
"Kan gue udah pernah ngaku sama lu kak, kalau gue dulu pernah suka sama lu.." jawab Rena dengan santai.
"Ya gue tau, tapi gue nggak tau kalau lu bisa se effort itu.."
"Udah nggak usah dipikirin, lagian itu juga udah berlalu kak. Lagian, misal faktanya gitu lu mau jadian sama gue sekarang?" tanya Rena dengan senyum terukir di bibir dan matanya.
"Boleh, emang beneran masih berlaku?" ucap Gilang menjawab Rena dengan sedikit menggoda.
"Anjir banget sih lu kak. Nggak lah, orang gue udah punya suami juga.. Hahahaha,"
"Nah kan, yah gue tolol dong. Kenapa gue nggak sadar kalau sebenernya lu itu suka sama gue ya.."
"Bukan gue loh yang bilang itu, tapi bukannya iya ya? Temen-temen gue kan juga udah ngatain lu tolol.. Hahahaha.."
"Hei, gue ini calon dokter loh. Berani sama gue?"
"Berani lah, tega lu sama gue?"
"Udah-udah terus aja sampe besok kita saling usil kayak gini.." ucap Gilang menyudahi.
"Okey udah. Tapi kak, kok suster yang ada di depan resepsionis pada liat gue pake tatapan benci gitu. Kenapa dah?" tanya Rena heran.
"Ya mereka iri mungkin sama lu, kapan lagi bisa digandeng co *** dokter seganteng gue?" jawab Gilang dengan santai.
"Padahal gue lagi serius loh. Eh malah lu yang ngajak becanda.."
"Mungkin mereka cukup dekat sama Ajeng, plus kita nggak tau Ajeng udah ngomong apa aja tentang kita. Lagian nggak usah terlalu dipikirin gitu lah..."
"Hmm okey.."
"By the way, lu belum ceritain gimana lu bisa luluh lagi sama pak Allan?" tanya Gilang dengan ekspresi penasaran.
Rena yang belum ingin membahas hal ini pun mencoba untuk mencari alasan demi mengalihkan pembicaraan. Dia pun menatap jam dinding, ternyata sudah pukul 00.30. Akhirnya dia tahu apa yang harus dia katakan pada Allan.
"Loh kok udah jam segini sih kak. Udah lewat dari jam tidur gue. Gue harus balik sih sekarang.. Gue ceritain besok-besok aja kalau ada waktu ya.. Bye.." ucap Rena lalu segera bergegas meninggalkan ruangan Gilang.
Gilang yang di tinggalkan Rena pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. penampilan dia sudah seperti kakak yang sedang mengkhawatirkan adiknya. Dia pun menatap laptopnya dan mulai bekerja lagi.
Sedangkan Rena sudah cukup lelah setelah berjalan cepat dari ruangan Gilang ke kamar Allan. Saat Rena menatap ranjang rumah sakit ternyata sudah ada seseorang yang memperhatikan dia. Sedari dia membuka pintu hingga kini tengah sibuk mengatur nafas.
"Kamu habis dari mana? Kok keliatan capek gitu?" tanya Allan pada Rena.
"Hmm itu kak, tadi habis beli air mineral terus ketemu kak Gilang dijalan. Jadi kita ngobrol sebentar.." jawab Rena jujur pada Allan.
"Kamu ketemu dia? Entah karena alasan apapun itu, aku nggak mau ya kamu ketemu sama dia! Lagian kenapa sampe kecapean gitu deh, kalian habis ngapain?" ucap Allan dengan nada tinggi. Hal ini reflek terucap dari bibirnya setelah mendengar nama Gilang disebut.
Rena pun hanya mematung saat mendengar Allan kembali berbicara dengan nada tinggi. Apalagi Rena merasa jika Allan lagi-lagi mulai meragukan dirinya. Meskipun Rena tahu ada banyak hal yang bisa menyebabkan kelelahan selain karena berolahraga. Namun Rena tidak ingin pemikiran buruk ini keluar dari bibir Allan.
Beberapa detik setelah itu Allan menyadari jika dia sudah cukup keterlaluan pada Rena. Dia mulai mengatur nafasnya dan mencoba untuk berbicara baik pada Rena.
"Maaf, bukan itu maksud aku. Aku cuman khawatir karena kamu tiba-tiba nggak ada di samping aku. Apalagi ini udah jam segini, nggak baik buat perempuan ada di luar sana." ucap Allan berharap Rena bisa mengerti maksudnya.
"Kak Allan mau kemana?" tanya Rena dengan nada lembutnya.
"Mau samperin kamu.."
"Kenapa?"
"Maaf ya, bukan maksud aku buat marahin kamu..." ucap Allan pada Rena.
Rena pun tidak bersuara, dia hanya diam dan menatap Allan lagi.
"Okey aku jujur. Aku barusan cemburu sama kamu. Aku tahu kamu kan pernah suka sama Gilang. Jadi aku masih belum percaya diri, mau gimana pun dia itu first love kamu.." ucap Allan pada Rena.
Setelah mengetahui maksud Allan berbicara dengan nada tinggi tadi. Rena pun akhirnya bisa kembali tersenyum, karena untungnya bukan karena Allan yang masih meremehkan Rena seperti dulu lagi. Tanpa bersuara Rena pun mengecup pipi Allan. Setelah itu dia langsung duduk membelakangi Allan karena merasa malu. Respon Allan pun juga langsung tersenyum setelah mendapatkan perlakuan manis Rena.
"Kok hadap sana sih, suami kamu itu disini.." ucap Allan pada Rena.
Rena pun kemudian berbalik menghadap ke arah Allan. Mereka saling bertatapan dengan senyum yang terukir.
"Udah nggak marah lagi kan? Dia itu cuman kakak Rena aja, lagian dia juga cuman menganggap Rena sebagai adik dia..." jelas Rena pada Allan.
"Udah jangan obrolin orang lain lagi. Temenin aku tidur lagi ya.." ucap Allan sambil menepuk-nepuk sisi kanannya yang masih kosong.
"Rena temenin tapi Rena duduk di kursi aja gimana?" tawar Rena pada Allan. Dia takut jika terlalu lama berada di dekat Allan, dia akan bisa mendengar detak jantungnya yang cukup keras.
"No, aku nggak mau jauh-jauh dari kamu. Apalagi seharian ini kamu tinggalin aku cuman berdua sama Fathur aja disini.." rengek Allan pada Rena.
Rena pun akhirnya menerima permintaan Allan. Ini juga sudah cukup malam, bisa-bisa nanti dia sampai di kampus terlambat jika belum tidur juga. Akhirnya Rena pun setuju dan segera berbaring di sebelah Allan. Allan pun tersenyum melihat Rena akhirnya berada pada jangkauan dia lagi.
Perlahan Allan pun memeluk Rena lagi. Dia tidak ingin Rena bisa beranjak keluar ruangan ini lagi tanpa pamit padanya. Rena yang sudah cukup mengantuk pun hanya melihat tangan Allan dan membiarkannya saja. Namun sebelum tidur Rena pun langsung mengambil handphone dia yang ada di meja.
Dia segera mengirimkan pesan untuk sus Rini, agar memberitahu anak-anak jika besok dia tidak bisa ikut mengantar. Setelah itu dia pun mengatur alarmnya dan bergegas untuk tidur. Allan pun bertanya pada Rena,
"Habis kirim chat ke siapa?"
"Ke sus Rini, kemungkinan karena Rena jam segini belum tidur, jadi kemungkinan besok Rena bangunnya telat. Jadi ya minta sus buat anterin anak-anak langsung aja nggak perlu tunggu Rena. Terus Rena juga nyalain alarm, jadi maaf ya kak kalau besok jadi kebangun karena bunyi alarm Rena..."
"Iya nggak apa-apa, berarti besok kamu perlu langsung ke kampus?"
"Kemungkinan gitu kak, kenapa?"
"Berarti kamu perlu baju ganti dong. Kalau temen kamu sampai sadar, kamu belum ganti baju. Mereka akan mikir apa coba tentang kamu?" ucap Allan pada Rena.
"Udah nggak apa-apa kak, ada banyak alasan yang bisa Rena pakai.. Udah ya ngobrolnya, Rena perlu bangun pagi.." ucap Rena dengan sedikit merengek.
"Okey.. Udah sini, kamu harus tidur. Selamat malam.." ucap Allan lalu kembali memeluk Rena.
"Malam juga kak..."
...***...