
Lalu Rena segera pergi dari taman itu. Dia tidak perduli lagi dengan matkul yang dia tinggalkan hari ini. Apalagi dengan suasana hatinya yang sudah benar-benar hancur. Tidak ada tenaga tambahan untuk menerima pengajaran dari dosen.
......................
Setelah Rena pergi. Tersisa 4 orang yang berada di taman. Sebelum pergi menyusul Rena, Zanna dan Abel pun juga mengatakan hal terakhir untuk sahabat yang akan jadi mantan sahabatnya.
"Kita berdua juga udah nggak mau jadi sahabat lu!" ucap Zanna lalu segera pergi menyusul Rena.
"Ternyata seorang yang akan jadi dokter pun kalau tentang cinta, jauh lebih tolol dibanding gue. Lu akan nyesel nanti," ucap Abel memperingati Gilang.
Lalu kemudian Abel dan Zanna pun berlari mencari Rena. Mereka menyusuri jalanan dekat kampus tetapi tidak berhasil menemukan Rena. Mereka juga berusaha menelpon Rena namun tak ada jawaban satupun. Mereka khawatir pada Rena, untung saja ada teman satu jurusan mereka yang ikut membantu mencari Rena.
...----------------...
Karena kompleks rumah Allan tidak terlalu jauh dari kampus, Rena pun memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki. Dia sangat sedih, di sepanjang jalan dia hanya bisa menangis. Dia sudah tidak perduli lagi dengan pandangan orang tentang dia yang menangis di jalan.
Kenangan indah bersama Gilang satu persatu muncul kembali. Dari awal pertemuan mereka. Lalu di setiap hari belajar bersama di perpustakaan sekolah. Bermain dan mengisi waktu liburan bersama. Banyak hal indah yang telah mereka lakukan. Sikap Gilang hanya Rena yang paham, belum tentu orang lain bahkan Ajeng paham tentang Gilang.
Sikap Rena yang selalu toleransi pada Gilang sudah salah sejak awal. Rena yang selalu mengiyakan ide konyol Gilang. Rena juga yang selalu mentolerir kesalahan kecil yang Gilang lakukan. Bahkan terkadang, demi Gilang dia bisa mengorbankan dirinya yang di hukum guru, padahal kenyataannya yang salah itu adalah Gilang. Rena juga pernah mengorbankan tiket konser idol kesukaannya demi Gilang, karena disaat itu Gilang sedang berduka ditinggal neneknya.
Tanpa sadar langkah nya sudah sampai di depan gerbang rumah utama Allan. Lalu kemudian pak Faisal pun membukakan gerbang untuk Rena. Rena pun langsung masuk rumah tanpa menyapa pak Faisal. Pak Faisal juga menyadari bahwa ada yang berbeda dari nyonya mudanya. Kemudian pak Faisal langsung menghubungi pak Didit yang sedang dalam perjalanan untuk menjemput nyonya muda.
Sesampainya di rumah pak Didit langsung bertanya pada pak Faisal tentang keadaan nyonya muda.
"Beneran nyonya muda sudah pulang? Kenapa nyonya muda tidak telpon saya?" tanya pak Didit.
"Yang jelas, nyonya sampai rumah dengan muka sembab seperti habis menangis. Kemungkinan, sekarang nyonya juga masih menangis lagi," ucap pak Faisal.
"Sudah hubungi tuan Allan?" tanya pak Didit.
"Mana berani saya hubungi tuan. Minta bi Endang saja hubungi tuan, maka dari itu saya menunggu pak Didit pulang." ucap pak Faisal.
Karena pak Didit pun juga tidak berani, akhirnya dia mengikuti saran pak Faisal dengan meminta bantuan bi Endang. Sesampainya pak Didit di dapur, dia pun segera mendekati bi Endang yang sedang sibuk menyiapkan bahan masakan.
"Bi, tau nyonya sudah pulang?"
"Tau, tapi sedari tadi tidak keluar kamar lagi nyonya. Saya mana berani mendekati kamar nyonya muda jika tidak diperlukan," ucap bi Endang.
"Kata pak Faisal, Nyonya muda sedang bersedih bi. Bibi bisa bantu hubungi tuan Allan?" pinta pak Didit.
"Pantas saja tidak kelihatan sedari pulang kampus. Oke saya coba hubungi tuan saja,"
Langit perlahan berubah menjadi gelap, namun nyonya muda nya belum juga keluar dari kamar. Bahkan anak-anak sudah mulai menanyakan keberadaan Rena dan orangtuanya. Baby sitter dan pekerja di rumah pun bingung harus bagaimana. Sedangkan setelah makan anak-anak terus merengek mencari mereka. Lalu kemudian bi Endang pun terpaksa untuk menghubungi nyonya Fara. Ini adalah jalan satu-satunya mereka agar tuan Allan bisa segera pulang.
Setelah handphone di angkat, bi Endang menjelaskan apa yang terjadi di rumah. Lalu kemudian nyonya nya meminta mereka untuk menunggu tuan besarnya datang.
......................
Fara yang mendengar apa yang di katakan bi Endang pun merasa cukup marah. Marah dengan seseorang yang sekarang sedang berada di depan dia duduk dengan tenang. Allan tengah melihat laptopnya untuk mengurusi urusan kantor. Namun kemudian dia mendapatkan lemparan bantal dari Fara. Sontak diapun terkejut dan heran dengan sikap istri kesayangannya.
"Kamu ini kenapa? Kok lempar-lempar bantal." ucap Allan sambil mendekat ke arah Fara. Dia pun meletakkan kembali bantal ke tempat semula.
"Bi Endang udah telfon kamu, dia udah bilang kalau Rena sedang bersedih. Tapi kamu sama sekali nggak khawatir sama dia?" tanya Fara.
"Itu cuman masalah sepele anak seusia dia. Nanti juga baik sendiri dia, kan lebih baik aku ada disini buat kamu," ucap Allan.
Allan tahu betul apa yang terjadi dengan Rena. Dia hanya sekedar patah hati dari seseorang yang sudah dia sukai sejak lama. Masalah patah hati itu adalah masalah kecil buat Allan. Tentu saja dia lebih memilih untuk mengutamakan Fara di banding Rena.
"Dia itu juga istri kamu, care lah sama dia. Kamu harus adil dong," bentak Fara.
"Kok kamu jadi marahin aku gara-gara dia? Kalau kamu tahu masalah dia apa, pasti kamu nyesel udah marahin aku kayak gini," ucap Allan.
"Kamu ini kepala keluarga, jangan cuman condong ke satu arah aja. Harus adil, aku dapat apa yang aku harus dapat. Dia juga sama," ucap Fara.
"Kok kamu ngomongin adil nggak adil sih? Kamu nggak sadar, yang minta aku buat nikah lagi itu kamu. Aku nggak minta ya, aku nggak cinta sama dia, aku juga nggak peduli dia mau sedih atau kayak gimana juga," ucap Allan.
Dia cukup kesal karena Fara lebih memikirkan Rena dibandingkan dia.
"Aku nggak nyangka ternyata kamu sekarang udah berubah. Sejak kapan kamu jadi nggak perduli sama orang? Apalagi mau nggak mau dia juga sudah termasuk orang terdekat kamu sekarang," ucap Fara.
Allan pun hanya terdiam, dia juga sudah cukup perduli. Bahkan tadi siang dia sudah mencoba untuk menenangkan Rena dengan caranya.
"Aku nggak mau tau, kamu harus pulang. Tenang in Rena dan anak-anak. Anak-anak udah nyariin kita. Sedangkan Rena lagi nggak bisa buat main sama mereka," ucap Fara lalu segera bergegas tidur.
Allan tahu kalau Fara juga cukup tegas dan keras sama seperti dia. Jika dia berkata itu, maka harus dilakukan. Meski dengan keadaan kesal pada Rena. Karena secara tidak langsung, dia sudah membuat hubungan Allan dan Fara merenggang. Allan pun segera pulang ke rumah dengan keadaan kesal.
Sesampainya di rumah, dia segera menemui anak-anaknya. Setelah membuat anak-anak jadi lebih tenang, dia pun menidurkan mereka. Lalu dia keluar dari kamar anak-anak dan berniat untuk segera kembali ke rumah sakit. Beberapa detik setelah keluar kamar anak-anak, dia melihat kamar Rena. Namun setelah itu dia berjalan melewati kamar Rena begitu saja. Dia masih cukup kesal pada Rena, lantaran karena dia Fara jadi cukup sangat marah padanya.
...***...