Cold CEO & Cute Girl

Cold CEO & Cute Girl
Cinta Sahabat



Akhirnya Fathur hanya bisa memberikan waktu Allan untuk berpikir lebih banyak. Setelah dia rasa Allan tidak akan mengamuk lagi, Fathur pun pamit pada Allan untuk kembali ke kantor lagi.


Kini hanya tersisa Allan seorang yang berada di dalam ruangan hotel VIP. Allan tengah berada di dalam kamar, sambil menenggak minuman yang ada di tangannya. Dia menatap luar jendela dengan tatapan kosong. Dia masih bingung dengan apa yang terjadi, memang benar bahwa Rena berencana untuk menyerah dari pernikahan rumit ini. Namun detik selanjutnya setelah mereka berpelukan, Allan sudah berhasil tidur satu ranjang dengan Rena. Bahkan Allan tidur sambil memeluk dan menggenggam jemari Rena. Dia bingung kenapa saat terbangun Rena malah pergi begitu saja tanpa pamit.


Allan terus menenggak minuman keras yang ada di sampingnya, dia berharap ini hanyalah mimpi semata. Jika dia sudah sangat mabuk seperti kemarin, mungkin saja nanti dia akan kembali terbangun dari mimpi buruk ini. Dia cukup tahu rasanya ditinggalkan itu sesakit apa. Karena bukan hanya sekali dia di tinggal orang yang dia sayang.


Jika sebelumnya dia kurang memaksimalkan ungkapan cintanya pada Fara. Karena dia tidak mau ditinggalkan oleh Fara, sama seperti saat dia sangat mencintai kedua orangtuanya dulu. Namun kini dia menyesali apa yang telah dia lakukan pada Fara, tersisa kata andai saja yang muncul pertama kali di kepala. Seberapa sedikit atau banyaknya dia mencintai tetap saja mereka yang dia cintai akan perlahan pergi untuk selamanya.


Rasanya seperti ia ingin segera mengambil handphone lalu menelepon Rena untuk datang. Namun dia takut Rena mengalami hal buruk seperti yang sudah-sudah. Pikir Allan hanya dengan cara ini dia bisa membiarkan Rena tetap ada di dunia ini. Meskipun hasil akhirnya dia yang akan merasakan sakitnya. Dia sudah mulai mencintai Rena, namun dengan mudahnya dia melepaskan Rena untuk kembali pada Gilang.


......................


Kini Rena telah sampai di depan gerbang kampus. Gilang pun juga ikut turun dari mobil. Saat di jalan tadi Gilang berhenti sejenak untuk membeli bubur ayam. Rena kira Gilang hanya membeli bubur ayam itu untuk dirinya sendiri saja, namun ternyata Gilang juga membeli milik Rena. Setelah Gilang mengulurkan bubur ayam pada Rena, dari sisi seberang kampus ada sahabat Rena yang memanggil.


"Rena..." teriak Zanna.


Zanna, Abel, Rangga, Galieh dan Rama pun segera menghampiri Rena dan Gilang. Tatapan mereka tidak bisa berbohong, masih ada rasa benci yang tergambar. Mereka pun membelakangi Gilang dan kembali bertanya pada Rena.


"Lu di telfon kenapa nggak jawab? Kita khawatir dari pagi lu nggak ada kabar! Kita takut lu kenapa-kenapa tau. Eh ini malah habis jalan sama ni orang." ucap Zanna sambil melirik ke arah Gilang.


"Biasanya kan lu selalu ikut nimbrung di grup, kenapa hari ini nggak? Lu jangan ikut-ikutan Ajeng yang kalau udah bucin jadi lupa sahabat ya Ren!" tambah Abel dengan nada kecewa pada Rena.


"Wait... Wait... Wait... Sorry gue bener-bener belum buka handphone dari pagi. Gue nggak apa-apa, dan hubungan gue sama kak Gilang bukan lagi hubungan yang kalian bayangin," jelas Rena pada sahabatnya.


"Lu pikir gue percaya? Nggak Rena..! Gue tahu cerita lu dari awal gimana, lu harus inget kalau dia belum putus sama Ajeng. Yang ada nanti yang jadi penjahatnya berbalik ke lu!" peringat Zanna pada Rena.


"Please percaya sama gue... Gue nggak bohong ke kalian, Rangga lu percaya kan sama gue?" tanya Rena pada Rangga, karena saat ini hanya tatapan Rangga yang cukup tenang.


"Gue percaya sama lu, kalian jangan gitulah sama Rena. Yang harus lu pada peringati itu dia," ucap Rangga sambil melirik menunjuk Gilang.


"Wait, seburuk dan nggak boleh itu gue deket lagi sama Rena? Why? Gue jauh lebih kenal Rena duluan daripada kalian, nggak bisa gitu dong konsepnya." ucap Gilang angkat bicara.


Zanna pun melangkahkan maju mendekati Gilang, lalu dia mulai menjawab ucapan Gilang dengan tatapan tajam.


"Udah ayo guys masuk, kita ada kelas pagi hari ini." ajak Abel.


Mereka pun melangkah kaki meninggalkan Gilang sendiri di depan gerbang. Rena yang merasa tidak enak dengan Gilang pun masih sempat untuk melihat ke belakang, setelah Rena melihat hand sign Gilang yang berarti 'okey' pun menjadi tenang. Abel yang tahu Rena melihat ke belakang langsung berjalan di belakang Rena tepat. Agar tidak ada lagi kesempatan Rena dan Gilang untuk saling bertukar isyarat.


Sesampainya di kelas, ternyata dosen matkul pagi hari ini berhalangan hadir. Akhirnya di bentuk grup dan kemudian bebas mengerjakan tugas di manapun. Akhirnya mereka berenam pun kembali menjadi grup. Mereka pun kemudian memilih mengerjakan tugas di gazebo depan gedung jurusan mereka. Beruntung karena ada Galieh dan Rama suasana yang tegang bisa segera cair kembali.


"Untung kita sekelompok sama master Rena juga Rangga, tugas hari pasti aman, ya nggak?.." ucap Rama memulai pembicaraan yang tidak ternyata hanya di anggap angin lalu.


"Kalian tadi habis darimana?" tanya Rena pada sahabat-sahabatnya yang mulai mencoba untuk mencairkan suasana tegang.


"Cafe depan Ren, lain kali janganlah hp di taruh di tas mulu. Kita-kita kan jadi khawatir sama lu," ucap Rangga mencoba membantu Rama.


"Iya, okey. Gue usahain nggak akan ada hari kayak hari ini lagi," jawab Rena.


"Ntar malem kita jadi kan nginep di rumah Rangga kan? Terus bikin acara birthday party buat Zanna?" tanya Abel mulai ikut berbicara.


"Jadilah... Ren, lu harus ikut ya..." ucap Zanna sambil menatap Rena.


"Okey, gue ikut.. Tapi gue harus belanja kado dulu, kemarin-kemarin gue belum sempet. Ada request nggak Zan?" tanya Rena yang memang belum ada ide untuk membelikan kado apa pada Zanna.


"Udah terserah aja, kan cuman buat formalitas." ucap Zanna sambil tersenyum.


"Yaudah sama gue aja Ren, gue juga belum beli nih." ajak Rangga pada Rena.


"Okey, pulang kampus ya.." ucap Rena pada Rangga.


Setelah pembicaraan tentang kado selesai, mereka pun kembali fokus mengerjakan tugas kampus. Rena cukup bersyukur karena dititipkan sahabat-sahabat yang sangat baik dan menyayangi dia. Cinta mereka begitu tulus dan besar pada Rena. Hal ini pun dapat di konfirmasi Rena karena dia merasakan dengan jelas. Setidaknya meskipun kisah percintaannya selalu berakhir tragis, tetapi dia diberikan teman-teman yang selalu baik dan ada untuk Rena. Sekesal apapun mereka, jika memang benar-benar teman akan cepat untuk kembali baik lagi.


...***...