
Hari ini karena terlalu banyak pekerjaan yang perlu diurus, Allan pun pulang cukup terlambat. Sesampainya dia di rumah sakit, dia langsung melihat sepasang kekasih yang sedang bertengkar di taman rumah sakit. Namun karena Allan tidak perduli dia pun langsung bergegas berjalan ke arah kamar VIP istrinya. Allan pun melangkah mendekati Fara. Belum sampai Allan berbicara pada Fara, Fara sudah lebih dahulu berbicara padanya.
"Kok baru pulang? Ini sudah jam berapa?" Ucap Fara ketus dengan tangan menunjuk pada jam dinding.
"Iya tadi perlu meeting dan membahas beberapa perencanaan, kan bentar lagi ada yang akan launching," ucap Allan.
"Ya kan kamu CEO nya, bisa dong pulang lebih awal. Kasian Rena, nunggu kamu lama,"
"Orang aku nggak suruh dia buat nunggu kok," ucap Allan sambil melirik ke arah Rena.
"Orang aku yang suruh, udah jam berapa ini? Anak-anak di rumah cuman sama orang rumah aja, udah sana antar Rena pulang. Kasian anak-anak udah nunggu lama,"
"Rena, kamu ini kenapa main disini lama? Nggak tau udah jam berapa? Kasian anak-anak sendiri di rumah!" ucap Allan dengan penuh penekanan pada setiap kata.
"Kenapa jadi marahin Rena, yang harus di marahin sekarang itu kamu!" ucap Rena.
"Terus aja belain dia, heran deh sama kamu. Sejak ada dia, fokus kamu jadi beralih ke dia semua. Nggak pikirin gitu perasaan aku? Aku tuh pulang kerja capek, tapi pulang-pulang malah dimarahin!"
"Kalau capek yaudah, nggak usah bayarin rumah sakit ini aja. Biar kamu nggak terlalu boros,"
"Bukan gitu maksud pak Allan, kak. Kak Fara sabar ya, kalau gitu Rena pamit dulu," ucap Rena berusaha menghentikan pertengkaran kedua orang yang ada didepannya.
"Ayo saya anter," ucap Allan lalu berlalu keluar dari ruangan.
Rena pun mendekat ke arah Fara, lalu dia pun mencoba untuk menenangkan Fara agar tidak tambah emosi.
"Kak Fara jangan terlalu marahin Pak Allan. Rena lihat, Pak Allan sudah cukup kelelahan," ucap Rena.
"Syukurlah, perlahan kamu mulai perhatian dan perduli sama mas Allan. Kakak juga tau itu, Dia selalu seperti itu kalau ada yang mau launching. Sampai dia melupakan kesehatan tubuhnya sendiri, tugas kamu jaga dia baik-baik ya," tutur Fara.
"Itu tugas Rena dan kak Fara,"
"Yaudah sana, mas Allan pasti sudah menunggu di dalam mobil. Hati-hati ya, bilang ke mas Allan. Malam ini kakak mau di temani tidur sama sus Liana. Dia biar tidur di rumah aja," ucap Fara.
Rena pun pamit dan berjalan keluar dari ruangan. Tanpa sengaja dia bertemu dengan Gilang yang sedang berjalan sendirian. Sebenarnya Rena malas untuk bertemu dengan Gilang lagi, tetapi hal seperti ini tidak bisa dia hindari. Apalagi Gilang adalah dokter yang juga menangani Fara. Rena hanya melintasi Gilang tanpa basa-basi menyapa. Namun ternyata Gilang memanggil namanya,
"Rena, udah lama nggak ngobrol. Apa kabar?" tanya Gilang.
Namun Rena hanya menengok sebentar lalu kembali berjalan lagi. Selain dia masih belum menerima apa yang terjadi padanya dan Gilang, dia juga memikirkan Allan. Setelah Allan di marahi kak Fara, tentu saja jika dia menunggunya lebih lama lagi pasti akan membuat Allan semakin marah. Rena pun mempercepat langkah kakinya.
Di dalam mobil sunyi sekali. Karena Fathur sudah pulang kerja, saat ini yang menyetir mobil adalah Allan. Rena ingin mencoba untuk memecahkan kesunyian ini. Namun dia bingung harus memulai darimana. Lama sekali dia berpikir, lalu kemudian mencoba untuk memberanikan dirinya mengingatkan Allan.
"Pak Allan jangan terlalu dimasukkan hati ya perkataan kak Fara. Dia itu..."
"Jangan bicara lagi, atau saya turunkan kamu disini. Sumber masalah disini itu kamu, diem aja. Jangan berisik!" peringat Allan.
Rena pun tidak berani berbicara lagi pada Allan. Sesampainya di rumah, sebelum turun mobil Rena menyampaikan pesan Fara pada Allan.
"Sekarang bahkan hal seperti itu harus disampaikan ke kamu dulu baru ke saya? Awas ya kamu memanfaatkan kesempatan," ucap Allan. Lalu dia pun meminta pak Didit memarkirkan mobil.
Allan pun bergegas masuk rumah disusul dengan Rena. Setelah itu Rena pun bertemu dengan sus Rini,
"Anak-anak sudah tidur semua nona,"
"Iya suster Rini terimakasih ya, kalau gitu temani Ian seperti biasa ya." ucap Rena.
Setelah memastikan bahwa anak-anak sudah tidur semua, Rena pun bergegas untuk bersih-bersih dan kemudian berbaring di tempat tidur. Walaupun hari ini cukup banyak kegiatan yang dia lakukan, namun malam ini Rena seperti ingin meminum susu dahulu karena masih merasa lapar. Lalu Rena pun berjalan ke arah dapur.
Namun didapatinya dia melihat Allan yang sedang mencari sesuatu. Rena pun mendekat dan bertanya,
"Pak Allan sedang cari apa?"
"Sedang cari mie instan, kenapa?" tanya Allan dengan ekspresi datarnya.
"Pak Allan lapar?"
"Pertanyaan yang konyol, kalau saya cari makanan berarti ya saya lapar, mau bikin makan, gimana sih."
"Kalau gitu, boleh Rena buatkan mie instan nya? Rena tambah kan beberapa bahan tambahan juga," tawar Rena.
"Oke, kebetulan masih ada yang perlu saya kerjakan.. Saya tunggu di meja makan,"
Allan pun berjalan ke ruang kerjanya mengambil laptop dan beberapa file yang di perlu. Kini selagi Rena menyiapkan makanan, Allan tengah sibuk dengan beberapa berkas.
Rena baru menyadari sosok lain Allan hari ini. Benar kata kak Fara, Allan cukup sibuk dengan pekerjaannya. Dia perlu ada yang merawat dan memperhatikan.
Ditambah dengan kak Fara yang mendadak memarahi Allan. Rena juga tahu bahwa Allan tidak seharusnya di marahi kak Fara. Rena juga tidak tahu alasan kak Fara melakukan hal itu apa. Selain itu, dia juga kasian melihat Allan yang baru pulang kerja tapi harus dimarahi saat pulang.
Sebagai reward untuk Allan, Rena pun membuatkan Allan mie instan dengan berbagai bahan tambahan yang ada di kulkas. Meskipun Rena belum pernah makan bersama, tetapi Rena hanya berharap semoga Allan tidak cukup pilih-pilih. Rena pun menyajikan makanan di meja. Setelah di sajikan pak Allan pun segera memakan makanan yang Rena buat. Karena dia juga sudah cukup lapar, dia pun meminta izin untuk meminta makanan yang dia buat sedikit.
"Pak boleh minta sedikit? Gue juga belum makan," ucap Rena.
"Yaudah ambil aja," ucap Allan.
Kemudian mereka berdua pun makan bersama untuk yang pertama kalinya. Setelah menghabiskan makan, Rena pun membersihkan piring. Lalu kemudian sebelum pergi ke kamar, Rena pun berbicara pada Allan.
"Pak Allan jangan terlalu larut bekerja nya, nggak baik buat kesehatan. Juga niat kak Fara baik kok, dia mau pak Allan bisa istirahat lebih nyaman di rumah. Gue permisi ke kamar dulu,"
Setelah berkata seperti itu Rena pun berjalan ke kamarnya. Sedangkan Allan merapikan file dan laptopnya, lalu bergegas istirahat di kamarnya.
...***...