Cold CEO & Cute Girl

Cold CEO & Cute Girl
Penjelasan Rena



"Nggak usah Rang," ucap Rena lalu kemudian ada notifikasi pesan,


Pak Allan :


'Aku udah ada di depan..'


"Ini taxi online gue udah sampe depan, gue balik dulu ya.. Bye.." ucap Rena lalu langsung berjalan menuju ke depan.


Zanna dan yang lainnya tetap meminta Rangga untuk menyusul Rena.


"Udah susul, anterin sampe depan lah.." ucap Zanna.


"Iya bro, lu kan cowok. Biar dia ngerasa aman," tambah Rama.


"Biar dia ngerasa kalo lu itu care sama dia.." tambah Galieh.


"Udah buruan.." ucap Abel sambil mendorong Rangga.


Akhirnya Rangga pun mengikuti kata mereka dan menyusul Rena. Saat Rena sampai kasir untuk membayar pesanan teman-teman ada tangan yang menghentikan dia.


"Lu mau ngapain?" tanya Rangga pada Rena.


"Mau bayar lah, ya anggap aja sebagai traktiran gue buat kalian.." ucap Rena pada Rangga.


"Nggak, udah gue bayar juga kok di awal tadi. Uang lu, lu simpen aja udah." ucap Rangga sambil mengambil uang Rena yang ada di meja kasir, lalu memberikan uang itu pada Rena.


"Tapi kan.." ucap Rena tidak enak.


"Nggak ada tapi, yaudah yuk gue anter sampe depan. Gue pengen liat lu baik taxi online lu dulu.." ucap Rangga pada Rena.


Mendengar apa yang dikatakan Rangga membuat Rena sedikit terkejut. Dia takut jika Rangga bisa melihat dia masuk ke dalam mobil kak Allan.


"Udah ayo, gue temenin.. Bantuin gue, anak-anak pada liatin kita. Setidaknya bantu gue buat keluar cafe bentar.." ucap Rangga pada Rena, dia menggunakan nama mereka yang saat ini tengah memperhatikan Rangga dan Rena.


Rena pun melihat ke arah teman-temannya, benar saja mereka tengah menonton mereka berdua. Namun jika Rangga mengantarkan dia sampai ke depan, takutnya nanti dia bisa bertemu dengan kak Allan. Namun jika membiarkan Rangga kembali sebelum mengantar dia keluar, apa yang akan terjadi pada Rangga selanjutnya? Akhirnya Rena pun membuat kesepakatan pada Rangga.


"Lu anterin gue sampe depan, terus langsung balik ya. Nggak perlu nungguin gue sampe masuk taxi online, setuju?"


Rangga pun tidak ada pilihan lain selain mengiyakan permintaan Rena, setidaknya dia bisa mendekat pada Rena perlahan.


Mereka berdua pun keluar dari cafe, Rena mengedarkan pandangan dan dia tidak melihat mobil yang dikendarai Fathur. Dia pun merasa lega, lalu segera berbalik untuk meminta Rangga segera masuk kembali.


"Udah nganterin gue sampe luar, sekarang waktunya lu buat masuk ke dalem.." ucap Rena.


"Tapi, gue pengen liat lu masuk ke dalam taxi online dulu.." pinta Rangga pada Rena.


"Tadi janjinya gimana?" tanya Rena.


"(tertawa) Okey, gue kalah. Gue masuk dulu ya. Hati-hati di jalan.." ucap Rangga lalu segera masuk kedalam cafe.


Setelah kepergian Rangga, Rena pun langsung berjalan mendekat ke arah trotoar. Dia mengambil ponselnya lalu berinisiatif untuk menelpon kak Allan. Namun sebelum menelpon, dia sudah mendapat klakson mobil yang berada di depannya. Dia pun melihat ke dalam siapa seseorang yang mengendarai mobil, benar saja. Saat ini Allan sendirilah yang menjemput Rena dengan mobil sport berwarna hitam matte. Rena yang tidak menyangka hal ini pun hanya di buat tersenyum oleh Allan. Setelah itu pintu pun di buka otomatis dan kemudian Rena masuk ke dalam mobil tersebut.


Setelah itu mobil langsung di laju kan dengan kecepatan di atas rata-rata. Allan cukup kesal karena seharian ini Rena sudah melupakan dia. Bahkan baru saja dia diantar ke depan cafe oleh seorang laki-laki yang Allan yakin jika itu adalah teman satu kelas Rena. Dia menatap Rena sejenak lalu kemudian kembali melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


Tentu saja yang dilakukan Allan membuat Rena ketakutan. Selain karena ini adalah pertama kalinya dia naik mobil sport, Rena tahu pasti jika saat ini mood Allan sedang tidak baik. Rena pun meminta Allan untuk menghentikan mobil saat ini.


"Kak Allan, Berhenti sekarang atau Rena lompat?" ancam Rena pada Allan sambil berteriak.


Mendengar ancaman Rena pun Allan perlahan melambatkan kecepatan mobilnya dan setelah itu berhenti di pinggul jalan.


Emosi Rena pun meledak, dia cukup kesal dan emosi pada Allan. Dia tidak tahu apa yang terjadi tetapi langsung mendapatkan amarah dari Allan.


"Kak Allan kenapa sih? Rena nggak suka ya kalau kak Allan nyetir kencang-kencang kayak barusan! Bukan cuman membahayakan Rena aja, tapi juga nyawa kak Allan. Apalagi kak Allan baru keluar dari rumah sakit." ucap Rena sambil menatap Allan dengan emosi yang masih meledak-ledak.


"Kamu masih peduli sama keselamatan aku? Aku pikir kamu cuman perduli sama diri kamu sendiri.." ucap Allan pada Rena.


"Maksud kak Allan? Ya iyalah Rena peduli, peduli banget banget malah. Mana baru keluar rumah sakit kok udah mau nyetir mobil sendiri lagi. Kan ada Fathur atau pak Didit yang bisa nyetir!"


"Kamu sayang nggak sih sama aku? Kenapa rasanya dua hari ini yang punya rasa cinta itu cuman aku ya? Kenapa rasa perduli kamu cuman ada di jam ini aja? Kemarin sama tadi siang kamu kemana? Nggak perduliin aku kan.." keluh Allan pada Rena.


Rena pun baru tersadar, jika dua hari ini dia masih melupakan sosok laki-laki yang ada didepannya. Padahal dia sudah menikah, namun apa yang dia lakukan sama seperti sebelumnya dimana Allan mengurus dirinya sendiri begitupun Rena mengurus dirinya sendiri. Dia belum terbiasa akan hadirnya sosok lain. Hingga akhirnya membuat Allan terlupakan oleh Rena.


Setelah lama berpikir, saat Rena mencoba untuk menjelaskan pada kak Allan, dia melihat kak Allan menitihkan air matanya. Rena pun langsung mengambil tissue yang ada di tasnya dan dia usapkan pada wajah kak Allan. Dia pun mulai menjelaskan perlahan.


"Iya, salah kok kak. Maafin Rena ya kak Allan. Kebiasaan Rena kalau lagi sibuk sama tugas selalu lupa akan segalanya. Bahkan makan pun harus diingatkan. Untuk hari ini, sedikit ada hal yang buat mood Rena buruk. Jadi baru sempet buat balas chat kakak setelah makan, terus waktu kakak balas chat Rena. Udah ada temen Rena yang ngajak ngobrol, jadi nggak sempet buat bales. Terus waktu di cafe, aku sama temen-temen susah banget tadi cari tempat. Maklum kan banyak banget mahasiswa dari fakultas lain yang juga ada tugas. Setelah dapet ya langsung ngerjain sampe lupa waktu deh. Tapi kan setelah Rena angkat telpon kakak, Rena langsung beresin barang-barang terus keluar.." jelas Rena panjang lebar pada Allan. Berharap setelah ini kak Allan bisa mengerti situasi dia dan mau memaafkannya.


...***...