiga dan gue sama Abel cuman berdua, jadi ya kalah deh gue. Apalagi mereka udah punya gambaran mau bikin konten kayak gimana dan emang udah cukup ide mereka, jadi ya kan lebih meringankan kita. Nggak perlu terlalu mikir banyak," Jelas Zanna.


"Selain itu mereka juga tanya ke kita berdua kenapa ngeyel pengen di ganti lokasinya. Nggak mungkin dong kita jelasin alasannya kenapa.." sambung Abel.


"Iya santai aja guys, nggak apa-apa kok. Selain itu gue juga harus say thanks sama kalian. Karena meskipun gagal tapi udah coba buat ganti lokasi. Lagian kalau dipikir-pikir lagi nih ya, gue nggak boleh terus-terusan melarikan diri..." ucap Rena masih dengan ketenangannya.


"Jujur dari dulu gue juga mau kasih tahu lu hal ini, tapi gue tahan-tahan. Apalagi gue tahu sendiri gimana mereka perlakukan lu. Untung aja lu akhirnya tahu sendiri dan lu tenang aja Ren, kalau lu ketemu sama keluarga lu gue yang paling depan bantuin lu.."


"Bener kata Zanna, gue juga udah siap buat bantuin. Enak aja mau nyusahin sahabat kita, nggak tau apa dia ini kesayangan kita-kita," tambah Abel.


"Yaudah yuk ke ruang tamu lagi, keburu mereka curiga kenapa kita-kita lama di belakang..." ajak Rena yang kemudian langsung diikuti Zanna dan Abel.


...***...