
Tepat pukul 15.00 Fathur pun sudah sampai di rumah sakit. Mereka bertemu di depan pintu ruang VIP Fara. Allan membaca setiap detail laporan tentang Rena yang Fathur sudah tuliskan. Tidak ada riwayat hal buruk yang tertera disana.
Hanya ada riwayat hubungan yang tidak baik dengan ayah kandung yang sudah menyia-nyiakan Rena. Lalu dengan kondisi sang Ibu yang sudah menikah lagi dan mempunyai anak lain selain Rena. Dia di tuntut untuk bisa menjadi dewasa, diusianya yang cukup masih mudap. Dia berkuliah karena ingin mandiri dan tidak bergantung dengan orangtuanya.
Kisah percintaannya pun tidak ada, tidak ada mantan pacar, hanya ada seseorang yang sudah lama dia suka. Dengan kata lain, dia masih single. Dengan kata lain juga cintanya hanya dalam diam untuk seseorang itu.
Lulusan dari beberapa tingkat sekolah negeri. Dia juga memiliki sahabat yang cukup baik padanya. Dengan kepribadian Rena yang sangat menyukai anak-anak. Dia juga menjadi seseorang yang percaya diri dan cukup tenang dalam menghadapi suatu masalah. Semua tentang Rena aman, jadi Allan pun meminta Fathur untuk mengantarkan dia menemui Rena.
Sebelum berangkat dia berpamitan dahulu dengan istri tercintanya. Dia menanyakan lagi apakah keputusan Fara sudah bulat, dengan mengizinkan Allan menikah lagi dengan seseorang. Respon Fara pun cukup senang mendengar itu, dia mengizinkannya dan ingin segera di langsungkan acaranya. Allan pun segera berpamitan dan pergi dari rumah sakit untuk menemui Rena. Sedangkan Fara selama Allan tidak di rumah sakit, dia di temani oleh suster rumah sakit.
......................
Sepanjang hari Rena tidak bisa fokus dengan materi yang di ajarkan Dosen. Pikirannya masih melayang, dia masih tidak percaya bahwa ada seseorang yang menyuruhnya untuk menikah. Bahkan menikah dengan suaminya sendiri. Meskipun Rena tahu bahwa seseorang itu sedang sakit, namun ini adalah permintaan konyol yang berhasil membuat konsentrasi dan fokus Rena terpecah.
Setelah matkul utama selesai, Rena pun berjalan ke arah kantin bersama sahabat-sahabat nya. Namun karena Rena terlalu tidak fokus, ia pun berjalan di paling belakang sendiri. Hal ini bisa dimanfaatkan orang untuk menarik Rena dan menjauh dari gerombolannya.
Benar saja, Allan segera menarik lengan tangan Rena menjauh dari teman-temannya. Lalu kemudian Allan membawa Rena menuju tangga emergency. Mereka bisa mengobrol di ruangan itu karena hanya ruang itu saja yang tidak banyak orang berlalu lalang. Setelah itu Allan segera membahas tentang perjanjian pernikahan yang ia buat. Allan serahkan berkas itu, awalnya dia tidak tahu apa yang di serahkan si om-om ini, lalu kemudian Rena mencoba untuk membacanya satu-persatu.
"Perjanjian pernikahan? Apa-apaan ini om?" Tanya Rena bingung.
"Bisa bacakan? Sebelum kita menikah, kita perlu buat perjanjian ini. Juga selama kita menikah, hanya akan ada formalitas biasa di depan Fara. Terlepas dari itu, entah kamu atau saya tidak ada hubungan apapun!" jelas Allan.
"Kata siapa gue mau nikah sama om? Nggak ada ya nikah-nikah kayak gitu. Bukannya lu juga nggak setuju kemarin? Jangan ganggu gue lagi," ucap Rena lalu segera berjalan pergi meninggalkan Allan.
Namun tentu saja, tangan Rena di tahan Allan lagi dan kemudian Allan memblokir jalan Rena untuk keluar tangga emergency ini. Rena pun tidak bisa berkutik lagi, saat ini dia hanya bisa menunggu Allan membuka suaranya lagi.
"Ini demi istri saya, saya juga tidak berniat untuk menikahi seorang anak kecil seperti kamu. Asal kamu bisa berakting dan baik pada anak dan istri saya, saya bisa memberi gaji untukmu tiap bulan. Sama seperti nafkah yang harus saya berikan," lanjut Allan.
"Tapi gue masih kuliah, mana bisa gitu. Belum ada pikiran untuk menikah di usia gue sekarang om!" Jawab Rena.
"Tenang saja, ini hanya orang internal yang tahu. Tidak ada pesta, tidak ada kerabat atau sahabat yang datang. Hanya ada saksi dan perwakilan wali saja," ucap Allan.
Rena tahu pasti bahwa istri Pak Allan sedang sakit parah. Semua itu terlihat dari banyaknya mesin yang ada di sekitar ruangan, meskipun hanya sebagai pajangan. Tapi Rena yakin, Jika ada hal emergency pasti alat-alat itu yang perlu di gunakan. Dengan keramahan Bu Fara dan juga perasaan yang tidak tega Rena, membuat Rena semakin pusing. Dia bingung harus memutuskan apa saat ini. Hingga tidak lama setelah itu, Allan mendapatkan telepon dari pihak rumah sakit bahwa istrinya kembali drop.
Allan pun segera berlari ke arah mobilnya, dia khawatir akan terjadi hal yang buruk sebelum dia melakukan apa yang diminta istrinya. Dengan Fathur yang meminta Rena untuk ikut dengan mereka. Setelah itu Fathur pun melajukan mobil dengan kecepatan diatas rata-rata. Dia hanya takut sang bos akan menyesal jika sang istri tiada saat dia tidak ada di rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, mereka pun segera memasuki ruangan VIP tempat Fara di rawat. Hal yang dipikirkan Rena benar terjadi. Alat-alat yang awalnya menjadi pajangan ruangan, satu persatu di sambungkan ke tubuh lemah Fara. Rena melihat raut cemas dan khawatir tergambar pada wajah tampan Allan. Dengan situasi yang seperti ini, Rena pun segera mendekati Allan dan menjawab apa yang diminta Allan darinya.
"Baik, gue akan lakukan apa kita bahas tadi om." jawab Rena.
Setelah mendengar ucapan Rena, Allan pun segera meminta Fathur untuk mencari beberapa orang yang bisa menikahkan mereka segera. Setelah alat-alat sudah di pasangkan, dokter pun mengobrol dengan Fathur bahwa mereka akan memantau perkembangan Fara 1×24 jam. Sambil menunggu Fara siuman, Allan pun mendekati Fara dan berbicara dengannya. Semua orang tengah berada di luar ruangan, begitupun juga dengan anak-anak dan Rena. Hanya ada Allan dan Fara yang berada di dalam ruangan VIP itu.
"Aku akan segera menikahi dia, kamu harus segera bangun. Agar kamu bisa menyaksikan proses itu.." ucap Allan dengan nada rendah namun jelas pada raga Fara.
Setelah Allan berbicara seperti itu dengan Fara, tidak lama kemudian alat medis pun aktif. Seperti ada sesuatu yang bereaksi. Lalu kemudian dokter-dokter pun segera masuk kedalam ruangan itu lagi.
'Kamu benar-benar menginginkan pernikahan ini terjadi. Padahal disini aku hanya ingin kamu menjadi satu-satunya istriku,' ucap Allan dalam hati.
Rena menyaksikan setiap proses yang terjadi di hadapannya. Dari alat-alat asing yang dipasangkan pada tubuh manusia. Dari dokter-dokter yang keluar masuk ruangan. Hingga dokter-dokter yang kembali ke dalam ruangan lagi.
Rena cukup penasaran, apa yang sudah dilakukan Allan. Sebelumnya, semua tampak baik-baik saja. Hingga kemudian dokter-dokter masuk dengan tergesa-gesa kedalam ruangan Fara.
Saat ini yang bisa dilakukan Rena hanyalah menemani anak-anak. Karena sudah memasuki waktu makan malam, Rena pun meminta sang baby sitter untuk membawa anak-anak makan di kantin rumah sakit. Awalnya Rena juga akan menemani anak-anak makan, namun gerakannya dihentikan Fathur sekertaris Allan. Fathur pun meminta pak Didit untuk membantu sus Rini.
Setelah kepergian anak-anak, Fathur pun mengajak Rena dan beberapa orang asing masuk kedalam ruangan VIP. Rena melihat bahwa Fara sudah siuman, meskipun alat-alat masih menancap pada tubuhnya. Tapi Fara bisa melihat Rena dan yang lainnya masuk kedalam ruangan.
Tidak lama setelah itu, Fathur meminta Rena untuk duduk didekat Allan. Tampaknya akan segera dilangsungkan pernikahan dia dengan Allan. Rena tidak ada persiapan sama sekali. Dia tidak menyangka bahwa prosesi pernikahan akan dilaksanakan sesegera ini. Dokter-dokter yang berada di dalam ruangan VIP adalah orang-orang yang cukup berpengalaman. Mereka juga diberitahukan untuk merahasiakan prosesi yang akan dilakukan ini. Hanya beberapa orang yang akan tahu bahwa Rena adalah istri kedua Allan. Sisanya hanya tahu bahwa Rena adalah salah satu kerabat keluarga Allan saja.
...***...