
Setelah 20 menit perjalanan dari sekolah anak-anak menuju rumah Rangga, akhirnya Rena bisa menemukan rumah yang dia cari. Rena pun meminta pak Didit untuk menurunkan dia di beberapa rumah setelah rumah Rangga. Setelah itu Rena meminta pak Didit untuk membawa beberapa pakaian yang sudah dia siapkan, juga bekal buah-buahan yang sudah dia kupas di antar ke rumah sakit.
"Makasih ya pak sudah mengantar saya, oh ya, ingat ya pak hati-hati saja di jalan. Setelah mengantarkan titipan saya ke rumah sakit, pak Didit langsung saja standby di depan sekolah anak-anak seperti biasa ya.."
"Baik nona, saya berangkat dulu ya nona.." pamit pak Didit pada Rena.
"Iya pak, hati-hati.." ucap Rena lalu berjalan menuju ke area luar rumah Rangga.
Rena berjalan perlahan ke arah rumah Rangga, lalu dia menekan bel rumah yang ada di gerbang. Tidak lama setelah itu ada yang keluar dari dalam rumah. Seseorang itu adalah Rangga, dia pun membukakan gerbang untuk Rena. Lalu kemudian menyapa dia dengan senyuman.
"Pagi Ren, udah sarapan belum? Kalau belum yuk ke depan dulu beli makan. Ada bubur ayam yang paling enak di kompleks ini," tawar Rangga.
"Nggak usah repot-repot gitu, gue udah sarapan kok. Langsung masuk aja gimana?"
"Okey, yaudah silahkan masuk princess. Yang lainnya ada di ruang tamu.." ucap Rangga sambil berpose selayaknya dia adalah pengawal yang mempersilahkan princess masuk. Setelah itu Rangga langsung mengunci gerbang lagi.
"Hei, apaan sih lu. Jangan panggil gitu lagi ya. Kalau ada yang denger terus malah buat salah faham, gue yang abis di masa fans lu.." protes Rena sambil sedikit mendorong pelan Rangga. Tentu saja dia tidak nyaman di perlakukan Rangga seperti itu. Dia takut membuat teman-teman lainnya salah faham dengan apa yang terjadi.
Respon Rangga setelah di dorong Rena hanyalah tersenyum gemash pada sosok yang berada di depannya ini.
'Salah tingkah lu gemes banget sih Ren..' batin Rangga sambil menatap Rena dengan tersenyum.
Lalu dia pun mengantar Rena untuk masuk, di dalam sudah ada Zanna dan yang lainnya yang tengah sibuk bermain handphone. Melihat kedatangan Rena, mereka langsung menghentikan aktivitas masing-masing dan menatap ke arah Rena. Penampilan mereka saat ini sama persis seperti seorang anak kecil yang sedang memohon meminta permen. Rena yang tidak tahu apa-apa pun langsung bertanya.
"Ada apa nih? Pasti ada sesuatu ya? Ngaku kalian? Udah diskusi apa? Gue yang baru dateng ini kan nggak tau apa-apa.." ucap Rena dengan banyak pertanyaan.
Sikap sahabat-sahabat Rena pun saling menatap, seperti mengisyaratkan untuk salah satunya bisa menjawab pertanyaan Rena. Seperti ada sesuatu yang hanya diketahui mereka dan belum di diskusikan dahulu dengan Rena. Apalagi Zanna dan Abel tahu jika Rena bisa saja menolak ide mereka. Karena yang lain hanya diam saja, Rangga pun mencoba untuk memulai pembicaraan.
"Ini Ren, tentang tugas bikin video..." ucap Rangga mengawali.
"Iya bikin video, terus?"
"Temen-temen mau gue sama lu yang jadi focuss modelnya. Ya kayak nge MC gitu lah.." lanjut Rangga memberitahu inti tugasnya dan Rena.
"Terus?"
"Bukannya gue merehkan atau gimana gitu ya. Cuman lebih baik buat video clip, ada focus nyanyi, di belakang ada yang focus dance, sisanya focus shoot dan editing aja. Lagian kalau yg ada di frame semua anggota, kasian yang shoot sama editing aja jadi nggak bisa fokus.. Saran aja sih gue mah."
"Gue setuju sih sama Rena.." tambah Rangga, yang kemudian membuat yang lainnya jadi gagal fokus.
"Hmm, lu mah apa yang di kata Rena selalu setuju Rang... Kemana aja lu tadi waktu kita lagi bahas sendiri sebelum ada Rena? Diem aja tuh," Rama pun kini ikut bersuara.
"Tapi bener sih kata Rena. Kan gue sama Rama perlu fokus shoot sama editing, jadi ya biar fokus di situ aja. Buat yang tampil di layar biar kalian aja.." jawab Galieh
Setelah diskusi tentang tema dari setiap video. Lalu juga lagu di setiap video. Serta dance dan konsep sosialisasi selesai, Rena pun menanyakan mereka akan mulai take video di mana. Namun seketika situasi berubah sunyi, semuanya diam dan tidak berani untuk memberitahu Rena.
"Kok diem aja sih? Why guys?" tanya Rena. Lalu kemudian Rena menatap Rangga, di yakin Rangga akan menjawab pertanyaan dia sama seperti pertanyaannya di awal tadi. Namun ternyata Rangga tidak mengeluarkan suara juga, akhirnya dia mengeluarkan jurus marahnya. Rena tidak tahu apa yang sedang disembunyikan mereka sampai mereka tidak berani memberitahu dia. Namun yang pasti akan lebih baik jika dia dan sahabatnya membahas lebih awal. Agar tidak ada miskomunikasi yang terjadi di akhir.
"Okey kalau main kalian gini, gue nggak akan ikut kelompok ini lagi ya? Kalau gitu gue balik duluan, lagian udah sore juga ini.. Bye guys," ucap Rena lalu segera berbalik menuju pintu ruang tamu.
'Gue penasaran hal sebesar apa yang buat kalian takut kasih tau gue..' batin Rena sambil tersenyum. Dia pun berjalan perlahan menuju ruang tamu.
Zanna juga baru mengingat jika semalam Rena sudah memberi dia kesempatan untuk meminta apapun pada Rena. Zanna pun mengejar Rena dan menghentikan langkah Rena.
"Wait, gue baru inget kalau lu ada janji kan ke gue semalem?"
"Iya, mau lu ambil sekarang kesempatan itu? Tapi jangan minta sesuatu yang terlalu mahal ya, gue nggak sanggup. Apalagi kalau disuruh beli tiket konser idol favorit lu," ucap Rena memohon pada Zanna, apalagi dia cukup memahami sifat dari sahabatnya ini bagaimana.
"Nggak kok, tapi janji dulu. Gue minta apapun itu lu harus jawab iya tanpa penolakan.." ucap Zanna sambil mengulurkan jari kelingkingnya pada Rena.
"Nggak aneh-aneh kan?" tanya Rena penasaran. Apalagi semua sahabatnya menunggu hasil diskusi Rena dan Zanna dengan serius.
"Iya nggak, janji dulu.. Mana jari kelingking lu," ucap Zanna sambil meraih tangan kanan Rena dan menautkan kelingking Rena pada tangannya.
"Gue udah janji, emang lu mau apa dari gue? Jangan yang aneh-aneh ya. Apalagi gue cuman absen nggak dateng di acaranya aja. Buat kado kan udah gue beliin.. Please pengertiannya ya Zan, sayang pake banget deh sama Zanna..." mohon Rena pada Zanna, apalagi dia masih cukup khawatir dengan apa yang akan diminta Zanna padanya.
...***...