
Banyak sekali pertanyaan yang ada di kepala Gilang karena kejadian barusan. Gilang cukup penasaran dan bingung bagaimana bisa Rena mengenal sosok pak Allan. Siapa di kota ini yang tidak mengenal pak Allan, sosok yang cukup berpengaruh dan sudah memiliki banyak cabang kantor di berbagai kota. Dia adalah CEO dari Pratama Group.
"Kok diem aja? Jelasin ke gue sekarang! Gue nggak mau ya lu berurusan sama pak Allan, kita itu beda dunia sama dia Ren.."
"Ceritanya panjang kak, hmm sakit nggak itu luka-luka yang ada di wajah lu?" tanya Rena khawatir.
"Kok jadi coba cari pembicaraan lain sih? Nggak bisa jelasin ke gue sekarang?" tanya Gilang lagi.
"Ya gitu deh.. Apalagi sekarang itu waktunya nggak tepat. Next time kalau kita ketemu lagi dan di waktu yang tepat pasti gue jelasin ke lu. Tapi itu beneran? Lukanya nggak apa-apa? Berdarah loh.."
"Nggak seberapa kok sakitnya, masih aman. Lebih parah lukanya pak Allan, mana lu suruh sekertaris dia buat bawa dia ke mobil. Jadi gue nggak bisa obati dia sekarang, gimana dong?"
"Ih kak, serius kan lu nggak apa-apa? Terus buat orang yang udah di buat terbaring di IGD gimana?"
"Gue serius, santai aja. Buat gue luka ini itu nggak ada apa-apa di bandingin luka di wajah pak Allan. Tapi lu bisa kan kasih pengobatan pertama? Nanti sampai rumah langsung di obati aja lukanya, kalau besok ada sakit-sakit bagian dalam. Bawa ke rumah sakit lagi.." ucap Gilang masih bisa untuk bersikap profesional pada seseorang yang sudah membuat wajahnya terluka.
"Okey kak bisa kok, kan lu udah pernah ajarin gue buat kasih pertolongan pertama gimana caranya. Terus pasien yang lain gimana?"
"Masih jauh lebih baik daripada yang ada di IGD, mending lu panggil pak Fathur buat kesini. Urusan seperti ini pak Fathur jauh lebih tahu dibanding gue. Gue tunggu disini sembari gue obati dua pasien luka-luka yang lainnya," ucap Gilang pada Rena.
"Oke kak, gue ke mobil dulu ya. Gue panggilkan Fathur kesini," ucap Rena lalu berjalan menuju mobil.
"Fathur? Lu panggil pak Fathur pake nama aja?" tanya Gilang bingung dengan Rena yang cukup berani memanggil seorang sekretaris Fathur hanya dengan nama, apalagi usia Rena jauh lebih muda di banding dia.
"Salah denger tau kak lu, orang gue bilang ada pak nya kok.. Bye, gue coba panggilkan pak Fathur.."
Rena pun kemudian berlari ke area parkiran mobil. Di sana sudah ada satu mobil besar yang mencolok dan terparkir di pinggir parkiran. Karena Rena sudah hafal dengan plat mobilnya, dia pun langsung mengetuk kaca jendela mobil bagian kanan depan. Kaca mobil pun di turunkan dan memperlihatkan seorang sekretaris tampan di depannya.
"Fathur tolong ambilkan kotak obat merah yang ada di depan samping pengemudi," ucap Rena sambil melirik bagian jok tengah. Dia melihat Allan tengah terbaring tidur di sana. Lalu dia pun masuk mobil dari pintu tengah sebelah kanan.
"Ini nona kotaknya." ucap Fathur sambil membalik badannya ke belakang.
Setelah mendapatkan apa yang dia perlukan, Rena pun perlahan mengeluarkan obat merah dan salep yang diperlukan dia.
"Apa nona perlu bantuan saya untuk mengobati luka tuan Allan?" tanya Fathur berinisiatif.
"Baik nona, kalau begitu saya permisi. Jika nona perlu bantuan saya, nona hanya perlu menelpon saya saja." ucap Fathur yang langsung di balas dengan anggukan Rena. Karena Rena masih sibuk membuka salep luka yang dia bawa.
Setelah kepergian Fathur, Rena pun mulai mengoleskan salep pada wajah Allan. Karena cukup Rena perih, Allan pun menepis tangan Rena sambil merintih kesakitan. Namun tidak di gubris Rena, dia tetap mengoles setiap luka yang ada di wajah Allan.
"Argh, sakit..." ucap Allan sambil menahan tangan Rena.
Meskipun masih dalam keadaan mabuk, Allan tahu bahwa di depan dia ini adalah Rena istri mudanya. Dengan tangan masih memegang tangan Rena, dia pun mendekatkan wajahnya pada Rena. Lalu detik selanjutnya dia tersenyum dan berkata,
"Cantik..." ucap Allan sambil tersenyum.
"Lain kali kalau pak Allan kayak gini, bodo amat gue nggak akan coba buat bantu atau merawat lagi. Mana baru tahu kalau gue cantik cuman waktu lagi mabuk, gue kasih tau ya.. Gue cantik udah dari lama bukan cuman di jam-jam tertentu, inget itu." gerutu Rena sambil melanjutkan mengoles luka yang ada di wajah Allan.
Setelah selesai mengoles luka, Rena pun kembali menutup setiap salep dan obat. Lalu kemudian dia letakkan di jok depan sebelah kiri pengemudi. Saat Rena hendak kembali ke posisi duduknya lagi, dia pun di tarik ke dalam pelukan Allan. Karena yang dilakukan Allan cukup mendadak dan tanpa aba-aba, Rena pun tidak ada waktu untuk bertahan dan berakhir di pelukan Allan.
Sesaat setelah memeluk Rena, Allan pun tersenyum dan berkata,
"Iya kamu cantik, sangat cantik.." ucap Allan.
Allan tahu dia masih belum sepenuhnya lepas dari efek alkohol yang di minumnya, namun dia juga ingin sedikit egois. Dia ingin memeluk Rena sekuat mungkin. Malam ini dia mabuk karena cemburu dengan gadis yang ada di sampingnya, jadi dia ingin meluapkan rasa cemburunya dengan sepuas mungkin memeluk Rena.
"Lepasin nggak, pak Allan ini tuh lagi mabuk. Dan nggak bilang gue cantik waktu mabuk, mau gue tampar lagi?" tanya Rena sambil menatap mata Allan.
'Jadi kamu mengira aku cukup mabuk berat sampai lupa siapa yang ada di hadapanku saat ini? Okey, aku ikuti alurnya. Memang nggak ada yang bisa membuat aku semakin mabuk kalau bukan karena kamu, aku merasa percaya dan yakin sama kamu. Jadi nggak perlu lagi buat pura-pura kuat, aku cuman seperti ya hanya sama kamu aja Rena..' batin Allan sambil tersenyum. Dia pun semakin mengeratkan pelukannya pada Rena.
"Jadi beneran mau gue tampar lagi baru di lepasin pelukannya? Gue hitung loh ya sampai tiga, kalau nggak dilepas, gue akan lepas paksa terus gue tampar ya.." peringat Rena pada Allan yang hanya di balas dengan senyuman nakalnya.
Rena pun semakin kesal dengan sikap Allan yang seperti ini. Akan lebih baik jika saat mabuk dia juga bisa bersikap sama seperti Allan yang dingin seperti biasanya.
"Satu.... Dua..... Tigaaaaa..."
...***...