
Setelah membaca surat, Rena pun tertidur. Mungkin karena seharian ini dia sudah terlalu banyak mengeluarkan air mata, efek samping nya membuat dia tertidur kelelahan. 2 jam setelah tertidur, Rena terbangun karena mendengar tangisan Ian. Ian menangis di pojok kasur sambil memeluk foto mamanya. Tidak ada yang mendengar tangisan Ian.
Saat ini seluruh orang tengah beristirahat, tidak ada yang terbangun dari tidurnya. Bahkan sus Rini yang biasanya selalu sigap terbangun di tengah malam pun, juga masih terlelap dalam mimpi. Wajar saja, semua orang telah melakukan aktivitas dua kali lipat lebih banyak dari sebelumnya. Untungnya masih ada Rena yang masih bisa terbangun. Rena pun duduk mendekati Ian, lalu kemudian dia memeluk Ian sambil mengusap puncak kepalanya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Rena.
"Ian.. Hiks.. Mimpi, mama naik kuda ke langit. Kalau mama pergi... Ian, kak Alea sama Papa gimana kak? Ian masih mau main sama mama.. hiks.. Hiks.. Hiks.."
"Ada kak Rena. Kakak janji, kakak akan selalu ada buat Ian. Kakak yang akan main sama Ian, kak Alea dan juga Papa. Kalau sudah saatnya nanti tiba, kita juga akan ketemu mama di surga.."
"Kakak Janji? Hiks.."
"Janji, sekarang Ian tidur lagi ya. Nanti kalau semua sudah siap, kita antar mama ke rumah baru mama.."
"Iya kak, kakak peluk Ian ya. Biasanya mama selalu peluk Ian kalau Ian kebangun dari mimpi," pinta Ian.
"Okey, sambil kakak dongengkan cerita lagi ya?.."
Respon Ian pun mengangguk. Setelah itu Ian langsung mengambil buku cerita favoritnya, lalu dia berikan ke Rena. Rena pun duduk di samping tempat tidur bisa, dia mulai membacakan kisah yang ada di buku itu.
Setelah menidurkan Ian, dia berjalan keluar. Dia pergi ke kamar mandi, lalu berganti pakaian dengan pakaian bersih yang baru. Karena masih pagi buta, dia pun mencoba untuk melihat situasi yang ada di luar. Namun langkahnya berhenti di ruang tengah, dia melihat Allan yang sedari semalam belum beristirahat.
'Benar kata kak Fara, dia akan pura-pura baik-baik saja. Padahal sebenarnya dialah yang paling sedih dari yang lain..' gumam Rena dalam hati.
Rena pun berjalan keluar, dia mencari sosok Fathur di kerumunan pelayat yang datang. Saat sudah menemukan yang dicari, dia berjalan mendekatinya.
"Fathur.." panggil Rena.
Dengan otomatis dia pun berbalik mencari sumber suara. Ternyata nyonya mudanya yang memanggil, dia pun menunggu Rena untuk berbicara.
"Kamu bisa mencoba mengajak berbicara pak Allan? Saya tidak tega melihat dia seperti itu," ucap Rena.
"Bukannya saya tidak bersedia nona, hanya saja lebih baik kita menunggu semua orang datang dan siap dahulu. Lalu saya akan berbicara pada tuan, agar bisa segera di makamkan. Saya takut mengganggu tuan disaat emosi tuan sedang tidak stabil nona," jawab Fathur.
"Jam berapa pemakamannya?"
"jam 9 pagi nona," jawab Fathur.
"Oke sisa 1 jam dari sekarang, saya akan membangunkan anak-anak dan meminta semua orang bersiap." ucap Rena.
"Iya nona, saya akan tetap berjaga disini menunggu para pelayat datang."
"Kamu tau sus Rini dimana?"
Alea hanya bisa menggelengkan kepalanya, setelah itu dia menggenggam tangan Rena erat. Rena yang terkejut dan bingung pun bertanya pada Alea ada apa?
"Kamu kenapa sayang?" tanya Rena.
"Kakak nggak boleh tinggalin Alea, Ian, sama Papa ya... Hiks.. Alea takut.. Hiks..." tangis Alea pun pecah.
Tadi pagi Ian sudah tantrum seperti ini pada Rena, sekarang giliran Alea. Ian bisa dengan mudah di hibur dengan hal lain, salah satu alasannya karena dia masih cukup kecil. Namun treatment yang sama tidak bisa di berlakukan pada Alea. Dia sudah cukup besar, dia tahu mama nya sudah meninggal. Dia juga pasti sudah tahu, jika dia tidak akan bisa bertemu dan mengobrol lagi dengan sang mama. Saat ini pasti dia merasa takut, jika orang disekitar yang dia sayang juga akan meninggalkan dia.
Langkah awal Rena untuk menenangkan adalah dengan tersenyum tulus pada Alea. Dengan tujuan agar Alea tidak merasa semakin sendiri dan semakin sedih. Setelah itu, Rena mulai mengajak Alea berbicara.
"Kemarin bukannya kakak sudah berjanji? Janji harus ditepati, kakak akan selalu ada buat kamu dan yang lainnya. Alea bisa janji sama kakak juga nggak? Alea harus jadi anak dan juga kakak yang baik.." tanya Rena.
"Janji.." jawab Alea.
"Okey, kalau gitu kakak siapkan baju Alea. Alea mandi sendiri ya, sebentar lagi kita akan antar mama ke rumah baru.. Kita boleh sedih, kita boleh menangis, tapi kita nggak boleh terus-menerus sedih. Kasian mama nanti, kita harus saling menyemangati.. Okey?"
"Okey kakak.. Alea mandi dulu ya,"
Setelah Alea masuk kamar mandi, Rena pun membangunkan sus Rini dan meminta dia untuk segera menggantikan baju Ian. Setidaknya Ian sudah berganti baju, untuk mandi bisa dilakukan setelah acara pemakaman selesai. Kemudian Rena pun juga membantu keluarga yang menginap lain untuk bersiap-siap. Setelah semua sudah siap, mereka pun berkumpul di ruang tengah.
Seseorang yang bertugas memimpin jalannya pemakaman pun juga sudah tiba. Semua berdoa terlebih dahulu sebelum nantinya jenazah kak Fara di bawa ke makam. Kak Fara di makamkan dekat kompleks rumah, dengan tujuan agar kami keluarga terdekat bisa sering berkunjung.
Pagi ini mereka mengantar jenazah dengan berjalan kaki. Karena sejak dari rumah Rena sudah meminta sus Rini untuk menjaga anak-anak, fokus Rena saat di jalan adalah melihat Allan. Rena khawatir jika nanti Allan tidak sanggup untuk berjalan lagi. Ditambah karena Rena tahu sendiri bahwa sedari semalam sampai sekarang dia belum tidur.
Rena pun meminta Fathur untuk menyiapkan satu mobil untuk berjaga-jaga. Meski Fathur tidak tahu untuk apa, tapi dia pun tetap melaksanakan perintah Rena. Pandangan Rena terus tertuju pada Allan.
Usianya baru menginjak 21 tahun, tapi saat ini dia harus bisa belajar menjadi seorang ibu sambung dan istri sekaligus. Hal yang cukup berat namun harus dijalani Rena. Apalagi dia sudah berani mengambil resiko ini sedari awal. Namun dia tidak menyangka hal ini bisa terjadi secepat ini.
Proses pemakaman sudah berjalan dengan baik. Ian dan Alea juga sudah di bawa suster Rini pulang. Semua pelayat pun mulai meninggalkan makam satu persatu, menyisakan Allan, Fathur dan Rena yang masih berada di pusaran makam kak Fara. Sedari pelayat pergi hingga kini, mereka sudah berada lebih dari 2 jam di makam. Karena cukup khawatir Rena pun mencoba mendekati Allan dan mulai mengajaknya bicara.
"Pak Allan, hari sudah cukup siang. Pulang dulu yuk. Nanti sore setelah istirahat kita kesini lagi," ajak Rena.
Perlahan Rena duduk mendekati Allan, setelah selesai bicara dia pun meraih tangan Allan seraya membantu dia untuk berdiri. Namun hal yang di lakukan Allan padanya di luar dugaan.
...***...