Cold CEO & Cute Girl

Cold CEO & Cute Girl
Tempat Tinggal Baru



Rena berjalan dengan langkah lemah dari rumah sakit hingga sampai halte depan rumah sakit. Lalu ada mobil mewah yang berhenti di depan Rena, saat pintu kaca di buka. Ada wajah yang tidak asing menyapa Rena.


"Bu Rena, silahkan masuk. Akan saya antar kan Bu Rena untuk berkemas dan pindah ke rumah Tuan," ucap Fathur.


Ada banyak orang disekitar sana. Hampir semua orang kini melihat kearah Rena. Bagaimana tidak, mobil yang di pakai Fathur hari ini terlihat cukup mewah dan mencolok. Karena dia tidak ingin menjadi pusat perhatian, Rena pun mengiyakan ajakan Fathur. Dia pun membuka pintu mobil mewah itu, lalu mengarahkan Fathur untuk mengantarkan dia ke alamat kosnya.


Sesampainya di sekitar kos, dia meminta Fathur untuk memberhentikan Rena di dekat kos. Dia tidak ingin teman-temannya melihat dia keluar dari mobil mewah. Dia meminta Fathur untuk menunggu dia di tempat dia turun saja. Lalu Fathur pun hanya bisa mendengarkan perintah istri muda bosnya.


Sesampainya di kos, dia melihat Abel dan Zanna di teras kos. Rena adalah tipe orang yang jika sedang bersedih, dia tidak akan bisa menutupi kesedihannya dari orang terdekat. Setelah menatap kedua sahabatnya, dia pun mulai menangis lagi.


Banyak hal yang sudah terjadi di satu hari ini dan semua hal itu cukup membuat Rena lelah. Dari pernikahan tanpa persiapan yang Rena lakukan. Tentang ketidakberdayaan dia mengungkap perasaan yang tersembunyi. Juga tentang dia yang melihat dua orang yang cukup berarti untuk Rena menunjukkan sebuah kedekatan, kedekatan yang akan melukai hati Rena.


Kini dia menangis kencang hingga membuat Fathur yang melihat dari jauh khawatir. Meskipun dia menunggu didalam mobil, tetapi dia bisa melihat apa yang dilakukan Rena di teras bersama sahabatnya. Abel dan Zanna memeluk Rena untuk menenangkan dia. Lalu perlahan Rena mulai tenang dan kedua sahabatnya mulai bertanya.


"Lu kenapa? Habis nyatakan perasaan ke kak Gilang? terus di tolak?" Tanya Abel to the point, menurutnya hanya kemungkinan ini yang bisa membuat sahabatnya bisa bersedih.


"Bisa baca situasi nggak sih lu, bisa-bisanya tanya to the point kayak gitu." ucap Zanna memarahi Abel.


"Akan lebih baik kalau gue bisa lakuin itu dulu," ucap Rena lalu kembali menangis lagi.


"Yaudah, ungkapin aja. Entah jawabannya apa yang akan di jawab, setidaknya lu udah coba," ucap Abel.


"Gue takut nanti kita nggak bisa berteman lagi, di tambah gue rasa dia mulai suka sama cewek lain," ucap Rena.


Untuk sekarang Rena masih belum siap untuk memberitahu teman-temannya, tentang apa yang dia lihat dan sudah putuskan. Dia takut jika ternyata dia hanya terlalu banyak berpikir. Namun air matanya tumpah karena terlalu banyak hal yang tidak terduga terjadi hari ini. Rena pun langsung masuk ke dalam kamar. Detik selanjutnya dia menutup pintu kamar dan mulai berkemas. Rena tidak ingin membuat Fathur terlalu lama menunggu.


Abel dan Zanna pun cukup khawatir dengan kondisi Rena, lalu mereka menghampiri kamar Rena. Namun ternyata kamar Rena di kunci. Mereka pun cukup panik dan mencoba untuk meminta Rena membuka pintunya. Namun tidak ada respon dari Rena. Zanna dan Abel takut jika Rena akan nekat.


Tetapi sebenarnya Rena tengah sibuk melipat dan membereskan barang-barangnya. Dia tidak emang dengan Fathur yang cukup baik padanya. Dia harus bergegas sebelum semakin banyak waktu Fathur yang terbuang sia-sia. Setelah selesai membereskan barang-barang, dia pun keluar kamar. Abel dan Zanna terkejut karena Rena keluar kamar dengan membawa 1 kopernya dan memakai tas ransel.


"Lu mau kemana? Lu jangan aneh-aneh ya. Kita cuman sisa 3 semester lagi terus lulus" ucap Abel.


"Nggak usah gila cuman gara-gara putus cinta lah, ini kayak bukan gaya lu Ren," ucap Zanna.


"Tenang aja, bukan karena itu gue pindah. Tapi gue ada tempat kos baru, ya jadi gue putusin mulai pindah hari ini," jawab Rena.


"Bohong banget, lu sendiri yang bilang kalau kita akan kos disini sampai kita lulus. Terus apa sekarang?" protes Zanna.


"Ceritanya panjang, please ngertiin gue. Gue akan sering ke kosan ini, kita juga masih bisa ketemu di kampus," ucap Rena.


"Nggak Abel, ini udah final. Kalian percaya gue kan?" tanya Rena.


"Kalau lu udah ambil keputusan, apa boleh buat. Lu sendiri yang janji akan sering main kesini, janji ya?" tanya Zanna.


"Iya, janji.." jawab Rena.


Abel dan Zanna pun mengantar Rena sampai di depan Kos.


"Nggak mau nunggu Ajeng pulang dari rumah sakit Ren?" tawar Abel yang sebenarnya masih belum rela merelakan satu sahabatnya pergi.


"Besok-besok kan pasti juga ketemu, gue buru-buru jadi nggak bisa tunggu dia balik. Kalian harus sering-sering masak makan sendiri ya kalau gue nggak ada." ucap Rena.


Lalu kemudian dia pun berjalan ke arah depan kompleks. Rena tidak berani naik ke mobil yang dikendarai Fathur dahulu, karena Abel dan Zanna masih melihatnya. Lalu setelah Abel dan Zanna masuk kosan, mobil yang dikendarai Fathur pun mendekati Rena. Rena melihat ke belakang dahulu, memastikan jika Zanna dan Abel sudah masuk kosan lagi. Lalu kemudian dia pun naik ke dalam mobil yang dikendarai Fathur.


"Bu Rena sudah baik-baik saja?" Tanya Fathur.


"Usia lu sama gue itu pasti lebih tua lu kan? Jangan panggil gue Bu, berasa tua banget gue. Gimana kalau panggil nama?" tanya Rena pada Fathur mengalikan pembicaraan.


"Tentu saja saya tidak berani memanggil dengan nama saja Bu Rena." jawab Fathur, dia tahu pasti bahwa Rena tidak ingin dia mulai membahas lebih dalam lagi.


"Yasudah gimana kalau panggil nona? Biar anak-anak juga nggak akan bingung nanti waktu di rumah. Terus kalau gue panggil lu kak gimana?" tanya Rena.


"Saya sangat tidak berani jika dipanggil itu nona, panggil nama saya saja tidak apa nona" ucap Fathur.


"Okey, karena lu udah bilang gitu. Gue akan panggil nama ya, soalnya kalau panggil pak pasti akan ada kesenjangan nantinya."


Setelah membahas panggilan, Fathur pun menjelaskan setiap detail tentang keluarga Pratama. Rena baru tahu bahwa orang yang menikahi nya adalah Allan Kusuma Pratama yang cukup terkenal. Ternyata Allan sudah memiliki beberapa bisnis dan juga beberapa perusahaan yang membuatnya kini menjadi CEO. Perusahaan Allan cukup besar, juga termasuk salah yang berkontribusi membantu perekonomian negara.


Rena akan tinggal di rumah Allan yang cukup mewah di dalam perumahan elit, tinggal bersama dengan anak-anak dan Allan tentunya. Hal yang biasa dilakukan Fara pun satu persatu Fathur jelaskan pada Rena. Dari yang setiap pagi selalu membuatkan sarapan anak-anak sarapan. Membantu menemani anak-anak bermain saat ada waktu luang. Menemani anak-anak membaca cerita sebelum tidur mereka. dan menyiapkan keperluan kekantor Allan.


Fathur juga menyerahkan catatan yang Fara buat khusus untuk Rena, Fara sengaja menyiapkan ini jauh sebelum dia terbaring cukup lemah di rumah sakit. Selain itu sejak pertama bertemu dengan Rena dia sudah mulai menyiapkan persiapan. Fara juga yang meminta Fathur untuk mengubah ruangan kerja Fara menjadi kamar utama kedua.


Setelah membantu Rena meletakkan koper di dalam kamar Rena, Fathur pun pamit untuk pergi ke kantor. Rena juga tidak lupa diminta Fathur untuk menyerahkan beberapa surat yang akan di urus Fathur besok. Setelah semua hal itu, Rena pun sibuk mengatur ulang barang-barangnya dan kemudian mulai menyesuaikan apa yang harus dia lakukan di rumah besar itu.


Setelah itu ada seseorang yang mengetuk pintu kamar Rena. Rena pun membukakan pintu kamarnya. Ternyata yang mengetuk pintu adalah seseorang yang sudah bekerja di rumah besar itu cukup lama.


...***...