BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 76 ( Selesai )



"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana


dengan kata yang tak sempat diucapkan


kayu kepada api yang menjadikannya abu.


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana;


dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada." 


_Sapardi Djoko Damono_


...****************...


Kehidupan mereka kini berjalan dengan baik. Sudah sama-sama saling menemukan kebahagiaan. Jika Sultan dan Nabila sudah merasakan kebahagiaan yang lengkap dengan kehadiran Bayi Sean, sedangkan Ariel dan Jeje sedang menikmati masa-masa hangat mereka sebagai pengantin baru. 


Lemburan terus, Mas Bro! Haha.


Sementara itu, calon menantu Nabila masih dalam proses, Bestie. Semoga cewek, kalau cowok ya gagal jadi mantu. 


Hari ini, Nabila sudah terlihat cantik memakai gaun berlengan panjang dengan warna nude yang membuat wanita itu terlihat kalem.  Rambutnya diikat ke atas dengan rapi dan wajahnya pun dipoles dengan sederhana. Tidak menor dan mampu menampilkan kesan elegan. 


Semua bukan tanpa rencana. Nabila sedang menyiapkan kejutan ulang tahun untuk suami tercinta. 


Ciee, Bisulan ulang tahun nih, ya. 


Sejak pagi, Nabila memang bersikap tidak peduli pada suaminya. Semua pesan atau telepon dari suaminya sengaja ia abaikan. Ia ingin sekali membuat lelaki itu terus saja merasa kesal agar kejutannya bisa berjalan dengan lancar. 


Ketika hendak ke kantor sang suami untuk memberi kejutan, Nabila tersenyum licik ketika melihat ada panggilan dari Sultan. Ia dengan santainya justru mematikan panggilan itu tanpa merasa takut jika suaminya marah nanti. 


Setelahnya, Nabila pun bergegas pergi bersama dengan Duo Mama kesayangan. Siapa lagi kalau bukan Rasya dan Zahra. 


Wanita somplak yang sekarang hanya ada di belakang layar. 


Meskipun hanya bertiga, tetapi mereka sangatlah heboh. Bahkan, selama di dalam mobil mereka terus saja bersenda gurau hingga membuat mobil itu terasa penuh seperti pasar. 


Setibanya di kantor, tujuan mereka adalah ruangan Sultan yang terletak di lantai paling atas. Nabila sungguh tidak sabar dan justru ia yang merasa deg-degan sendiri. Takut semua kejutan yang sudah disiapkan gagal total. 


Namun, ketika masuk ke ruangan Sultan, tidak ada siapa pun di sana. Padahal lilin di atas kue sudah menyala. Nabila tampak kecewa, sedangkan kedua mamanya pun berusaha menenangkan. 


Wanita itu pun segera mengambil ponsel untuk menghubungi suaminya. Namun, belum juga ia menekan icon hijau, ponselnya sudah berdering terlebih dahulu. 


"Hallo." Nabila menerima panggilan dari asisten pribadi Sultan yang sekarang menggantikan dirinya sejak hamil. 


"Nona, Tuan Sultan jatuh dan sekarang ...." 


Nabila langsung mematikan panggilan itu, dan bergegas turun meninggalkan yang lain. Apa yang dilakukan oleh Nabila pun sontak membuat Duo Mama Somplak ikut merasa  khawatir dan langsung berlari mengikuti Nabila. 


"Katakan ada apa, Na? Apa ada sesuatu hal yang terjadi kepada Sultan?" tanya Rasya cemas. 


"Katanya Sultan jatuh, Ma. Sekarang aku harus ke rumah sakit untuk memastikan." Nabila langsung keluar lift. Langkahnya terlihat sangat terburu dan raut wajahnya penuh dengan kekhawatiran. 


Nabila pun langsung berlari kencang dan memeluk lelaki itu sangat erat. Seolah takut akan kehilangannya. 


"Katanya kamu jatuh. Apa kamu baik-naik saja? Aku takut kamu kenapa-napa," ucap Nabila lirih. Suaranya terdengar serak karena menahan tangis. 


"Aku baik-baik saja. Aku memang sengaja mengerjaimu," balas Sultan sambil tersenyum tipis. Ia merasa senang karena istrinya sangat mengkhawatirkan dirinya. Itu sudah bisa menjadi bukti bahwa Nabila memang mencintainya. 


Nabila melerai pelukan tersebut dan  langsung menatap kesal ke arah suaminya. 


"Prank!!" Sultan tergelak keras sesaat sebelum akhirnya merintih karena Nabila sudah mencubit pinggangnya cukup kencang.


Sultan yakin, pasti setelah ini akan meninggalkan bekas merah seperti cu**Ng.


"Astaga, Kadal! Ini sakit! Kamu KDRT!" Sultan mengusap bekas cubitan itu untuk mengurangi rasa panas yang menjalar. 


"Rasain! Kamu nyebelin! Aku sengaja bikin kejutan buat kamu, tapi malah kamu yang bikin aku panik! Aku kesel! Dasar Bisulan nyebelin!" Nabila merajuk. 


Sultan langsung memeluk Nabila untuk meredam kekesalan wanita itu. Benar saja, Nabila langsung berhenti mengomel apalagi saat Sultan sudah mencium bibirnya, langsung membuat amarah wanita itu mereda saat itu juga. 


"Terima kasih untuk kejutannya. Aku sangat terharu," ucap Sultan lembut. Menatap mesra pada sang istri yang sangat ia cintai. 


"Sama-sama. Aku mencintaimu, Sul." Nabila mencium bibir Sultan tanpa rasa malu. Meskipun ia menjadi pusat perhatian para karyawannya. 


"Aku juga mencintaimu." Sultan membalas ciuman itu tak kalah mesra. Hal itu pun sontak mendapat sorak sorai dari mereka semua yang ada di sana. Nabila tampak malu-malu padahal biasanya wanita itu sangat memalukan. 


***


Ulang tahun Sultan digelar di rumah pribadi lelaki itu. Semua keluarga berkumpul termasuk keluarga dari sahabat Rasya. Genk Somplak sekawan. Acara itu benar-benar meriah meskipun tidak mengundang rekan kerja Sultan. 


Yang menjadi primadona di rumah itu adalah Sean. Banyak yang ingin sekali menggendong bayi itu dan menciumi dengan gemas. Walaupun penguasa tertinggi Sean adalah Rasya dan Zahra. 


Setelah acara tiup lilin dan potong kue selesai, acara dilanjut dengan makan bersama. Nabila duduk berdua dengan sang suami dalam satu meja yang dihiasi dengan lilin kecil. Hanya ada mereka berdua di meja itu. 


Agar terlihat romantis. 


Mereka pun terlihat sangat menikmati suasana itu. Bahkan, tak malu Sultan berkali-kali menciumi wajah Nabila dengan penuh cinta. 


"Terima kasih, semoga kita selalu bisa hidup bahagia. Untuk sekarang dan selamanya. Aku mencintaimu." 


"Aku juga mencintaimu, Raja di hatiku." Nabila membalas. 


Mereka pun saling memejamkan mata lalu berciuman mesra. Disusul oleh suara kembang api yang makin menambah suasana itu kian romantis. 


Namun, itu tidak berlangsung lama karena Sean sudah menangis kencang meminta digendong Nabila. Hal itu pun disambut gelakan tawa bahagia. 


Lengkap sudah kebahagiaan mereka dan akhirnya kisah ini usai. 


_Selesai_