Cold CEO & Cute Girl

Cold CEO & Cute Girl
Efek Kesalahpahaman



Tidak lama setelah mobil yang dikendarai pak Didit keluar rumah, pak Faisal yang penasaran dengan apa yang terjadi di dalam rumah pun ikut berkumpul. Setelah Fathur berbicara tentang pemikiran dia, pak Faisal langsung akan tangan seraya ingin memberitahu apa yang dia tahu.


"Mohon maaf mas Fathur, bukannya saya ingin menyela. Tetapi saya ada sedikit informasi yang mungkin berguna," ucap pak Faisal dengan sedikit ragu.


"Apa pak? Langsung aja."


"Tadi pagi sekitar jam jam 5 pagi nona sudah bergegas menuju kampus.. Saya tidak terlalu berpikir yang tidak-tidak karena sikap nona bukan seperti orang yang selesai bertengkar." jelas pak Faisal.


"Nona naik apa ke kampus? Penampilan nona tadi pagi seperti apa pak?" tanya Fathur ingin mendengarkan apa yang di ketahui pak Faisal sedetail mungkin.


"Saat saya akan memanggilkan pak Didit untuk memintanya mengantar nona, nona sendiri yang berkata jika ia sudah memesan taxi online pak. Jadi saya mengurungkan niat untuk memanggil pak Didit. Selain itu nona juga membawa satu koper besar pak tadi pagi,"


"Nona bawa satu koper besar kenapa kamu izinkan keluar!" ucap Fathur dengan nada tinggi.


"Maaf pak, saya sudah bertanya pada nona. Nona berkata jika nona akan mengerjakan tugas kampus beberapa hari, jadi nona perlu membawa banyak barang untuk menunjang," jawab pak Faisal dengan menunduk ke bawah karena merasa bersalah.


Meskipun Fathur tidak tahu begitu jelas apa alasan Rena nyonya mudanya keluar rumah, namun dia tahu pasti. Bahwa salah satu alasan tuan besarnya mengamuk berkaitan dengan kepergian nyonya muda. Fathur pun meminta semua orang untuk mengerjakan pekerjaan masingmasing. Sedangkan dia akan fokus untuk melihat kondisi sang tuan besar.


Fathur melangkahkan kaki hendak membuka pintu kamar Allan. Namun dia terkejut karena sumber suara amukan Allan sedari tadi bukan berasal dari kamar Allan. Melainkan berasal dari kamar Rena. Fathur pun mencoba untuk membuka pintu, setelahnya dia cukup terkejut dengan penampakan yang ada di dalam.


Semua barang yang ringan-ringan sudah hancur lebur karena Allan. Bahkan vas bunga dan kaca di meja rias Rena juga sudah pecah. Tentu saja setelah Fathur masuk ke dalam kamar, dia langsung mendapatkan tatapan tajam Allan. Fathur pun mulai sadar jika dia tidak bisa mengaktifkan mode bos dan karyawan lagi. Melainkan harus mengaktifkan mode teman untuk Allan.


"Pak Allan, apa yang bisa saya bantu untuk tuan sekarang?" tanya Fathur pada Allan.


"Hancurkan kamar ini, tidak ada lagi kamar untuk Rena di rumah saya. Dia sendiri yang menginginkan untuk pergi. Biar saja, dia akan menyesal dengan apa yang dia perbuat. Dia pikir saya akan merasa kehilangan dia? Jangan harap!" ucap Allan dengan nada yang cukup tinggi.


"Apa tuan sudah yakin dengan keputusan tuan? Anak-anak pasti tidak menginginkan hal ini terjadi,"


"Kamu itu berkerja untuk saya, kenapa malah mencoba berbicara untuk dia? Panggil bi Endang! Bi Endang(teriak Allan)..... Segera datang kemari,"


Tidak lama setelah itu bi Endang pun datang dan masuk ke dalam kamar Rena. Bersihkan semua kekacauan ini. Kamar ini sudah tidak perlu ada, ubah saja untuk ruangan anak-anak tidak perlu ada kamar untuk dia!" perintah Allan pada bi Endang.


Lalu Allan pun segera berjalan melewati bi Endang dan Fathur. Kini tersisa dua orang saja yang berada di kamar Rena. Fathur pun melihat setiap kekacauan yang diperbuat oleh Allan, begitupun juga dengan bi Endang.


"Baik mas Fathur, kalau begitu Bi Endang pamit untuk mengambil tempat sampah dan alat bersih-bersih lainnya."


Setelah berkata seperti itu, bi Endang langsung berjalan ke dapur. Setelah itu dia membawa beberapa orang yang ada di rumah besar untuk membantu dia. Sedangkan Fathur tengah menyusul tuan besarnya.


Allan tengah berada di ruang kerjanya untuk mencoba menenangkan diri. Namun saat melihat sofa dan kemudian menatap pintu yang berada di luar, dia akan kembali teringat dengan Rena. Dia pun kembali emosi dan melempar apapun yang berada di depannya saat ini. Namun beruntungnya tidak terlalu banyak barang yang hancur. Karena Fathur langsung sigap menahan tangan Allan. Dia pun langsung berkata,


"Jika memang cukup berat untuk berada di dalam rumah tuan, sebaiknya tuan kembali pindah ke hotel milik bapak. Maaf jika saya lancang, tetapi ini untuk kesehatan biologis anak-anak juga tuan." ucap Fathur dengan cukup berani pada Allan, dia hanya ingin yang terbaik untuk bos besarnya.


Cukup lama Allan menundukkan kepadanya, namun perkataan Fathur ada benarnya juga. Kejadian tadi membuat Allan kembali berpikir, sesaat tadi dia sudah lepas kendali. Bahkan Allan lupa jika anak-anak belum berangkat ke sekolah melainkan masih berada di rumah. Dia pun melempar kunci mobil yang berada tepat di depannya ke Fathur. Setelah itu Fathur pun segera melajukan mobil mewah Allan menerjang jalanan kota. Sesampainya di hotel Allan langsung membuka botol wine miliknya.


Fathur ingin melarang tuan besarnya agar tidak minum, namun dia juga akan bingung nanti jika Allan kembali mengamuk. Bahkan saat ini mereka bukan berada di rumah yang cukup bebas untuk berteriak. Namun jika dia mengamuk, akan semakin repot untuk membujuk lagi. Apalagi Fathur takut jika nanti akan menggangu pelanggan lain.


...***...


Halo semua👋


Maaf ya author sedang cukup sibuk akhir-akhir ini jadi tidak bisa cukup fast upload.


Jangan lupa untuk berikan like, komen, dan sarannya ya☺️😉


Author ada bonus Visual anak-anak papa Allan dan Buna Rena..


Alea Rahmadhani Kusuma



Davin Ian Ditya Kusuma