
Kemudian Rena pun segera menuju parkiran dan kemudian bergegas berangkat ke kampus. Di belakang mobil pak Didit ada mobil yang mengawasi.
Pak Didit tahu betul, mobil yang berada di belakang mereka saat ini adalah mobil bos besarnya. Hal yang di lakukan Allan ini cukup bertolak belakang dengan biasanya. Hingga membuat Pak Didit menyadari, bahwa tuan besarnya sudah mulai menyukai nyonya mudanya. Tidak banyak yang di pikirkan Pak Didit, dia hanya perlu menjalankan tugasnya dengan baik.
Sesampainya di depan kampus, Rena segera turun dan berjalan masuk. Pak Didit pun kembali ke rumah utama untuk berjaga di sana. Sedangkan Allan mengikuti langkah Rena hingga sampai di pintu masuk kampus.
Allan merasa sedikit khawatir karena dia melihat raut wajah Rena yang belum baik. Setelah Allan melihat Rena bertemu dengan teman-temannya, dia pun meminta Fathur untuk menjalankan mobilnya menuju kantor. Dia pun lega dan bisa fokus lagi pada aktivitas dia seharusnya.
......................
Rena bertemu dengan teman-temannya di depan kampus. Awalnya Rena tidak menyadari akan kehadiran sahabatnya. Berkat Zanna yang cukup ekstrover, dia pun segera mendekati Rena dan mengajaknya berbicara.
"Ren, tumben lu nggak liat ada kita? Why?" tanya Zanna.
"Ada apa Ren? Cerita aja sama kita.." ucap Abel sedikit khawatir.
"Kita cerita setelah matkul kedua selesai aja gimana?" tanya Rena.
Zanna dan Abel pun sudah cukup tahu bahwa saat Rena akan berbicara hal yang cukup serius. Semua ini terlihat dari raut wajahnya yang cukup tidak baik-baik saja. Maka setelah dia bertanya, mereka pun langsung menganggukkan kepala. Mereka masuk ke dalam kelas dan mendengarkan dosen menjelaskan. Meski apa yang dikatakan dosen saat ini tidak bisa Rena cerna dengan baik. Tapi setidaknya dia sudah cukup menghargai dosen di depan, dengan ikut Hadir dalam kelas.
Senyum dan tawa yang Rena gambarkan di kelas juga cukup hambar. Abel dan Zanna sudah memperhatikan tingkah aneh Rena seharian ini. Setelah Rena pindah kosan, ada banyak hal aneh setiap hari yang terjadi pada Rena. Hal-hal yang membuat Rena banyak pikiran, tidak fokus dan raut wajah yang penuh tekanan. Sebagai sahabat tentu saja, mereka ingin sahabatnya baik-baik saja.
Setelah matkul kedua selesai, mereka pun berjalan ke taman tempat biasa berkumpul. Ternyata disana sudah ada Ajeng yang duduk di taman. Lengkap sudah sahabat Rena, sisanya hanya Rena yang bisa menjelaskan.
Saat sampai, Ajeng pun menawarkan coklat yang dia bawa pada ketiga sahabatnya. Rena cukup familiar dengan coklat yang dibawa Ajeng. Semua coklat itu adalah varian coklat favorit dia. Sampai, Zanna berinisiatif mengambilkan satu coklat untuk Rena. Niat Zanna ingin membuat Rena tersenyum, tetapi dia malah membuat Rena semakin ingin bertanya.
"Nih Ren, bukannya lu suka banget ya sama coklat merek ini? Cobain.. Cobain..." ucap Zanna lalu dia membukakan coklat yang dia ambil dan di sodorkan pada Rena. Namun di tolak Rena dengan gelengan kepala.
Rena pun mencoba untuk bertanya, namun ternyata pertanyaan dia sudah di wakili Abel. Dia pun mengurungkan niatnya.
"Lu dapet dari mana semua coklat ini Jeng? Ngaku lu.." tanya Abel.
Tentu saja jawaban Ajeng adalah jawaban yang dinantikan Rena. Meskipun dalam hati dia berharap Ajeng lah yang membeli semua coklat ini sendiri.
"Gue dapet dari pacar gue," ucap Ajeng sambil tersenyum bahagia. Karena ini kali pertama dia menyatakan bahwa dia sudah memiliki pacar, padahal jika sebelumnya dia cukup tertutup dengan hal ini.
Hati Rena seperti tersayat belati. Belati itu sudah menancap, lalu saat belati coba di tarik, keluar darah yang cukup banyak. Darah itu terus mengalir cukup deras. Saat ada dokter yang akan mengobati sayatan, Rena lebih memilih untuk tidak di sembuhkan. Karena dokter itulah penyebab belati bisa tertusuk.
"Wah parah sih, udah ada pacar nggak kasih tau," ucap Zanna.
"Iya nih, harus traktir kita makan pokok nya. Dan untuk awal, kita rampok beberapa coklat yang di kasih pacarnya dulu," ucap Abel.
Selagi Abel dan Zanna berebut beberapa coklat, Rena masih mematung mencerna semuanya. Lalu dia mengecek beberapa coklat yang ada di depan dia. Dia hanya ingin memastikan sekali lagi. Jika itu coklat yang dia beli, maka akan ada tulisan tangan Rena terukir di bungkusnya.
Tulisan itu bertuliskan,
Dan benar saja, di semua coklat yang ada didepannya saat ini. Semua ada tulisan itu, bukankah ini cukup kebetulan? Orang bodoh mana lagi yang menulis seperti itu di bungkus coklat, selain Rena? Ketika Ajeng ingin menyuapi Rena coklat, spontan Rena menepis tangan Ajeng. Coklat yang di bawa Ajeng pun terjatuh ke tanah dan sudah tidak bisa di tolong lagi.
Meskipun coklat adalah obat termanjur saat Rena sedih, namun coklat ini sudah tidak mempan lagi untuk Rena. Jikapun Rena memakannya, akan ada rasa pahit yang dominan terasa. Rena bahkan sudah tidak ingin mengobrol dengan Ajeng. Cukup sakit hati Rena dengan apa yang sudah Ajeng lakukan padanya. Lalu kemudian Ajeng pun berkata,
"Ren, kok lu keterlaluan sih. Ya gue tau lu belum punya pacar, tapi ya jangan kek gini lah ke gue. Itu makanan loh.. Kok di buang, kan sayang!" ucap Ajeng memojokkan Rena.
"Udah-udah orang cuman satukan. Toleran lah sama Rena, dia lagi bad mood," ucap Zanna menengahi.
"Dia bisa bad mood sesuka hati dia dan masih lu belain loh. Gimana kalau misalkan gue yang bad mood, pasti sikap lu beda kan!" ucap Ajeng pada Zanna.
"Udah Ajeng, kita tau lu udah punya pacar. Tapi kita ini sahabat lu loh, janganlah cuman karena hal sepele jadi lu besar-besarin." ucap Abel ikut menengahi.
Semakin banyak mahasiswa yang berkumpul di tempat itu. Mereka menyaksikan sebuah tontonan yang menarik, tentang persahabatan yang mulai retak karena hal sepele.
Dari arah berlawanan, pacar Ajeng mulai mendekat. Hari ini adalah hari spesial untuk Ajeng. Karena dia mendapatkan coklat dari pacarnya. Sekaligus dia ingin mengenalkan sahabat dan pacarnya, meskipun sebenarnya mereka sudah saling kenal. Entah apa yang ada dipikiran Ajeng sampai bisa melakukan hal ini.
"Disini, yang keterlaluan itu lu Ajeng... Gue udah berusaha buat diem ya... Gue berusaha buat nggak kasih tau Zanna dan Abel tentang apa yang lu lakuin.... Tapi lu udah keterlaluan, satu hal yang mau gue bilang sama lu..." ucap Rena dengan menahan tangis.
"Ada apa ini?" tanya Gilang yang baru saja datang.
"Mereka mojok in aku cuman karena aku kasih mereka coklat dan bilang kalau udah punya pacar. Kamu sebagai pacar belain aku dong, apalagi Rena udah buang coklat yang kamu beli buat aku.." ucap Ajeng merengek untuk di bela Gilang.
Zanna dan Abel pun terkejut dengan apa yang mereka lihat. Karena setiap hari, yang selalu menceritakan tentang Gilang adalah Rena. Yang sangat menyukai Gilang adalah Rena. Yang sudah lama menyukai Gilang dari 7 tahun yang lalu adalah Rena. Tapi kenapa Ajeng yang jadi pacar Gilang?
"Rena, gue nggak tau kalau ternyata lu itu orangnya kayak gini. Tadi waktu ketemu semuanya masih baik-baik aja, terus kenapa jadi gini?" tanya Gilang.
Fakta baru yang di ketahui Zanna dan Abel. Sumber bad mood Rena tadi pagi adalah Gilang. Kemungkinan besar Rena tidak ingin makan coklat juga karena Gilang.
"Terserah kak... Kita udah cukup lama loh kenal.. Gue yakin 100% kalau kita udah saling kenal lama. Lebih lama dari dia," ucap Rena sambil menunjuk Ajeng.
"Tapi yang jadi pacar kak Gilang itu gue, bukan lu!" jawab Ajeng.
"Diem lu," ucap Zanna pada Ajeng.
"Ngapain lu pada lihat ini. Pergi nggak lu semua, bukan tontonan ya ini," ucap Abel mengusir semua orang pergi.
"Lanjut Ren, luapkan semuanya.. Kita ada di pihak lu." ucap Zanna.
"Lihat, bahkan Rena ambil dua sahabat aku sedari SMA.." ucap Ajeng pada Gilang.
"Kita sama kok, Lu ambil kak Gilang dari gue. Dan gue ambil Zanna dan Abel dari lu. Impas. Lagian coklat itu gue yang beli, terserah mau gue jatuhin atau buang. Zanna sama Abel masih mau sahabatan sama lu atau nggak. Yang jelas mulai hari ini, gue nggak mau lagi jadi sahabat lu," ucap Rena pada Ajeng.
Lalu Rena segera pergi dari taman itu. Dia tidak perduli lagi dengan sisa matkul yang dia tinggalkan hari ini. Suasana hatinya sudah benar-benar kacau. Tidak ada tenaga tambahan untuk menerima pengajaran dari dosen lagi.