
Selain Allan, ternyata Alea anak tertua di keluarga ini pun juga melihat apa yang dilakukan Rena. Alea pun berjalan mendekati Rena dan berbicara.
"Kakak, bukannya sebelum mama pergi kita sempat foto keluarga bersama ya?"
"Iya, benar sekali. Kamu masih ingat kalau kita sempat berfoto bersama? Ada apa, kok tiba-tiba membicarakan foto itu?" tanya Rena yang belum tahu maksud dari Alea.
"Kakak mau nggak foto itu kita perbesar seperti foto keluarga ini?" ucap Alea sambil menunjuk foto besar yang tadi sempat Rena tatap.
"Boleh, kalau begitu besok kita perbesar bersama ya? Kebetulan papa mau ajak kita semua satu rumah buat pergi bermain di luar. Senang nggak kamu denger kabar baik dari kakak?" tanya Rena pada Alea sambil tersenyum.
"Mau.." ucap Alea dan Ian bersamaan.
"Okey, kalau gitu dihabiskan dulu salad buahnya. Setelah itu langsung pergi ke kamar buat prepare besok. Gimana, setuju?" tanya Rena.
"Siap kakak, Alea akan bantu adek juga buat prepare. Hore akhirnya kita pergi main lagi setelah sekian lama.." ucap Alea dengan senang.
Anak-anak pun mulai menghabiskan salad buah dengan hari yang senang. Setelah selesai mereka pun segera bergegas berlari ke kamar masing-masing, dengan Alea di bantu bi Endang dan Ian di bantu sus Rini. Pak Faisal pun juga kembali menjaga gerbang, sedangkan pak Didit memilih untuk menemani pak Faisal di depan. Kini tersisa Rena dan Allan saja yang masih berada di meja makan..
Semenjak melihat Rena yang menatap foto keluarga, Allan sudah tidak bersemangat lagi menghabiskan salad buah didepannya. Dia pun hanya menatap berkas yang ada di depannya dengan pandangan kosong.
Rena yang menyadari perubahan mood Allan pun perlahan mendekat, dia melihat salad buah milik Allan masih cukup banyak. Rena berpikir jika Allan tidak terlalu menyukai salad buah buatan dia. Agar tidak penasaran dan hanya bertanya-tanya saja, Rena pun mencoba untuk menanyakan hal ini.
"Salad buah Rena nggak enak ya kak?" ucap Rena mulai bertanya.
"Enak kok," jawab Allan dengan senyum yang terlihat dipaksakan.
"Terus kenapa nggak dihabisin?"
"Kamu nggak suka ya lihat foto keluar itu? Aku lihat tadi kamu pandang foto itu serius banget.." tanya Allan terus terang pada Rena. Dia ingin segera menghilang kegundahan hatinya.
"Kok kak Allan kepikiran itu?" tanya Rena yang bingung.
"Apalagi kamu langsung setuju buat perbesar foto kita ke Alea. Aku sebenernya nggak keberatan foto-foto keluarga yang lama di pindah, cuman mungkin ini terlalu cepat buat anak-anak. Aku takut anak-anak belum siap kehilangan foto mama mereka.." jelas Allan pada Rena.
Rena yang menyadari apa yang sedang dirasakan Allan pun hanya bisa tersenyum. Dia tau betul hal yang perlu dibiasakan tidak harus diaplikasikan langsung. Dia tahu seperti apa perasaan itu, apalagi dia menjadi orang yang terlupakan. Sama seperti posisi Kak Fara yang masih belum bisa kak Allan lupakan.
"Nggak gitu kak maksud Rena. Kak Allan tahu kan kalau Rena juga nggak mau buat buru-buru di panggil Buna sama anak-anak. Jadi mana mungkin Rena mau hilangin semua foto keluarga di rumah ini. Rena nggak akan pernah gantikan posisi kak Fara di rumah ini sepenuhnya. Rena cuman mau ngisi posisi yang kosong aja.. Bukan berarti mau menggantikan.." jelas Rena dengan tenang.
"Bukan itu maksud aku, aku nggak bermaksud buat.." ucap Allan yang terhenti karena melihat sikap Rena yang hanya tersenyum di depannya.
Dia cukup tenang, sangat berbeda dengan yang seharusnya Rena lakukan. Dimana jika orang lain yang berada posisinya saat ini, pasti akan sangat marah dan kecewa.
"Foto yang di mau Alea bisa kita pajang di dinding yang kosong. Apalagi rumah ini cukup besar, semakin banyak foto akan semakin bagus dan lebih hidup suasananya kan? Tapi kalau kakak belum siap buat pajang foto itu nggak apa-apa, kita bisa perbesar dulu. Kalau kakak udah siap, baru kita panjang.." jelas Rena pada Allan.
"Iya nggak apa-apa, di pajang sesuai pengaturan kamu aja. Maaf ya kalau aku sakitin hati kamu, aku cuman.." lagi-lagi ucapan Allan tidak bisa dia selesaikan. Terlalu banyak luka yang belum dia lepaskan.
Rena yang mengerti bahwa mungkin saja kak Allan perlu waktu untuk sendiri, dia memilih untuk pamit menuju ke kamarnya.
Allan menatap foto keluarga yang ada di depannya, lalu berbicara dalam hati dengan foto yang dia tatap.
'Aku sudah keterlaluan pada Rena. Tidak seharusnya aku berpikir hal buruk tentang dia. Apalagi aku tahu sejak awal jika dia memang tidak ingin menggantikan kamu, aku harus bagaimana? Aku bingung harus meminta maaf seperti apa padanya Fara..'
Allan pun merapikan berkas yang dia pakai untuk bekerja, lalu berjalan menuju ruang kerjanya. Dia sama sekali sudah tidak bisa tidur di kamar utamanya. Dan kini dia hanya bisa berusaha untuk tidur di ruang kerjanya.
Sudah pukul 23.00 malam, semua orang pasti sudah beristirahat dan bermimpi indah. Hanya Allan yang sedari tadi belum bisa beristirahat. Akhirnya dia memilih untuk mencoba mengambil air putih, dia merasa haus setelah beberapa jam berusaha untuk tidur namun tidak juga berhasil.
Setelah dia mengambil air minum, dia kembali lagi ke ruang kerjanya. Sebelum dia masuk ruang kerja, secara kebetulan Rena yang terbangun dari tidurnya pun membuka kamar. Membuat kedua mata mereka bertemu, Allan ingin sekali berbicara pada Rena. Namun dia tidak ada keberanian untuk itu. Rena yang merasakan ada hal aneh pada Allan pun mendekat.
"Kak Allan belum tidur dari tadi?"
"Belum, kamu kebangun dari tidur ya?"
"Iya kak, Rena haus. Mau ambil air putih.."
"Ini minum aja, aku juga udah minum kok tadi di dapur. Ini untuk besok pagi, tapi besok pagi kan bisa ambil lagi.." ucap Allan sambil terus melihat ke arah lain.
Nyali Allan langsung mengecil saat dia menyadari jika dia sudah melukai hati Rena.
"Kak Allan, Rena ada disini. Kok ngobrolnya gitu, tatap mata Rena dong.." ucap Rena dengan senyum yang menyejukkan.
"Kok kamu masih bisa senyum kayak gitu setelah aku udah sakiti kamu?"
"Kak Allan susah tidur karena kepikiran tadi? Rena bener-bener nggak apa-apa kak. Tapi Rena cuman mau kasih tau kek kakak, Rena disini bukan untuk menggantikan posisi siapapun. Tapi mau mengisi posisi kosong.." jelas Rena pada Allan.
Allan pun langsung memeluk Rena, dia cukup tidak dewasa dengan pemikiran dangkalnya tadi. Bagaimana bisa dia berpikir perempuan sebaik ini ingin menghancurkan keluarga kecilnya. Dia menyesal dan memeluk erat Rena. Hingga tanpa sadar dia pun menitihkan air matanya.
Sedari kak Fara meninggal hingga hari ini, baru malam ini Allan bisa menitihkan air mata. Dia cukup takut karena apa yang dia lakukan bisa membuat Rena pergi dan ingin meninggalkan dia.
"Aku mohon sama kamu, jangan pernah berpikir buat tinggalin aku. Aku sayang banget sama kamu. Aku tahu sudah salah berpikir yang bukan-bukan ke kamu.. Maafin aku.. Hiks.. Hiks.. Aku cuman takut Fara nggak mau kita melupakan dia begitu cepat, meskipun kita memang harus melanjutkan hidup kita.."
"Iya kak, Rena nggak akan tinggalin kak Allan. Kak Fara juga ingin kita bisa selalu bahagia. Tapi meskipun gitu, sesekali kakak juga boleh kok kalau mau menangis. Karena menangis itu bisa meredakan kesedihan kita. Dan menangis bukan berarti membuat kita lemah."
Allan pun menganggukkan kepalanya, lalu mereka pun semakin memperkuat pelukan. Setelah itu saat Rena akan kembali ke kamarnya, Allan menahan tangan Rena. Rena pun berbalik melihat Allan lagi.
"Kenapa kak?"
"Aku mau tidur di kamar kamu aja.." ucap Allan sambil mengedipkan matanya dan bersikap lucu pada Rena.
Rena pun tersenyum melihat tingkah lucu laki-laki di depannya kini. Setelah itu dia mengizinkan Allan untuk tidur di kamarnya. Mereka pun bermalam di kamar yang sama. Allan juga tidak akan melakukan hal bodoh seperti sebelumnya. Kini dia mempererat pelukannya pada Rena. Dia terbaring tidur sambil memeluk Rena dengan tersenyum. Sedangkan Rena hanya bisa mencoba untuk menenangkan hatinya sambil berusaha untuk kembali tidur.
...***...