
Rena cukup bingung dengan apa yang dikatakan Allan padanya. Dia hanya perlu mandi segera, agar meskipun tidak berganti pakaian dia masih bisa terlihat fresh. Namun Allan malah meminta dia untuk menunggu Fathur masuk dahulu. Padahal saat ini penampilan dia bisa dibilang tidak sebaik biasa. Namun karena masih belum cukup sadar dari alam mimpinya, dia pun tidak perduli dan hanya mendengarkan Allan.
Setelah itu pintu pun terbuka, Fathur tiba-tiba masuk dengan membawa satu gantungan baju. Gantungan baju itu full dengan banyak pakaian. Setelah memasukkan gantungan, kini waktunya Fathur untuk melaporkan apa saja yang dibawanya.
"Sesuai perintah tuan Allan, saya sudah membawa beberapa model baju. Dari model casual, feminim, dan girly. Saya masih belum terlalu mengetahui mana yang nyonya suka, jadi saya berinisiatif untuk membawa ketiga macam baju ini sekaligus. Masing-masing ada 3 pcs baju yang bisa di pilih nyonya.." ucap Fathur melapor tugasnya.
"Okey, kalau begitu kamu bisa tunggu diluar dulu. Setelah ini antarkan Rena ke kampus, lalu setelah ke kampus kamu langsung ke kantor dahulu saja. Saya yakin hari ini bisa pulang, jadi sore ini kamu bisa ke kesini dan menjemput saya. Dan jangan lupa sekalian bawa sisa baju yang tidak di pilih ke rumah.." ucap Allan menjelaskan apa saja yang akan dia lakukan.
"Baik tuan, kalau begitu saya akan menunggu nyonya di depan. Saya permisi.." ucap Fathur lalu dia pun menundukkan kepalanya pada Fathur dan Rena, setelah itu dia langsung berjalan keluar untuk menunggu Rena.
Rena yang tidak tahu apa-apa pun hanya diam mematung. Dia masih belum percaya jika dia benar-benar sudah menikah dengan seorang CEO. Jika sebelumnya hal seperti ini hanya bisa dilakukan CEO di dalam drama yang dia tonton saja, kini dia pun mengalami hal yang sama. Lalu suara Allan pun membuyarkan lamunannya.
"Kamu mau sampai kapan bengong di situ? Udah habis jam 8 loh, setelah ini jam 9. Kamu mau terlambat berangkat ke kampusnya?" tanya Allan pada Rena dengan nada yang sedikit menggoda.
"Iya iya iya.. Ini Rena mau ambil satu bajunya. Tapi sisanya jangan dibawa pulang boleh nggak? Di kembalikan aja, sayang tau kalau beli barang mahal sebanyak ini.." pinta Rena.
"Nggak bisa gitu dong, kan udah di beli. Lagian aku belum pernah beliin kamu satupun barang kan? Yaudah ini aja.." ucap Allan menunjukkan gantungan baju yang ada di depannya.
"Tapi kak, ini tuh dari brand yang terkenal. Rena emang belum pernah beli ini, tapi Rena tahu kalau harganya itu..." ucap Rena namun dia tidak sanggup melanjutkan ucapannya, karena tanpa diucapkan pun Allan juga pasti sudah mengerti maksudnya.
"Kamu meremehkan aku?"
"Nggak gitu kak.. Nggak mungkin lah Rena meremehkan kakak..." ucap Rena dengan tatapan merajuknya.
"Iya.. Iya.. Kamu tuh emang sama banget sama Fara, kalian nggak suka aku buat buang-buang uang. Tapi aku kerja itu kan juga buat nyenengin istri. Jadi mulai sekarang nggak ada yang namanya hemat. Udah nurut aja, buruan ambil satu terus langsung siap-siap buat ke kampus.." perintah Allan yang hanya bisa di iyakan Rena.
Saat memilih baju, Rena melihat baju yang bukan seperti gayanya. Namun cukup bagus, hingga bisa menarik perhatian Rena. Dress mini dengan rok di atas lutut, lalu di balut dengan lengan panjang. Apalagi dress mini ini berwarna pink, yang juga merupakan warna kesukaan Rena. Dia pun mengambil baju itu, Rena sudah membayangkan jika nanti dia memakai dress ini. Pasti akan sangat pas sekali di badan mungil Rena.
Berbeda hal dengan Allan, dia cukup terkejut dengan dress yang di bawa Rena. Sebenarnya cukup bagus warna dress itu, hanya saja dress itu cukup pas di badan Rena. Dia tidak ingin teman laki-laki Rena menjadi tertarik padanya.
"Nggak boleh pake baju itu, Gimana sih Fathur milih bajunya. Baju itu hanya boleh kamu pake waktu lagi jalan sama aku aja, ganti model.." ucap Allan meminta Rena untuk memilih baju lain.
"Iya, apa yang kamu bilang itu bener.. Aku nggak mau lah istri cantik aku di liatin cowok lain di luar sama. Ganti, buruan nanti telat loh.." ucap Allan mengaku lalu dia meminta Rena agar bisa cepat-cepat memilih.
Setelah memilih baju yang ada di gantung untuk yang kedua kalinya, akhirnya pilihan terakhir jatuh pada dress dengan rok selutut bermotif bunga, dengan dipadukan dengan jaket berbahan rayon berwarna pink polos. Rena pun menunjukkan baju pilihan pada Allan, sebenernya dia ingin melarang Rena. Semua baju yang dibawakan Fathur yang cocok untuk postur Rena. Tapi dia juga tidak boleh egois, apalagi Rena harus segera berangkat ke kampus. Akhirnya dia pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Setelah itu Rena segera bergegas mandi dan bersiap untuk berangkat ke kampus. Setelah selesai dia pamit pada Allan,
"Nanti pulang jam berapa? Aku jemput ya?"
"Jangan, kamu kan baru pulang dari rumah sakit. Mending langsung istirahat di rumah aja, pulang nanti bisa di jemput pak Didit? Atau Fathur? Atau naik taxi online kan ya?"
"Tapi aku mau jemput kamu.." ucap Allan dengan tatapan mata yang menurun.
"Okey boleh deh, kalau selesai kampus jam 4 sore udah selesai kok kak. Cuman mungkin Rena perlu bahas persiapan buat Minggu depan ke luar kota. Jadi mungkin selesai jam 6 atau jam 7 malem.." ucap Rena dengan menatap arah lain, dia yakin Allan pasti cukup kesal padanya sekarang.
"Katanya kita mau kencan? Kenapa jadwal kamu jauh lebih padat daripada aku yang seorang CEO ini?" tanya Allan kesal.
"Ya maaf, kalau CEO kan karyawan yang kerja sama kamu. Kalau aku? Aku harus belajar, terus persiapin buat ke luar kota sendiri.."
"Itu alasan kamu? Ini kamu mau lanjut kuliah atau di rumah aja? Kan udah jadi istrinya CEO. Nggak kerja jadi, nggak perlu jadi gelar juga, ada aku." tanya Allan pada Rena dengan nada bicara yang kesal.
"Nggak kakak, nggak gitu.. Please ngertiin Rena ya.. Kalau kak Allan mau, yaudah nanti jam 6 sore kakak langsung jemput Rena. Terus kita bisa makan malam di luar sekalian kemarin bukannya mau beliin Rena power bank ya?" ucap Rena dengan binar matanya berharap Allan tidak marah padanya.
"Okey, berarti habis dari rumah sakit aku pulang dulu ya buat temenin anak-anak dulu.."
"Iya.. Makasih kakak, baik banget deh, pengertian juga. Kan Rena makin sayang jadinya.. Hehehe," ucap Rena pada Allan.
Mendengar apa yang dikatakan Rena membuat Allan cukup senang. Karena Rena ternyata juga bisa bersikap manja padanya. Dia pun hanya tersenyum dan kemudian menyalami Rena. Setelah itu dia pun di tinggal Rena sendiri di rumah sakit sendiri dengan beberapa berkas yang perlu dia urus.
...***...