
Allan menyadari bahwa dirinya sudah cukup keterlaluan pada Rena. Bahkan dia tidak bisa mempercayai apa yang dikatakan Rena setelah mendengarkan kata rumah sakit. Hatinya lebih dulu terbakar api cemburu pada hal yang sebenarnya tidak perlu terlalu dia khawatirkan.
Mendengar Rena bahkan belum sempet makan malam agar bisa makan malam di rumah, Allan pun berinisiatif untuk membuat camilan malam untuk Rena. Sebenarnya dia sudah cukup lama tidak membuat ini. Dahulu saat masih baru menikah, dia sering sekali membuatkan Fara camilan malam. Namun seiring berjalannya waktu dia sudah lama tidak membuat ini, dia tidak tahu apakah nanti salad buah buatan masih terasa enak atau tidak.
Dia pun berjalan ke dapur dan mengambil beberapa macam buah dari kulkas. Dia mulai memotong buah satu persatu, di tengah proses itu Fathur menelpon dia. Dia pun mengangkat telfon Fathur dan mengalihkan sambungan ke mode video call.
Awalnya Fathur cukup terheran-heran melihat tuan CEO-nya berada di dapur, bahkan sambil memegang pisau tajam. Namun Fathur tidak berani untuk bertanya dia membuat itu untuk siapa, serta mengapa tidak minta tolong bi Endang atau Rena saja. Fathur pun melaporkan beberapa tugas dari Allan yang sudah dia kerjakan. Setelah pekerjaan kantor selesai, dia juga melaporkan tentang latar belakang Rena pada Fathur.
"Sedari kecil hingga puncaknya saat nona Rena masih menginjak kelas 4 SD, setiap hari dia selalu menyaksikan sang ayah dan ibu yang selalu bertengkar. Bahkan ayahnya sering pulang malam dalam keadaan mabuk-mabukan. Tidak jarang juga sang ibu dan nona Rena mendapatkan pukulan dari ayahnya. Setelah kelas 4 SD itulah orang tua nona bercerai. Satu tahun setelah itu ibunya menikah lagi, sedangkan nona tinggal dengan nenek dan kakeknya..."
"Lalu?"
"Saat dia mulai masuk SMP nenek dan kakeknya meninggal dunia, nona terpaksa harus tinggal bersama ibu dan ayah sambung juga adiknya. Hubungan nona dan ayah tidak terlalu dekat karena nona masih memiliki trauma pada sosok ayahnya. Nona selalu ikut dalam kegiatan sekolah agar dia bisa selalu berada di luar lebih lama. Hingga akhirnya nona masuk kuliah, nona memilih masuk universitas yang jauh dari rumah demi bisa merasa lebih bebas. Tentunya selain itu juga demi bisa satu universitas dengan dokter co *** Gilang.."
Saat Fathur membicarakan Gilang, Allan sedang memotong buah naga. Sedari Fathur melapor, Allan mendengarkan dia sambil sibuk dengan kegiatannya. Tanpa sadar tangan Allan teriris pisau, keluar darah cukup banyak lalu dia segera membilas tangannya di wastafel. Fathur yang melihat kejadian itu merasa khawatir dengan tuannya. Dia pun bertanya,
"Tuan Allan, apakah perlu saya antarkan tuan ke rumah sakit?"
"Jangan ulangi kalimat yang baru saja kamu katakan Fathur. Saya tidak apa-apa.." ucap Allan sambil membilas tangan nya lalu dia mengambil kotak obat.
"Apa perlu saya panggil kan bi Endang agar bisa membantu tuan membuat hidangan?" Fathur pun tidak berhenti untuk berusaha membantu sang tuan.
"Tidak perlu.. Lanjutkan laporan tadi," perintah Allan sambil dia menempelkan plester di tangan kirinya.
"Sudah selesai tuan, inti dari laporan saya. Hubungan nona dan keluarganya cukup rumit dan tidak baik. Apalagi dengan ayah kandungnya. Meskipun begitu dengan keluarga dari ibu dan ayah sambungnya juga sedikit kurang baik. Apa yang bisa saya lakukan untuk nona tuan?" tanya Fathur pada Allan karena tugas utamanya sudah selesai.
"Okey untuk sekarang informasi yang saya butuhkan cukup itu. Tunggu perintah saya selanjutnya saja."
"baik tuan,"
Kebetulan sekali saat Allan akan memanggil bi Endang, secara tidak sengaja bi Endang datang ke dapur. Allan pun memanggil bi Endang.
"Bi Endang, tolong kesini sebentar,"
"Iya tuan, ada yang perlu saya lakukan?"
"Antarkan salah buah buatan saya ini pada nona. Jangan beritahu dia bahwa salad buah ini yang membuat," perintah Allan.
"Baik tuan,"
Setelah memerintah bi Endang, Allan pun meminta Fathur untuk segera membuatkan dia jadwal kerja baru. Karena Allan berencana untuk segera kembali bekerja di kantor. Allan pun mematikan videocall nya dengan Fathur. Lalu dia segera bergegas untuk tidur di ruang kerjanya lagi.
......................
Bi Endang pun sudah sampai di depan kamar Rena. Dia berani mengetuk pintu kamar Rena karena melihat lampu kamarnya yang masih menyala. Rena yang baru saja selesai mandi pun membuka pintu. Dia terkejut karena tidak seperti biasanya bi Endang mengetuk pintu malam begini.
"Ada apa bi?" tanya Rena to the point tanpa berbasa-basi.
"Saya membawakan salad buah ini untuk nona. Di makan ya nona," ucap bi Endang.
"Wah, terimakasih bi. Kebetulan sekali saat belum makan, saya pasti akan habis kan. Seharusnya bibi tidak perlu repot-repot,"
"Sudah tugas saya nona, kalau begitu saya izin pergi ke kamar saya. Mangkoknya tidak perlu di cuci nona. Besok pagi akan saya cucikan," ucap bi Endang.
"Tidak perlu bi, saya cuci sendiri. Selamat istirahat ya bi, saya tutup pintu ya."
Mood Rena yang awalnya cukup berantakan pun mulai membaik. Dia cukup bersyukur setidaknya ada orang-orang yang masih baik padanya di rumah ini.
Keesokan paginya
Karena Rena masih cukup kesal pada Allan, dia pun bangun cukup pagi sekali. Dia menyiapkan makanan untuk orang rumah seperti biasanya, lalu juga menyempatkan membuatkan sarapan untuk semua sahabat dia yang terbaring di rumah sakit. Setelah membuat sarapan dia membantu sus Rini seperti biasanya untuk mengurusi anak-anak. Setelah itu saat Allan keluar dari ruang kerja, Rena pun langsung pamit pada anak-anak dan langsung keluar rumah tanpa pamit pada Allan.
Allan pun cukup kesal dengan sikap istrinya ini, dia pun menelpon Rena meminta dia untuk kembali ke dalam rumah dan pamit padanya dahulu.
"Kembali ke dalam rumah dan pamit dengan baik pada saya,"
"Saya sudah berada di dalam taxi tuan. Saya tidak ingin kita berdebat di pagi hari. Jika ada yang perlu di bicarakan, bicarakan saja di telpon ini." ucap Rena.
"Kamu mau kemana? Tidak mungkin pergi ke kampus sepagi ini."
"Saya mau ke rumah sakit untuk menjenguk sahabat saya. Apa saya juga tidak boleh menjenguk teman saya?" tanya Rena.
"Boleh, nanti segera pulang ke rumah. Saya sudah janji pada anak-anak bahwa kamu akan ikut makan malam hari ini,"
"Baik tuan, saya akan pulang tepat waktu."
...***...